Disclaimer: Cerita ini adalah fiksi dewasa berisi tema hubungan sesama jenis, godaan intens, dan konten romansa erotis yang hanya sesuai untuk pembaca berusia 18 tahun ke atas. Harap bijak dalam membaca.
Sinopsis:
Ali Elvano, 24 tahun, putra konglom...
Ali Elvano baru 23 tahun, tapi hidupnya sudah terasa datar seperti kopi dingin yang kelamaan ditinggal.
Lahir dari keluarga kaya raya—ayahnya pengusaha properti dan importir besar, ibunya dari garis keturunan Tionghoa kaya yang punya bisnis di sektor tekstil. Ali tumbuh di rumah besar bergaya modern di kawasan elit Jakarta Selatan, sekolah internasional sejak kecil, kuliah bisnis di Singapura, pulang langsung dikasih posisi di perusahaan keluarga. Vila pribadinya di pinggiran kota luas banget—tiga lantai, kolam renang infinity, taman yang dirawat tukang khusus setiap hari, ruang home theater, dan garasi yang muat empat mobil mewah. Semua serba ada, semua serba mudah.
Wajahnya Chinese banget: kulit sawo matang cerah yang terawat—tidak terlalu putih pucat, tapi juga jauh dari gelap seperti kulit Shuja yang terbakar matahari bertahun-tahun. Mata sipit tajam yang selalu kelihatan dingin, hidung mancung kecil, bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Rambut hitam lurus, selalu dipotong rapi di salon mahal.
Tubuhnya atletis rapi tapi tetap kurus—tinggi 170 cm, bahu proporsional, dada dan lengan terdefinisi halus dari rutinitas gym yang konsisten tapi tidak berlebihan, perut rata dengan garis otot tipis yang terlihat kalau lagi tanpa baju. Dia suka gym, tapi bukan tipe yang ngejar bulk atau six-pack keras; lebih ke menjaga bentuk tubuh tetap lean dan terawat. Boolnya bulat montok, putih mulus, jenis pantat yang lembut dan menggoda kalau dilihat dari belakang, tapi dia sendiri jarang mikirin itu karena lebih sering pakai celana tailored yang nutupin semuanya.
Ali gay, sudah tahu sejak SMA. Pasangannya selama ini selalu dari circle yang sama: cowok-cowok gym addict yang badannya six-pack, dada bidang, lengan biceps gede, kulit tan sempurna dari tanning bed, rambut undercut rapi, pakai parfum mahal, jam tangan Rolex atau AP. Mereka ketemu di klub malam elit, di event fashion, atau lewat mutual di Instagram. Ngobrolnya tentang investasi kripto, saham, liburan ke Bali atau Maldives, mobil baru. Ngentotnya rapi, teratur, pakai kondom scented, di hotel bintang lima atau apartemen penthouse—selalu bersih, selalu terkontrol.
Tapi Ali bosan. Bosan banget.
Setiap kali habis ngentot sama cowok model Instagram yang badannya berotot hasil gym dan wangi sabun hotel, dia merasa kosong. Mereka terlalu mirip dengannya: halus, terawat, terlalu sempurna. Nggak ada kasarnya, nggak ada yang mentah. Kontol mereka besar iya, tebal iya, tapi gerakannya terlalu terukur, erangannya terlalu dibuat-buat, keringatnya cuma sedikit karena AC selalu dingin. Setelah selesai, mereka langsung mandi, pakai skincare, scroll TikTok bareng, tidur pelukan yang terlalu lembut.
Ali mulai sering scroll TikTok sendirian malam-malam di kamarnya yang besar. Awalnya cuma iseng, tapi lama-lama dia notice video-video dari akun-akun laki-laki desa atau proyek bangunan. Cowok-cowok kuli pasir, kuli sawit, kuli bangunan—tubuh gelap terbakar matahari, otot keras dari kerja berat setiap hari, tangan kapalan, keringat deras ngucur di dada lebar, perut berotot alami tanpa gym. Mereka angkat karung beras 50 kilo kayak mainan, potong batang sawit dengan parang, atau angkat besi di proyek tanpa kaos, badan berkilau keringat asli.
