Pemandangan terindah yang kurasakan seumur hidupku adalah jumlah uang di rekening bankku.
Ayahku seorang anggota dewan besar di suatu lembaga. Selama aku menuruti keinginannya, aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan. Wanita? Kesenangan? Kebahagiaan? Tentu, aku sudah mendapatkannya sejak lama.
Aku bebas bahagia semaunya. Aku bebas marah semaunya. Melihat anak-anak kurang beruntung menjadi alas injakanku, aku tertawa terbahak-bahak melihat mereka semakin menderita, sementara teman-temanku menonton dengan bangga.
Tak ada yang namanya kelemahan di hidupku.
Tuhan Maha Adil sepertinya hanya gurauan.
Di tengah pemikiranku tentang kelebihanku, terkadang ada sesuatu yang mengkhawatirkanku jauh di lubuk hati—sesuatu yang lebih besar dari sekadar semua yang kupunya saat ini.
"Hei, Nayaka! Bisakah kamu meminjamkanku uang untuk bermain anak panah?"
Salah satu wanita yang kusuka berkata demikian, membuat lamunanku buyar.
"Ah! Tentu, cantikku... ini dua ratus ribu rupiah untukmu!"
Aku pun mengorek kantong celanaku mencari uang untuk diberikannya.
Namun salah satu anak bernama Dipa menabrakku sehingga uang itu jatuh.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" Dipa menunduk pasrah.
Aku terdiam sejenak, ingin sekali memaafkan Dipa.
"Hei, kau punya mata tidak? Ah, Nayaka... masa kamu diam saja dibeginikan?"
Natalia memprovokasiku hingga pukulan telak dariku melayang ke wajah Dipa tanpa kusadari.
"Enyahlah, sialan!"
Dipa pun pergi dengan kesakitan.
Senyum Natalia kembali terukir bersamaan dengan mendaratnya uangku di tangannya.
Setelah Natalia pergi, gengku datang menyapa—tiga orang: Andra, Leona, dan Mammon. Dua pria dan satu wanita. Andra dan Leona memang saling suka.
"Nayaka! Mau main ke kantin?" Leona mengajakku.
"Boleh," jawabku singkat.
Kami berempat pergi ke kantin. Di perjalanan, kami sempat bercakap-cakap.
"Hm, aku penasaran dengan mendaki," Mammon memulai pembicaraan.
"Kupikir pendaki itu orang bodoh. Bukannya gak enak banget capek-capekan di hutan?" balas Leona.
"Iya juga," sahut Andra.
Mendaki, ya? Kupikir itu justru kegiatan yang keren. Mungkin suatu saat aku akan mencobanya.
"Hah? Wanita mana tahu namanya power! Mendaki adalah olahraga ekstrem lelaki sejati!" Mammon membalas Leona.
"Mana ada! Gimana menurutmu, Nayaka?" Leona meminta pendapatku.
"Hm, kupikir Mammon ada benarnya. Hehe."
Jawabanku membuat Leona kesal karena tidak mendapatkan dukungan dariku.
"Hmph! Baiklah, mari kita buktikan siapa yang benar—aku atau Mammon!"
"Oke! Kapan kita berangkat? Nanti libur pekan depan kita coba!" Mammon dengan semangat menjawab sendiri.
Tanpa sadar, kami sudah sampai di kantin dan mulai memesan makanan.
"Aku pesan soto dan es soda," kataku.
"Emm, aku nasi goreng," ujar Leona.
"Aku juga deh," kata Andra.
"Hm, aku mungkin es soda aja," sahut Mammon.
"Baik, aku pesankan."
Aku pun memesan semuanya.
"Jadi gimana rencana pendakiannya?" tanyaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Die Above Sea Level [NOVEL MENTAH]
Adventureyaudah lah ya. kisah yang kubuat dengan hati kuat yang di buat buat.
![Die Above Sea Level [NOVEL MENTAH]](https://img.wattpad.com/cover/405180588-64-k59033b.jpg)