France,
December 24th, 2025
Kerlap-kerlip lampu Natal menghiasi jalanan kota seperti lautan cahaya. Musik lembut dari radio mobil mengalun pelan, berpadu dengan gemericik salju di luar jendela. Udara dingin menggigit, tapi kehangatan di antara kami membuatnya terasa nyaman.
“Macetnya parah juga ya,” katanya sambil mengembuskan napas di kaca jendela, membuat embun kecil yang langsung hilang.
“Aku nggak keberatan,” jawabku sambil mencuri pandang. “Bisa duduk lama begini sama kamu… aku suka.”
Ia menoleh, sedikit tersenyum. “Kamu aneh. Orang lain pasti uring-uringan kalau kena macet.”
“Aku bukan orang lain,” balasku pelan..
Aku hanya tersenyum kecil menoleh sekilas. Syal yang dulu dengan sabar kurajut kini melingkar di lehernya—hangat, indah, dan milik seseorang yang tak lagi bisa kugenggam dengan cara yang sama.
Dua hari yang lalu, aku sempat menelepon restoran untuk memastikan reservasi yang sudah kupesan jauh-jauh hari. Meja di dekat jendela, dengan pemandangan salju malam, kupilih agar ia bisa menikmati pemandangan yang disukainya.
Di telepon, aku bahkan meminta staf restoran menyiapkan lilin kecil dan musik lembut—semuanya agar momen itu sempurna. Di saku mantelku, kotak cincin kecil tersimpan rapi, seolah ikut berdebar menunggu waktu.
Anehnya, sekarang aku hanya berharap waktu berjalan lebih lambat. Setiap menit di dalam mobil ini terasa berharga, seakan-akan perjalanan menuju restoran bukan sekadar makan malam Natal… tapi langkah pertama menuju masa depan yang ingin kubangun bersamanya.
Di luar, salju turun sedikit deras. Aku menatapnya, mencoba mengingat setiap detail—caranya tersenyum, caranya menatap jalan, caranya membuatku merasa cukup hanya dengan diam. Natal kali ini seharusnya menjadi malam penuh kebahagiaan.
“Oh iya, kamu belum bilang. Kita sebenarnya mau ke mana? Rahasia sekali.” Wajah penasarannya begitu mengemaskan
Aku menghela napas pelan, berusaha terdengar santai padahal jantungku berdebar. “Ke tempat di mana kita bisa menikmati malam Natal… berdua.”
“Kedengarannya serius sekali,” ia bercanda, tapi tatapannya mencoba membaca wajahku. “Kamu ada rencana apa, Kak Na?”
Aku menatap jalan di depan, lampu-lampu Natal memantul di kaca mobil. “Ada deh” jawabku singkat.
“Rencana besar?” tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih lembut.
Aku meraih tangannya, menggenggamnya sedikit lebih erat dari biasanya. “Iya. Rencana yang sudah kupikirkan lama. Makan malam romantis”
Ia terdiam sejenak, matanya turun ke tangan kami yang saling menggenggam. “Mencurigakan, kakak bikin aku penasaran.” ocehnya
Aku tersenyum tipis. “Sebentar lagi kamu tahu.”
.
.
.
Tbc
Enjoy reading
Tinggalkan jejak jgn lupa
^^
YOU ARE READING
By Your Side (LenaMiu) ✔
FanfictionKetika Natsha muncul kembali setelah bertahun-tahun, Lena langsung merasa ada sesuatu yang berbeda. Natsha tidak lagi manja atau cerewet seperti dulu-ia kini tenang, cantik, dan menyimpan jarak... seolah melindungi perasaan yang pernah terluka. Namu...