Wanginya pasti JANTAN—asin, maskulin, campur tanah dan debu. Kontol mereka pasti tebal berat, urat-urat menonjol, kulup alami, bola zakar besar dari kerja fisik.
Ali sering berhenti scroll pas nemu video kayak gitu. Jantungnya deg-degan, kontolnya ngaceng pelan di boxer mahal. Dia bayangin gimana rasanya disentuh tangan kasar itu, digenjot keras tanpa aturan, keringat jantan netes ke badannya yang terawat dan cerah, liang anusnya dientot sampe lemes oleh cowok desa yang nggak pakai parfum tapi aroma jantannya bikin sange gila. Dia pengen sekali-sekali rasain yang mentah, yang kasar, yang beneran laki—bukan yang cuma keliatan laki di filter Instagram.
Tapi untuk sekarang, itu cuma fantasi malam-malam. Ali masih hidup di dunianya yang steril, sendirian di vila besar, nunggu sesuatu yang bisa bikin hidupnya berantakan sedikit.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
–––
Di sisi lain kota, di proyek gedung apartemen baru yang lagi dibangun di kawasan industri pinggiran, ada Shuja Sukma. Usia 29 tahun, asli Jawa Timur—lahir di desa kecil deket Probolinggo. Ayahnya petani tembakau, ibunya jualan di pasar. Waktu Shuja kelas 3 SMP, ayah ibunya meninggal kecelakaan truk saat pulang dari pasar. Saudara nggak ada, keluarga besar pun nggak cukup kuat buat ngurusin dia. Shuja nekat merantau naik bus malam ke Jakarta, bawa tas kain berisi baju ganti sama sertifikat lulus SMP. Langsung cari kerja jadi kuli bangunan—awalnya pembantu tukang, lama-lama naik jadi tukang utama.
Sekarang tubuhnya tinggi besar, 181 cm, bahu lebar, dada tebal berotot keras dari angkat semen dan besi setiap hari. Lengan penuh urat, tangan kapalan tebal, perut rata dengan garis otot alami yang dalam. Kulitnya gelap cokelat terbakar matahari bertahun-tahun, rambut hitam pendek acak-acakan, wajah tegas Jawa dengan rahang kuat, mata hitam dalam yang jarang senyum. Kontolnya tebal panjang, urat menonjol, kulup tebal alami, bola zakar besar menggantung berat di celana kerja lusuh—jenis kontol yang berat dan jantan banget, nggak pernah dipotong atau dirawat khusus.
Shuja hidup sederhana banget. Kosan kontrakan kecil di pinggir kali, kamar 3x3 meter, kasur tipis, kipas angin butut. Makan di warung nasi uduk atau pecel lele, mandi di kamar mandi umum.
Dia sebatang kara beneran—nggak punya pacar, nggak punya temen deket, cuma sesama kuli di proyek yang jadi tempat curhat. Malam-malam dia tidur cepet, capek dari kerja 12 jam, kadang mimpi tentang sawah di kampung, atau tentang punya keluarga kecil suatu hari nanti.
Shuja straight, dulu pernah pacaran sama gadis desa waktu masih di kampung. Tapi sejak merantau, fokusnya cuma kerja dan survive. Dia nggak scroll TikTok atau Instagram—HP-nya jadul, cuma buat telepon dan WA grup proyek. Dia nggak tahu kalau di dunia lain yang jauh, ada cowok kaya berwajah Chinese putih yang lagi penasaran banget sama tipe kayak dia.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Dua dunia ini masih terpisah jauh banget. Jakarta besar, jutaan orang lalu lalang setiap hari, tapi nasib belum satukan mereka.
Tapi kadang, kota ini suka mainkan kartu liar tanpa permisi.
Lanjutkan BAB 2 dengan POV : Third-Person Omniscient (seperti sekarang)
Lanjutkan BAB 2 dengan POV : First-Person (sebagai ALI)
Lanjutkan BAB 2 dengan POV : First-Person (sebagai SHUJA)