Rindu yang tak punya hak

102 19 0
                                        


Usia dua puluh empat seharusnya terasa dewasa.

Nyatanya, aku masih kalah oleh perasaan yang bahkan tak berani kusebutkan namanya.

Pagi ini aku bangun dengan dada sesak—perasaan yang sama seperti kemarin, dan entah sudah berapa ratus pagi sebelumnya. Tanganku refleks meraih ponsel, membuka chat yang seharusnya tak lagi ada di daftar. Namanya masih tersimpan. Fotonya masih sama. Senyumnya masih membuatku lupa alasan kenapa kami berakhir.

Aku menutup layar cepat-cepat.

Tidak boleh.

Ting! - notifikasi dari kontak bernama "Jungwooku"

Semangat kerjanya hari ini sayang

"Aku capek," gumamku pelan, 
Bukan capek bekerja. Bukan capek menjalani hidup.
Aku capek berpura-pura baik-baik saja.

Jungwoo, pacarku. Pria baik, terlalu baik untuk seseorang yang hatinya setengah tertinggal di masa lalu sepertiku. Dia selalu hadir, selalu sabar, selalu bertanya apakah aku sudah makan. Dan setiap kali ponselku bergetar karena namanya, ada rasa bersalah yang menekan dadaku.

Karena yang aku tunggu... bukan dia.

Setiap hari aku berkata pada diriku sendiri: bertahanlah. Usia dua puluh empat bukan usia untuk main-main dengan perasaan. Orang-orang bilang aku harus bersyukur masih ada yang mau mencintaiku dengan sungguh-sungguh. Mereka bilang, mantan itu masa lalu— masa lalu yang tidak pantas diharapkan. 

Masalahnya lubuk hatiku yang paling dalam masih berharap, sejak perpisahan 3 tahun yang lalu dengan Jeno. Perpisahan yang tidak bisa aku terima hingga detik ini, walaupun bukan perpisahan sepihak atau penghianatan. Terkadang berpisah baik-baik justru lebih menyakitkan karena harus mencari ribuan alasan untuk melupakannya.

Yang paling menyakitkan bukan hanya perpisahan.
Tapi kenyataan bahwa aku masih mengingatnya...
sementara aku sedang berusaha membangun masa depan dengan orang lain.

***

Sorai coffeshop, 

"Duduk disana?"

Jantungku berdegub kencang saat ku dengar suara itu,

Aku ingat suaramu.

Aku -yang duduk tidak jauh dari dekat pintu bersama teman-teman kerja ku sepulang kerja- menoleh, mencari sumber suara. 

"Ada apa, Rin?" Tanya Ningning

Aku kaget dan memasang senyum, "eh?oh! gapapa" 

Coffeeshop yang ramai, bahkan untuk mendengarkan suara Ningning, Ryujin, Wonyoung, Sunghoon, dan Haechan saja tidak cukup jelas teredam oleh suara musik dan pengunjung lain, tetapi mengapa suara itu jelas sekali? 

Ah, mungkin aku halusinasi.

Ponselku berdering, Pria baru yang mewarnai hidupku menelpon.

"Sudah pulang yang?" Tanya Jungwoo oppa

"Belum, kenapa sayang?"

"Aku lagi dijalan, mau sekalian ku jemput?"

"Mauuu" jawabku antusias - lalu telpon dimatikan. 

"Guys cintaku sayangku pujaan hatiku mau jemput, balik dulu ya" pamitku sembari membereskan isi tas.

"Dihh, gosipnya baru 80% nih" celetuk Haechan

Aku tertawa, "Ryujin, CTRL+C"

Ryujin memutar kedua bola matanya, "males"

Tak memperdulikan mereka lagi, aku keluar dari coffeeshop tersebut, dan Pria tinggi putih tampan kaya raya sudah  berdiri didepan mobil KIA K7 berwarna hitam

Tak memperdulikan mereka lagi, aku keluar dari coffeeshop tersebut, dan Pria tinggi putih tampan kaya raya sudah  berdiri didepan mobil KIA K7 berwarna hitam

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Senyumku mengambang, berlari kecil menuju ke arahnya, "SAYAAAANG"

Pria itu merentangkan tangannya, senyumnya ikut mengambang, ku lihat wajah lelah tampak hilang,

Kami saling bertaut -berpelukan-

Dalam dekapannya, sudut mataku menangkap jelas sosok "itu" yang membuatku tanpa sadar melepas pelukan kami.

"Ada apa?" Tanya Jungwoo oppa heran

Tak memperdulikan pertanyaannya, aku masih fokus menatap wajah yang selalu aku rindukan, mata kami saling memandang dalam kejauhan. 

Disana, Jeno berdiri.

Disana, Jeno berdiri

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


LINGKAR YANG TAK USAI | Karina AespaStories to obsess over. Discover now