Ashes and Blood

582 67 59
                                        

Cerita ini ditulis untuk hiburan semata. Kesalahan penulisan dan alur yang berbelit merupakan kekurangan saya sebagai penulis.

Warn! : Incest (uncle-nephew), age-gap, pembunuhan, penyebutan rencana pembunuhan, darah, senjata, penggunaan obat-obatan terlarang, racun dan ketidakakuratan medis, adegan merokok dan adegan eksplisit tersirat.

Pembaca diharap bijak dalam memilih bacaan.

Listening Born to Die by Lana Del Rey 🎶

"We were meant for one another until we're both ashes."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Seorang pria berusia 40 tahun nampak menatap peti mati dengan tatapan datar. Wajahnya yang tidak berekspresi tergambar jelas bagai air beku yang tidak tersentuh. Ia tidak menangis, tidak memendam penyesalan maupun rasa kehilangan.

Seolah kematian seperti ini bukan yang pertama.

Choi Soobin-nama pria tersebut-terlihat membenahi lekukan gaun mayat yang terbujur kaku di dalam peti. Jasad dingin milik istrinya terlihat seperti boneka porselen yang dibalut gaun mahal dan diletakkan dalam lemari kaca mahal. Akan seperti boneka cantik yang sempurna jika saja tangannya tidak membiru karena aliran darah yang membeku.

Soobin masih saja diam di dalam gereja tua milik keluarganya yang belum ramai. Pelayat belum datang sehingga ia tidak perlu bersandiwara seolah telah kehilangan belahan jiwa. Namun suara langkah kaki yang mendekatinya membuatnya hampir waspada. Pelayat mana yang datang secepat ini?

Ia hampir menoleh sebelum indra penciumannya menangkap aroma familiar yang sangat ia kenali.

Lili putih, vanili, dan asap tembakau.

Ekspresi dingin Soobin sirna begitu saja. Terhempas dari wajahnya dan berganti dengan satu senyuman tipis ketika langkah kaki itu berhenti tepat di belakangnya.

Choi Yeonjun, pria berusia 25 tahun yang Soobin kenal baik. Laki-laki tampan dan manis yang pernah bermain di pangkuan Soobin di kala masih belia.

"Kau datang cepat." Soobin mengucapkannya dengan lembut tanpa menoleh.

"Aku keponakan yang baik, Paman. Melihat bibiku yang cantik berbaring di dalam peti matinya dengan gaun cantik sungguh menyenangkan."

Soobin membalik tubuhnya. Netranya kini melihat sepenuhnya wujud Choi Yeonjun yang diam-diam sangat ia dambakan.

"Kau lebih bahagia melihatnya dengan gaun kematian daripada gaun pernikahannya. Sungguh sangat sopan, keponakanku."

Yeonjun terkekeh. Ia mengangguk dengan pasti.

"Momen ini sayang untuk dilewatkan."

Atensi Soobin kini sepenuhnya milik sang keponakan. Ia total melupakan jasad cantik yang terbujur kaku milik istrinya. Jemarinya hendak meraih lengan Yeonjun namun Yeonjun kembali membelakanginya dengan cepat dan duduk di kursi. Membuat jemari Soobin hanya meraih kehampaan.

Pria kelahiran September itu terduduk dan menyilangkan kakinya dengan angkuh. Ia meraih satu batang rokok dari dalam saku jas Tom Ford miliknya dan menyulutnya dengan korek tepat di depan Soobin yang tak berhenti memandanginya.

Ashes and Blood (End✔️)Stories to obsess over. Discover now