DISCLAIMER :
Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiksi dan tidak ada sangkut paut dengan kehidupan pribadi seseorang. Apabila penulis melampirkan suatu dokumentasi, itu semata mata hanya untuk menambah visualisasi pembaca.
BIJAKLAH DALAM MEMBACA!!
Happy Reading ♡
...
HIMARI GARDEN
'Untuk seseorang yang mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki.'
Kedua lelaki itu membisu, membiarkan pandangan mereka terhenti pada kalimat akhir yang terukir pada plang kayu di bawah pohon besar itu. Angin berembus pelan namun tak mampu mengusir sesak yang memenuhi dada mereka, karena setiap kata di sana terasa seperti mengoyak luka yang belum benar-benar sembuh.
"Simpen gak sih tu buket?" Ujar Gigan - lelaki berhoodie abu, sambil mendelik risih.
"Kenapa sih lu? ngegas terus kebiasaan." Satria - lelaki berkemeja putih itu menjawab tak kalah nyolot, namun ia menurut dan lekas menyimpan buket bunga matahari itu dibawah pohon.
"Ya mikir aja, nyet! Lu disebelah gua pake kemeja so rapi gitu sambil pegang buket, orang bakal nyangka apa coba?"
Satria berdecak, "orang nyangka lu supir yang lagi nganter majikannya ngapel." celetuknya lantas melangkah meninggalkan Gigan dan duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
"Si monyet." umpat Gigan sambil ikut duduk di bangku taman itu. "Aya cewe gua, btw."
Satria terdiam tanpa menjawab. Untuk kesekian kalinya, ia memilih larut dalam keheningan yang membentang di antara mereka. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku taman, lalu mendongakkan kepala, membiarkan pandangannya tersesat di balik rimbunnya dedaunan yang menaungi langit senja.
"Nyesel juga gue. Dulu Aya sering ngajak main ke sini, tapi gue malah sibuk nyari alasan buat nolak," ujar Gigan tiba-tiba. Sudut bibirnya terangkat tipis, menghadirkan senyum yang lebih mirip penyesalan. "Padahal tempat ini enak... adem."
"Lu kan emang nggak becus," sahut Satria datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari pucuk-pucuk pohon.
Alih-alih tersinggung, Gigan hanya menundukkan kepala. Ia mengembuskan napas pelan sebelum berucap lirih,
"Iya... emang."
Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Hanya desir angin yang memainkan dedaunan, seolah ikut mengenang seseorang yang pernah memenuhi tempat itu dengan tawa.
Beberapa saat kemudian, Satria akhirnya membuka suara.
"Aya pernah bilang..." ucapnya pelan, nyaris berbisik. "Manusia nggak benar-benar pergi selama masih hidup dalam kenangan orang yang mencintainya."
Gigan mengembuskan napas pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Lu tau nggak hal apa yang sebenernya paling nyiksa?" tanya Gigan pelan.
Satria melirik sekilas. "Apa?"
"Bukan pas dia pergi." Gigan mengembuskan napas panjang. "Tapi pas gue sadar... kenangan tentang dia mulai pelan-pelan memudar."
Satria terdiam.
"Dulu gue masih bisa ingat jelas cara dia ngomel, cara dia ketawa, bahkan ekspresi mukanya kalau lagi ngambek." Gigan tersenyum hambar. "Sekarang semuanya mulai samar."
Beberapa saat berlalu sebelum Satria akhirnya menjawab.
"Makanya gue nggak pernah hapus chat atau voicemail dari Aya."
Gigan menoleh.
"Kadang gue putar lagi... cuma buat ngingetin diri sendiri kalau dia pernah benar-benar ada." lanjutnya.
"Gue malah kebalikannya, Sat."
"Maksudnya?"
"Gue nggak pernah berani buka lagi semuanya. Takut... kalau ternyata yang paling gue rinduin sekarang cuma bayangan tentang dia."
Keheningan kembali mengambil alih. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang menaungi bangku taman tempat mereka duduk. Satria memungut sehelai daun yang jatuh di dekat sepatunya. "Aya pasti kesel kalau lihat kita murung begini." ucapnya sambil memainkan daun kering itu dengan ujung jarinya.
Gigan terkekeh kecil."Pasti."
"'Udah, jangan bikin suasana kayak lagi syuting sinetron,'" Gigan menirukan nada bicara Ayana seakurat yang masih ia ingat.
Satria spontan tertawa. "abis ngomong gitu dia sendiri yang ketawa paling keras, terus maksa kita beli es krim."
"Padahal ujung-ujungnya kita juga yang bayarin." sambung Gigan.
Tawa kecil mereka mengalun singkat.
Tak lama.
Namun cukup untuk membuat taman itu terasa sedikit lebih hidup.
Seolah Ayana masih duduk di antara mereka, menggeleng sambil mengomel karena kedua lelaki itu kembali membahas dirinya.
Senyum di wajah keduanya perlahan memudar, menyisakan keheningan yang kali ini tidak lagi terasa sesak.
Satria bangkit lebih dulu. "Yuk."
Gigan mengangguk pelan, lalu ikut berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Kita ke sini lagi tahun depan?"
Satria menatap plang kayu itu sesaat. "Liat aja nanti."
Gigan terkekeh pelan. "Jawaban lu nggak pernah berubah, Sat Bangsatt."
"Kalau jawabannya iya, nanti takutnya nggak kesampaian jir."
Keduanya sama-sama terdiam.
"Aya pasti bakal bilang kita kebanyakan mikir."
"Iya."
"Padahal hidup ya... dijalanin aja."
Untuk pertama kalinya sore itu, keduanya tersenyum bersamaan.
Lalu mereka berbalik dan berjalan meninggalkan taman.
Di belakang mereka, senja perlahan tenggelam, sementara angin membawa aroma tanah basah yang selalu mengingatkan mereka pada seseorang yang pernah mengisi tempat itu dengan tawa.
...
see you bby
YOU ARE READING
Prosa Cinta : Jilid 1
RomanceTak semua cinta lahir dari kata-kata. Sebagiannya tumbuh dari pertemuan yang sederhana, dari waktu yang perlahan mengubah asing menjadi akrab, lalu akrab menjadi kenangan. Dan seperti sebuah prosa, setiap kisah memiliki awal, jeda, dan akhir. Yang m...
