Lee Min Ho tidak pernah menyangka akhir hidupnya akan seperti ini.
Pria yang dulu dielu-elukan sebagai pengusaha sukses itu kini duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap layar laptop dengan mata kosong. Grafik keuangan perusahaan yang dulu ia banggakan kini berubah menjadi garis merah menurun tanpa ampun.
Bangkrut.
Satu kata itu berulang-ulang berputar di kepalanya.
Telepon di atas meja bergetar lagi. Untuk kesekian kalinya hari itu, Min Ho tidak mengangkatnya. Ia sudah tahu siapa yang menelepon—bank, investor, rekan bisnis yang kini menjauh satu per satu.
“Kita sudah tidak punya waktu, Tuan,” kata sekretarisnya pagi tadi dengan suara hampir menangis.
“Kalau hari ini tidak ada kejelasan, besok aset kita disita.”
Min Ho menutup matanya.
Ia kalah.
Tiba tiba, Pintu rumahnya diketuk sore itu, pelan tapi tegas.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Setelan jasnya mahal, rambutnya rapi, sorot matanya dingin namun sopan.
“Saya datang sebagai perwakilan sebuah perusahaan,” katanya setelah duduk.
“Kami berniat membantu melunasi seluruh hutang Tuan.”
Min Ho terperanjat.
“Apa?”
“Semua hutang saya?”
“Ya. Termasuk bunga, denda, dan gugatan hukum.”
Jantung Min Ho berdetak lebih cepat. Harapan yang sudah lama mati seakan menyala kembali, meski kecil.
“Kenapa?” tanyanya hati-hati.
“Tidak ada yang membantu tanpa alasan.”
Pria itu tersenyum tipis. “Tentu saja ada syarat.”
Min Ho menghela napas panjang.
“Apa syaratnya?”
“Putri Anda,” jawab pria itu tenang.
“Harus menikah dengan pemilik perusahaan kami.”
Min Ho membeku.
“Siapa pemilik perusahaan itu?” tanyanya, nadanya berubah waspada.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia seakan memberi waktu pada Min Ho untuk bersiap mendengar nama itu.
“Nona Enami Asa.”
Sunyi.
Nama itu jatuh seperti batu ke dalam dada Min Ho.
“Asa?” bisiknya tidak percaya.
“Anak panti asuhan itu?”
“Tapi sekarang beliau memiliki belasan anak perusahaan di dalam dan luar negeri,” jawab pria itu datar.
“Dan salah satunya tertarik menyelamatkan perusahaan Anda.”
Min Ho berdiri mendadak.
“Tidak.”
“Aku menolak.”
"Apa alasan anda menolak?” tanya pria itu, masih tenang.
Min Ho menatapnya dengan mata merah.
“Karena aku tahu siapa Asa,” katanya bergetar.
“Dan aku tahu dia datang untuk mengambil putriku hidup bersama dengan dia.”
YOU ARE READING
Ikatan Paksa
FanfictionAsa menikahi Rora bukan untuk mencintai, melainkan untuk menghancurkannya perlahan-menguasai hidupnya dan memastikan Rora menyesali setiap keputusan yang pernah ia buat di masa lalu.
