Hari itu hujan turun tanpa ragu, seolah langit pun tahu bahwa rumah kami sedang belajar berduka. Aku duduk di sudut ruang tamu, memeluk lututku sendiri, sementara suara orang dewasa datang dan pergi seperti gema yang tidak benar-benar kupahami. Ada doa, ada isak, ada kalimat-kalimat penghiburan yang terdengar kosong di telingaku.
Di hadapanku, dua peti kayu terbaring berdampingan.
Aku tidak menangis.
Bukan karena aku tidak sedih, tapi karena rasanya seperti ada sesuatu di dalam dadaku yang runtuh terlalu cepat untuk diubah menjadi air mata. Ibu selalu bilang aku anak yang kuat. Ayah sering menepuk kepalaku dan berkata aku akan baik-baik saja. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apa arti “baik-baik saja”.
Semua orang menyebut nama mereka dengan suara lirih.
Ibu. Ayah.
Nama yang dulu memanggilku setiap pagi, kini hanya tinggal sebutan dalam doa.
Aku mencoba mengingat suara ibu terakhir kali—cara ia memanggil namaku saat aku berpura-pura tidur. Aku mencoba mengingat tawa ayah yang selalu datang lebih dulu sebelum tubuhnya memasuki ruangan. Tapi ingatan itu terasa seperti kabut, semakin kupegang, semakin menghilang.
Seseorang menyentuh bahuku dan berkata aku harus kuat.
Aku mengangguk, karena aku tidak tahu harus menjawab apa.
Hari itu aku belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun padaku: bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia hadir diam-diam, duduk di sampingmu, dan menolak pergi.
Setelah pemakaman, rumah kami berubah.
Dinding-dindingnya masih sama, tapi rasanya asing. Tidak ada lagi suara piring disusun tergesa di pagi hari. Tidak ada lagi langkah kaki ayah di ambang pintu. Hanya jam dinding yang berdetak terlalu keras, mengingatkanku bahwa waktu tetap berjalan meski duniaku berhenti.
Beberapa hari kemudian, aku dibawa pergi dari rumah itu.
Kata mereka, aku akan tinggal bersama tanteku. Untuk sementara, kata mereka. Kata-kata itu terdengar ringan, tapi terasa berat di hatiku. Aku menoleh ke belakang sebelum pintu ditutup, berharap rumah itu memanggilku kembali.
Ia tidak melakukannya.
Di mobil, aku menatap jalan yang basah. Aku ingin bertanya ke mana aku akan dibawa, berapa lama, dan apakah aku boleh pulang. Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Seolah suaraku ikut dikuburkan bersama orang tuaku.
Sejak hari itu, aku belajar hidup dengan diam.
Karena diam terasa lebih aman.
Karena tidak semua kehilangan ingin dibicarakan.
Dan karena sebagian luka memilih tinggal—tanpa pernah meminta izin.
ESTÁS LEYENDO
Unspoken
Novela JuvenilIa belajar tersenyum sebelum belajar berbicara. Belajar bertahan, bahkan ketika tak ada yang benar-benar mendengarkan. Sejak kecil, hidup tidak pernah ramah padanya. Tinggal di rumah sang tante, ia tumbuh dalam keheningan yang penuh luka, penolakan...
