04

133 29 12
                                        

Riku baru selesai mandi ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Sekali, dua kali, tiga kali. Berturut-turut. Lalu tiba-tiba orang yang menekan bel itu mulai mengetuk-ngetuk tidak sabaran, seperti orang mengetuk dengan tergesa.

Riku spontan membeku. Apa sih!?

Om Johnny kah? Baru setengah delapan malam? Di malam jumat yang seharusnya dia bersama keluarganya?

Lelaki itu memang pernah bilang kalau ia akan mendatangi Riku nanti. Nanti, nanti. Tapi tidak pernah betul-betul menampakkan diri. Belakangan ini dia memang selalu sibuk, dan juga soal pertengkarannya dengan anak tirinya yang sering terjadi di dalam rumah itu.

Tapi entah bagaimana ia selalu bisa menyempatkan diri untuk datang pada Riku, sekedar melepas penat, sekedar mencari kenyamanan yang katanya cuma bisa Riku yang memberi. Padahal Riku sudah beberapa kali menolaknya, dia sedang tidak ingin melakukan apapun, tidak ingin bertemu siapapun. Benar-benar tidak dalam mood untuk meladeni siapapun, apalagi dia.

Tapi Riku tidak mengira laki-laki itu akan datang secepat ini. Biasanya Johnny Suh hanya berhenti di percakapan singkat di chat, berjanji akan datang, tapi ujung-ujungnya menghilang, memilih kembali pada keluarganya dan meninggalkan Riku dengan janji kosong yang sama setiap kali.

Kalau dia menepati janjinya datang seperti ini, mungkin dia punya sesuatu hal yang penting. Jangan-jangan dia sudah tahu sesuatu, jangan-jangan Son Hyunwoo itu sudah memberitahu dia kalau Riku menjadi pelanggannya minggu lalu.

Bel berbunyi lagi.

"...shit,"

Riku buru-buru memakai kaus longsleeve kebesaran yang tipis dan celana pendek, rambutnya masih basah menetes ke leher. Pinggangnya sebenarnya sudah tidak sakit sejak beberapa hari lalu, syukurlah. Terima kasih kepada lelaki aneh yang memaksanya ke dokter waktu itu.

Dia meraih gagang pintu dengan ragu.

"Om, aku..."

Begitu pintu terbuka, yang berdiri di hadapannya bukanlah pria paruh baya itu.

Tapi lelaki muda dengan hoodie abu-abu, dia melepaskan tudung hoodie dan Riku melihat rambutnya sedikit berantakan, dan raut wajah yang... capek?

Oh Sion berdiri di depan pintu kamar Riku dengan ekspresi datar andalannya.

"Kamu..." Riku mengerjap, "ngapain di sini?"

Sion sama terkejutnya melihat kondisi Riku yang jelas-jelas baru mandi, rambut basah, wangi enak sabun yang menguar dari tubuhnya.

"Kita ada tugas kurang dari dua minggu lagi, ingat? Kamu gak buka chat. Aku sekalian lewat sini juga habis..." Sion memenggal ucapannya sendiri.

Habis apa?

"Pokoknya begitu, ya sudah, aku mampir aja sekalian."

Riku reflek mundur setengah langkah. Leganya bukan main, karena itu bukan Johnny.

"Masuk aja,"

Riku menyilakan pemuda yang berdiri lurus-lurus di depannya itu untuk masuk.

Sion melangkah perlahan ke dalam, menurunkan ranselnya yang sejak tadi menyampir di bahu kirinya, dipegangnya tali ransel itu sambil dia melirik sekitar apartemen besar itu. Rapi, bersih, harum, tapi terasa sepi. Bau sabun mandi Riku masih menyebar di udara.

"Kamu habis mandi?" Sion bertanya datar.

"Kelihatan banget, ya?"

Sion mengangguk tipis. Ditiliknya Riku atas ke bawah, bawah ke atas.

Riku menggigit dalam pipinya menghadapi tatapan cowok itu. Kenapa sih dia suka sekali meneliti orang dari atas sampai bawah begitu?!

Baru saja mereka duduk di atas karpet lantai dekat meja di ruang tamu apartemen Riku, ponsel Sion berdering.

wrongWhere stories live. Discover now