Sebuah puisi tentang merelakan, tentang menerima bahwa tidak semua yang pergi harus kembali, dan tidak semua yang sakit datang untuk menetap.
Terkadang hanya dengan lewat air mata senyap kita mampu bertahan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
Di detik yang tak ku minta. Air mata memilih jatuh dalam dekap hampa. Berusaha mengetuk sunyi yang terpendam. Melewati gerusan jiwa yang rindu rumahnya. Lewat air mata aku mengukir tangis dan tawa. Lewat siulan angin, aku meredam kebisingan dunia. Tetesannya menggenang merenda doa. Mencipta kenangan yang terselubung dalam benak tanpa kata. Entah akan ku usap atau ikut hanyut bersama derasnya duka. Entah air mata ini akan pulang sementara atau untuk selamanya. Noda air mata itu membekas. Menyusuri jiwa yang renta.
Aku pernah menggenggam. Percaya seolah dunia berjanji tinggal. Namun pada akhirnya semua hanya tentang merelakan. Semesta hanya meminjamkan. Lewat kerikil ratapan yang butuh sebuah rangkulan.
Tak ada jaminan nyata yang terus hadir dalam harapan. Tangisan sunyi di sudut doa. Isak ini menua di dada. Linangan yang kadang tak lagi meminta di mengerti. Hanya pasrah, ingin kembali. Air mata tertatih. Keheningan menyergap ku. Menuntun ku. Tentang makna yang tak bisa didengar. Tak bisa dilihat. Hanya diam dalam bahasa jiwa, lewat sebuah air mata. Di setiap basah yang menetes. Air mata yang mengetuk kesadaran. Mengetuk pintu ampunan. Aku berusaha belajar membaca luka. Untuk semua yang pergi- Tidak semua untuk di sesali. Di setiap basah yang menetes. Ada ego yang ku luruhkan. Ada doa yang susah ku utarakan. Dan ada hati yang ingin pulang. Jiwa yang lebur dalam derasnya linangan. Ingin kembali bersujud. Pada arah yang lama terlupakan. Pada jalan yang tak akan menghakimi. Pada doa yang di gores tinta air mata. Sebagai alamat pulang.
Disana senja tersenyum, menyambutku seperti menadah separuh air mata yang luruh.
***
Noda air mata bukan hukuman. Melainkan guru yang datang mengajar diam-diam. Tidak ada yang pergi, hanya kau yang merasa memiliki. Semua yang pergi akan meninggalkan luka, tetapi yang ikhlas akan meninggalkan makna.