Perjanjian di Tanah Wingit
Malam itu, bulan seperti tercekik awan hitam di atas Alas Purwo. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin. Hutan itu mendadak senyap seolah alam sedang menahan napas menyaksikan dosa yang sedang dibuat.
Di tengah sebuah pelataran tanah merah, Raden Mas Pamungkas Jati bersimpuh tanpa busana selain kain jarik hitam yang melilit pinggangnya. Di depannya, sebuah cawan tembaga berisi darah ayam cemani masih mengepulkan uap amis, bercampur dengan aroma kemenyan yang membakar hidung.
"Aku tidak butuh separuh hatinya," bisik Pamungkas, suaranya parau namun penuh ambisi. "Aku ingin seluruh hidupnya, seluruh hartanya, dan seluruh napasnya hanya untukku."
Tiba-tiba, api di atas tungku dupa melonjak tinggi, mengubah warna kegelapan menjadi kuning tembaga yang mengerikan—warna yang sama dengan emas yang ia dambakan. Dari balik asap, sebuah suara parau tanpa wujud menyahut, seolah merayap masuk ke dalam gendang telinganya.
"Maharnya bukan cuma nyawa, Cah Bagus... tapi kesengsaraan abadi bagi siapa pun yang mencintainya.
Kau sanggup?"
Pamungkas menyeringai. Ia membayangkan wajah Rara Ayu Sekar Kedhaton yang begitu dipuja oleh si pemuda jelata, Jaka Wiratmaya.
Ia membayangkan betapa puasnya ia melihat Jaka hancur, sementara ia duduk di singgasana dengan Sekar di sisinya sebagai boneka cantik yang tak bernyawa.
"Sanggup," jawabnya tegas.
Ia kemudian menghunus sebuah keris tanpa sarung, lalu menyayat telapak tangannya sendiri. Darahnya menetes ke dalam cawan tembaga, bergejolak seperti air mendidih. Detik itu juga, udara di sekitarnya berubah menjadi hangat yang mencekam, warna cokelat keemasan yang aneh mulai menyelimuti pandangannya—Golden Brown.
Itu bukan cahaya surga. Itu adalah cahaya dari neraka yang ia beli dengan harga diri.
Di tempat lain, di sebuah gubuk kecil yang tenang, Jaka Wiratmaya mendadak terbangun dengan dada yang terasa dihantam palu godam.
Ia terengah-engah, memegang dadanya yang panas, tanpa tahu bahwa di detik itu juga, takdir wanita yang ia cintai baru saja digadaikan pada kegelapan.
Pesta akan segera dimulai, dan tumbal pertama telah dipilih.
ESTÁS LEYENDO
"Gugur Bunga di Singgasana Emas"
FantasíaGugur Bunga di Singgasana Emas "Cinta itu tak ternilai, namun nyawa memiliki mahar yang mematikan." Bagi dunia, Rara Ayu Sekar Kedhaton adalah pengantin paling beruntung. Ia bersanding dengan Raden Mas Pamungkas Jati, seorang bangsawan kaya raya yan...
