Sinar matahari siang menembus tirai ruang keluarga, memantul di lantai yang hangat. Suasana rumah terasa hidup, tidak ramai, tapi penuh keberadaan. Aroma teh hangat masih tercium samar dari meja kecil di sudut ruangan.
Di tengah ruang keluarga, Rora duduk bersila di atas karpet, potongan puzzle berserakan di depannya. Wajah kecilnya tampak cemberut, alisnya mengerut lucu.
Di seberangnya, Jisoo duduk santai dengan satu kaki ditekuk, potongan puzzle di tangannya, ekspresi sok serius.
“Papi yakin ini masuknya di sini,” katanya dengan penuh percaya diri, lalu menekan potongan itu ke tempat yang salah.
Rora menatapnya. Lama. “Itu kuping kucing, Pi,” katanya datar.
Jisoo berhenti. Menatap potongan itu, lalu menatap gambar di kotak puzzle.
“Oh.”
Rora menghela napas panjang, sangat dramatis untuk anak seusianya.
“Papi itu, tuh…” ia menunjuk Jisoo, “sok tau.”
Jennie yang duduk bersandar di sofa, memperhatikan mereka sambil menyilangkan tangannya, langsung mendengus kecil menahan tawa.
“Makanya jangan sok jago,” katanya santai. “Dari tadi salah terus.”
Jisoo melirik Jennie, pura-pura tersinggung.
“Eh, aku tuh cuma ngetes kesabaran anak kita.”
Rora langsung menoleh cepat. “Bohong. Papi emang salah, jangan alasan deh.”
Jisoo terkekeh, lalu mengacak rambut Rora pelan.
“Iya, iya… Papi salah.”
Rora tersenyum puas, lalu kembali menyusun puzzle dengan lebih semangat. Jennie memandangi mereka berdua. Ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Pemandangan ini sederhana, tapi terasa sangat berharga. Namun, bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Jennie mengangkat wajahnya. “Siapa ya?”
Jisoo mengangkat bahu. “Aku juga nggak tau.”
“Biar Aku aja yang buka pintu,” ujar Jennie sambil berdiri.
Rora masih sibuk dengan puzzlenya, sementara Jisoo bersandar ke sofa, satu tangan menopang tubuh kecil Rora agar tetap duduk nyaman.
Jennie membuka pintu dan seketika, wajahnya berubah sedikit kaku. Di hadapannya berdiri Jinwook, dengan senyum khasnya yang yang menyebalkan.
Di sampingnya, Karina berdiri dengan sikap lebih tenang, mengenakan gaun sederhana, dan rambut tergerai rapih.
“Kalian?” Jennie menyipitkan mata sedikit.
Jinwook mengangkat tangan kecil, seperti menyapa santai. “Wah, lama nggak ketemu. Masih cantik aja.”
Jennie mendengus pelan. “Ngapain ke sini?”
Jinwook melirik ke dalam rumah. “Boleh masuk dulu nggak? Masa tamu di tanya-tanya di depan pintu.”
Jennie menimbang sebentar, lalu menghela napas.
“Masuk.”
Begitu mereka masuk, Rora langsung menoleh. Matanya membesar sedikit, menatap dua orang asing itu. Jisoo yang melihat ekspresi Jennie langsung tahu, tamu tidak diundang.
“Siapa?” tanya Jisoo, datar.
Jinwook menyeringai. “Wah, masih inget gue, kan? Musuh bebuyutan lo.”
