"Hari ini adalah hari anniversary ke tiga tahun, aku akan memberikan kejutan. Pasti Daren sangat senang."
Lalu, Liora mendorong pintu ruang kerja suaminya tapi pintu terbuka setengah.
Degh!
Dunia seakan hancur, Liora refleks membekap mulutnya saat matanya menangkap pemandangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Camelia-sahabatnya sendiri-duduk di atas pangkuan Daren. Sementara tangan Daren, suaminya tengah mencengkeram pinggang wanita itu, bibir mereka saling bertaut dalam ciuman panas. Tanpa menyadari kehadirannya.
"Ca-camelia?" lirih Liora bergetar, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Daren ....?"
Kotak hadiah di tangan Liora terlepas, jatuh ke lantai. Air mata Liora mengalir tanpa bisa ditahan.
"Ah, Daren! Kapan kamu akan menceraikan Liora?" tanya Camelia sambil memejamkan mata menikmati sentuhan lelaki itu.
"Tunggu waktu yang tepat! Tenang saja, aku hanya mencintaimu. Liora hanya pengganti! Aku menikahinya karena wajah Liora hampir mirip denganmu. Selama tiga tahun ini aku menjaga tubuhku, hatiku, hanya untuk kamu, Camelia ...."
Bagai tersambar petir di siang bolong kala Liora mendengar ucapan suaminya.
"Jadi ... aku hanya pengganti?" Liora berkata dalam hati. "Jahat sekali mereka," bisiknya, nyaris tak terdengar. Liora menggeleng, mundur selangkah lalu berbalik kemudian berlari menuju lift.
Begitu pintu lift tertutup-kakinya melemas. Isaknya pecah, dadanya terasa sesak seolah diremas dari dalam.
Begitu tiba di lantai dasar, Liora berlari keluar gedung tanpa arah hingga sampai di jalan besar. Tak lama sebuah taksi melintas, ia pun menghentikannya.
Sepanjang perjalanan, ia menangis tanpa suara. "Tega sekali kamu, Daren!" gumamnya.
"Jadi ini alasanmu, dan bilang kamu sibuk di kantor!'' kedua tangan Liora mengepal.
"Dan kamu Camelia, selama ini aku menganggapmu layaknya saudara sendiri. Aku curhat semuanya. Tapi, kamu malah menusukku dari belakang!" geram Liora, tak rela. Tapi, sekarang dia telah kehilangan keduanya.
Sesampainya di rumah, pintu baru saja tertutup; lalu terdengar suara Martina menyambutnya dari ruangan tengah.
"Dari mana saja kamu? Baru pulang jam segini?!"
Liora menoleh dengan mata merah.
"Bu ... aku sedang tidak ingin berdebat!"
"Apa katamu?!" Martina mendengus. "Kamu itu menantu yang tidak berguna! Kamu itu wanita mandul! Sudah tak bisa memberi cucu, masih berkeliaran di luar!"
Kata 'Mandul' kembali menghantam tepat di dada Liora. "Aku tidak mandul, Bu." suaranya bergetar, ia merasa yakin.
"Kalau begitu kenapa sudah menikah 3 tahun dengan putraku, kau masih belum juga memberikan cucu?!" Martina menunjuknya tajam.
Liora tak sanggup menjawab. Ia berlari ke kamar, mengunci pintu, lalu menjatuhkan diri di lantai.
Tangisnya pecah, tanpa sadar waktu berlalu cepat. Di luar, nampak senja telah berganti malam.
Beberapa jam kemudian, Liora berada di sebuah klub malam. Lampu remang, musik menghentak. Banyak muda-mudi tengah asyik berjoget di lantai dansa, tetapi tidak dengan Liora.
Liora meneguk minumannya yang akan membuatnya mabuk. "Memang aku yang bodoh, terlalu terlena pada lelaki bajingan itu."
Kepala Liora mulai pusing, ia memegangi kepalanya. Lalu, Dia berjalan dengan pandangan kabur, tanpa sadar melangkah ke arah yang salah.
YOU ARE READING
Cinta Terlarang Dengan Kakak Iparku
ActionSelama tiga tahun pernikahan, Liora hidup dalam hubungan yang dingin tanpa cinta. Suaminya mengabaikannya, ibu mertuanya terus menekannya, dan ia dipaksa selalu mengalah demi menjaga nama baik keluarga. Hingga suatu malam menjadi titik balik hidupny...
