Kringgg kringgg
Suara gemerincing payal menggema di tengah kesunyian hutan. Seorang gadis terlihat berjalan perlahan menuju sungai, sambil membawa sebuah kendi di atas kepalanya.
Sesekali ia bersenandung kecil, seolah sedang menikmati keindahan hutan yang ia lalui seorang diri.
Tanpa ia sadari...
Swiishhh
Hening... Hanya ada suara angin berhembus yang membuat suasana terdengar sedikit mencekam. Gadis itu terdiam kaku dengan menahan nafas, seolah takut jika ia bernafas dan bergerak sedikit saja, ujung pedang itu akan menggores lehernya, ah tidak, tapi memisahkan kepalanya dari lehernya.
"Siapa kau?" suara berat akhirnya terdengar, memecah keheningan saat itu.
Tanpa menoleh, sang gadis membalas dengan sedikit terbata, "H-harusnya aku yang bertanya, siapa kau?"
"Aku tidak pernah melihat seorang pun di sekitar sini, siapa kau? A-apa kau seorang mata-mata?" pertanyaan beruntun dilontarkan oleh gadis itu, dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aku bukan mata-mata, tapi dirimu. Ayo mengaku saja, siapa yang memerintahkanmu untuk mematai-matai kami!"
"Apa-apaan orang ini, buat apa aku memata-mataimu sialan, kurang kerjaan saja."
Ntah dapat keberanian darimana, ia dengan cepat berbalik dan menendang keras bagian istimewa di tengah paha pria aneh itu.
"Arghhh," suara teriakan yang beradu antara mereka berdua begitu besar. Si gadis memegangi lehernya yang tergores ujung pedang, dan si pria yang tengah berjongkok sambil memegangi bagian bawah perutnya yang terasa ngilu sekaligus sakit.
"Sialan, apa yang kau lakukan gadis aneh, berani sekali kau!" ucapnya dengan suara tertahan, si gadis sedikit meringis menatapnya. Pasti itu ngilu banget.
"Hei tuan, kau sangat kurang ajar ya, beraninya menghunuskan pedang pada seorang wanita lemah sepertiku. Wanita tanpa senjata, hanya membawa kendi untuk mengisi air, itupun sudah hancur akibat ulahmu!"
"Dan ya, kau juga menuduhku sebagai mata-mata. Kau pikir aku punya banyak waktu untuk memata-matai pria aneh sepertimu? Huh yang benar saja."
"Kau tidak sepenting itu, Tuan," pria itu terdiam mendengar semua ucapannya, sesekali ia melirik gadis yang sedang berjongkok untuk mengumpul pecahan kendinya yang telah hancur. Apakah dia sudah salah paham?
Setelah mengumpulkan semua pecahan kendinya, ia lekas berdiri dan berjalan hendak meninggalkan pria itu. Tapi sebelum langkahnya lebih jauh, pria itu berteriak.
"Siapakah engkau, wahai wanita aneh?"
Ia berhenti, menoleh ke belakang dan menatap tajam pria yang memanggilnya wanita aneh itu.
"Aku Chhaya, bukan wanita aneh!" Chhaya lalu berbalik, melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti, tanpa memperdulikan pria di belakangnya.
Pria itu terkekeh pelan, memperhatikan Chhaya yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
"Galak sekali."
***
Dengan langkah cepat, Chhaya berjalan menuju rumahnya. Dirinya begitu takut, dia sangat menghindari orang asing yang muncul di sekitaran hutan itu. Dia sangat takut, jika orang asing itu adalah seorang mata-mata yang dikirim untuknya.
Sesampainya di rumah, Chhaya segera mengobati lehernya yang terluka. Hari ini begitu sial untuknya, bagaimana tidak, dia hanya berniat untuk mengambil air di sungai, tapi malah hampir mati ditangan orang aneh tadi.
"Wahh, gila sih, hampir aja aku jadi ubi. Untung aja aku punya jurus andalan," Chhaya menarik nafas lega, ia berharap orang asing tadi bukanlah mata-mata, hanya seseorang yang sekedar lewat biasa.
"Huaaa, haus banget aku tuh, mana airku udah abis. Terpaksa aku puasa minum hari ini," ia hanya bisa meratapi dirinya yang seolah-olah sangat dicintai oleh kemalangan.
Sebenarnya ia sudah sangat lelah hidup di dunia ini. Dunia yang sangat berbeda 180° dari dunia asalnya. Hanya nasibnya saja yang tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama menjadi anak yang tidak diinginkan, dan hidup sebatang kara. Di dunia asalnya, Chhaya masih bisa hidup nyaman di rumah pemberian orang tuanya. Ya walaupun dia bukanlah anak yang diharapkan, setidaknya orang tuanya masih memberikan tempat tinggal yang layak, walau dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Jangan berpikir jika Chhaya mendapatkan uang bulanan dari orang tuanya, tapi tak apa, diberi rumah saja dia sudah sangat bersyukur.
Tapi tak ayal, dia juga ingin merasakan hidup seperti yang anak-anak lain rasakan, disayangi Ibu dan Ayah. Diberi nafkah, bukan yang mencari nafkah, dan juga tinggal seatap dengan keluarganya. Rasanya pasti sangat menyenangkan, bukan?
Dan di dunia ini, hidupnya tidak jauh berbeda, tapi ini sedikit lebih buruk. Ada ingatan yang muncul dari pemilik asli tubuh yang ia tempati saat ini, Chhaya sudah kehilangan Ibunya diumur yang sangat muda, mungkin usianya sekitar 7 atau 8 tahun? Dan jadilah sekarang, ia menjadi sebatang kara yang tinggal di tengah hutan, yang jarang, bahkan sangat jarang dilewati orang. Tapi semua itu ada alasannya, alasan untuk bertahan hidup, ia harus hidup dalam kesepian dan kesedihan selama ini, hanya untuk keselamatan dirinya sendiri.
"Tuhan, aku berharap bisa merasa bahagia, walau hanya sebentar saja. Apakah aku bisa?"
"Berilah aku kebahagiaan, sekali atau dua kali saja. Setidaknya aku pernah bahagia dalam hidup ini, biar gak ngenes-ngenes banget rasanya."
Dibalik tembok rumah jerami miliknya, tanpa Chhaya sadari, ada sepasang mata jernih yang sedang memperhatikan dirinya, dan semua tingkah serta ucapannya tak luput dari pandangannya.
"Bersabarlah, wahai Chhaya, tunggulah sebentar lagi."
***
Hii guys, ini adalah cerita pertama yang berani aku publish. Dan aku harap, kalian bisa menikmati ceritanya ya.
Jangan lupa vote dan komen yaa, see u in the next chapter, byee❤
YOU ARE READING
Mengubah Takdir
Historical Fiction"Aku terlahir dari sebuah bara dendam, terlahir dengan cara yang tidak diharapkan. Aku diibaratkan sebuah kegagalan yang tanpa sengaja dibalut keberuntungan." "Mungkin takdirku memang seperti ini, selalu hidup seperti bayangan, di mana pun aku mengi...
