Setiap pagi, Sasa selalu berangkat sekolah bersama sahabat sejatinya, Shima. Mereka berdua sudah seperti saudara. Naik motor yang sama, tertawa di jalan, kadang mengeluh soal tugas, kadang diam menikmati pagi.
“Sa, hari ini jangan lupa ambil kartu ujian ya,” ujar Shima sambil mengenakan helm.
“Iya, aku ingat kok,” jawab Sasa singkat.
Sasa memang tidak pernah telat. Ia selalu datang tepat waktu, bahkan sering lebih awal. Banyak teman sekelas, bahkan kakak kelas, yang diam-diam menyukainya. Wajar saja—Sasa cantik dengan caranya sendiri. Sederhana, bersih, dan tenang. Namun tak satu pun dari mereka benar-benar ia perhatikan. Hatinya kosong. Ambisinya hanya satu: nilai dan masa depan.
Pagi itu, Sasa berjalan menuju ruangan kepala sekolah untuk membayar administrasi ujian. Lorong terasa sepi. Saat itulah ia berpapasan dengan seorang laki-laki muda.
Rambutnya lurus, rapi. Wajahnya tampan dengan senyum ramah yang terlihat natural, bukan dibuat-buat.
Mereka saling menatap sepersekian detik.
Sasa hanya menatap sekilas. Tidak ada rasa apa pun. Tidak degup jantung, tidak juga rasa penasaran. Baginya, laki-laki itu hanyalah orang asing yang kebetulan lewat.
Setelah urusannya selesai, Sasa kembali ke kelas. Ia duduk di bangkunya, membuka buku, lalu berbincang ringan dengan Shima.
“Shima, kamu sudah dapat kartu ujian?” tanya Sasa.
“Sudah, Sa,” jawab Shima sambil mengangguk.
