Bab 1: Senja yang Terhenti

6 1 0
                                        

Nabila Anastasya Malik, atau yang lebih akrab disapa Tasya, bukanlah gadis biasa yang luput dari perhatian. Sebagai putri tunggal dari keluarga Malik yang terpandang, setiap gerak-geriknya seolah menjadi standar keanggunan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan hiruk pikuk klakson kendaraan. Tasya baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya di fakultas hukum dengan perasaan yang sangat ringan.

Ia berjalan menyusuri trotoar kampus dengan langkah yang santai, sesekali membalas sapaan rekan-rekannya dengan senyum manis yang tulus. Tasya dikenal sebagai sosok yang rendah hati meskipun ayahnya adalah seorang pengusaha properti ternama.

Tasya merogoh tasnya, mencari ponsel untuk mengabari sopir pribadinya bahwa ia akan pulang sedikit lebih lambat karena ingin berjalan kaki ke kedai kopi di seberang jalan. Namun, ia menyadari baterai ponselnya telah habis total, menyisakan layar hitam yang membisu.

Tanpa rasa curiga, ia berdiri di tepi jalan raya yang padat, menunggu lampu penyeberangan berubah warna. Angin sore memainkan helaian rambut panjangnya yang hitam kecokelatan, menambah kesan anggun pada sosok mahasiswi berusia 20 tahun itu.

Pikirannya melayang pada rencana makan malam keluarga yang telah dijanjikan sang ayah. Ia merasa sangat bahagia karena belakangan ini ayahnya jarang memiliki waktu luang untuk sekadar makan bersama.

Lampu hijau bagi pejalan kaki akhirnya menyala, dan Tasya melangkahkan kakinya dengan penuh keyakinan. Ia tidak menyadari bahwa dari arah belokan, sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi melampaui batas kewajaran.

Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal membelah kebisingan kota dalam sekejap. Tasya menoleh, matanya membelalak lebar melihat moncong mobil yang hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.

Waktu seolah melambat bagi Tasya; ia melihat debu yang terbang dan ekspresi panik pengemudi di balik kaca mobil. Namun, tubuhnya terasa kaku, terpaku pada aspal yang dingin seolah tak bisa diperintah untuk menghindar.

Benturan keras tak terelakkan, membuat tubuh mungil itu terlempar beberapa meter sebelum akhirnya menghantam aspal dengan suara yang mengerikan. Dunia di sekitar Tasya seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan denging panjang di telinganya.

Kerumunan orang mulai berlarian mendekat, suara teriakan histeris memanggil ambulans terdengar samar di kejauhan. Tasya masih bisa melihat langit jingga itu, namun perlahan warna tersebut memudar menjadi abu-abu dan akhirnya gelap total.

Anehnya, dalam kegelapan itu, Tasya merasa seolah ia sedang melayang keluar dari sesuatu yang sangat berat. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya berdiri di tengah kerumunan orang yang sedang mengelilingi sebuah tubuh.

"Siapa itu?" bisiknya pada diri sendiri, mencoba menerobos kerumunan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Jantungnya berdegup kencang saat melihat seorang gadis dengan pakaian yang persis sama dengannya terkapar bersimbah darah.

Gadis itu adalah dirinya sendiri; Nabila Anastasya Malik yang malang, kini tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi. Tasya mencoba menyentuh lengannya sendiri, namun tangannya justru menembus raga yang terbaring itu seolah ia hanyalah udara.

Ia mencoba berteriak meminta tolong kepada orang-orang di sekitarnya, tetapi tak ada satu pun yang menoleh. Mereka semua sibuk menaruh simpati pada tubuh di aspal, tanpa menyadari pemilik jiwa itu berdiri tepat di samping mereka.

Ambulans datang dengan sirine yang memekakkan telinga, petugas medis dengan cekatan mengangkat tubuh Tasya ke atas tandu. Tasya ikut naik ke dalam ambulans, duduk di pojok ruangan sempit itu sambil memandangi wajahnya yang kini terpasang masker oksigen.

KOMAWhere stories live. Discover now