Prolog

21 1 0
                                        

Asap cerutu tipis melayang di udara ruangan bercampur dengan aroma kertas-kertas tua. Di balik meja mahoni yang besar, Aristha duduk dengan punggung tegak menatap ke arah luar jendela yang memaparkan hiruk-pikuk kota Bandung. Ia bahkan tidak sedikitpun terganggung dengan detak jam dinding yang menghitung mundur kesabaran orang lain.

Aristha beranjak dari tempatnya, mengambil secarik dokumen dan matanya yang sedingin es itu tidak beralih dari dokumen di depannya, bahkan ketika pintu kayu jati itu di ketuk.

"Masuk, " suaranya rendah, datar dan penuh otoritas seolah tak terbantahkan.

Seorang wanita melangkah ke dalam ruangan tersebut. Tara Aksara. Dia tidak datang dengan gemetar seperti yang lain ketika berhadapan dengan Aristha. Tara berdiri dengan dagu terangkat, membawa aura yang berbeda-seperti judul buku yang sulit ditebak isinya. Hanya saja, yang unik dari dirinya adalah aksesoris yang ia kenakan sepertinya di luar dari citra wajahnya.

Wanita norak. Aristha meletakkan pena emasnya, menatap dan menganalisis setiap inci seperti sedang menganalisis dokumen investigasi; sangat teliti, pragmatis dan tanpa emosi.

"Saya dengar anda sedang mencari seseorang yang bisa membaca apa yang tersirat, bukan hanya yang tersurat, Tuan Kusuma." Suara Tara memecahkan keheningan, jernih dan berani.

Aristha hanya tersenyum kecil-sangat kecil. "Di dunia saya, Aksara, kata-kata adalah senjata, " Aristha menyesap segelas minumannya, matanya terkunci pada Tara. "Dan saya tidak mempekerjakan seseorang yang tidak tahu cara menarik pelatuknya."

Tara kembali membalas senyuman Aristha, kali ini senyumnya terlihat seolah menantang orang yang berada di depannya. "Sepertinya kita berada di halaman yang sama. Karena saya tidak pernah menulis sesuatu yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan."

Keheningan kembali menyelimuti suasana ruangan tersebut. Ada sebuah permainan catur yang baru saja dimulai. Aristha tipikal manusia yang tidak percaya takdir, dia percaya dengan adanya kendali-rasa puas dengan mengendalikan seseorang. Namun saat menatap mata Tara yang tenang, untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang akan lepas dari genggamannya.

Di Balik Tanda TitikCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang