Part 1

3.7K 117 6
                                        


Happy Reading

Langkah kaki Kamila Aureliane Saffira berhenti tepat di gerbang Universitas Vallerine Astra, kampus yang terkenal megah dengan bangunan tinggi berarsitektur modern, kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya pagi, dan halaman luas yang selalu penuh mahasiswa.

Angin pagi menerpa rambutnya, membuat degup jantung itu semakin tak teratur. Hari ini, hari pertama dia resmi menjadi mahasiswa baru, seorang maba.

Kamila, yang lebih sering dipanggil Mila, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk, gugup, excited, senang, sekaligus bingung harus mulai dari mana.

Tak butuh waktu lama sampai ia menemukan ruang kelasnya. Di sana sudah ada beberapa maba lain yang sedang duduk, salah satunya teman yang sudah ia kenal sejak daftar ulang kemarin, Aprilia Yuneta, atau April.

“Milaaa! Sini duduk sama gue!” seru April sambil melambaikan tangan.

Mila tersenyum kecil dan langsung menghampiri. “Gue deg-degan sumpah” lirihnya.

April ngakak. “Namanya juga hari pertama, Mil. Nikmatin aja.”

Tak lama, seorang kakak pembina datang. Lelaki jangkung berwajah tegas dengan name tag bertuliskan RENZO.

“Selamat pagi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Komunikasi,” katanya lantang. “Nama gue Renzo. Kalian bakal bareng gue beberapa hari ke depan.”

Maba langsung riuh. Deg-degan tapi juga excited.

Renzo kemudian membagi kelompok.
Mila dan April ternyata satu kelompok syukurlah, nggak sendirian.

Setelah pembukaan di lapangan, pengenalan kampus, dan segala penjelasan tentang aturan maba, tiba-tiba Renzo mengumumkan tugas tambahan.

“Sekarang, masing-masing kelompok wajib mendapatkan tanda tangan senior tertentu,” katanya sambil memegang daftar nama. “Tugas ini buat nguji keberanian dan komunikasi kalian.”

Maba langsung ribut sendiri.
April menepuk bahu Mila. “Wah seru nih.”

Renzo melanjutkan, “Dan senior utama yang WAJIB kalian cari adalah… Valendra.”

Suasana langsung berubah.
Beberapa maba langsung berbisik-bisik.

“Valendra? Yang mana?”

“Kak Valen itu serem nggak, sih?”

“Gue pernah dengar dia terkenal dingin.”

Mila mengernyit pelan. Nama itu terasa asing.
Valendra. Siapa dia?

Renzo menyerahkan lembaran tugas. “Pokoknya, tanpa tanda tangan Valendra, tugas kalian nggak dianggap selesai. Cari sampai ketemu.”

April langsung menarik lengan Mila.
“Ayo, Mil! Kita ke gedung B dulu. Kayaknya senior-senior sering nongkrong di sana.”

Mila mengangguk dan mengikuti langkah April.

Mereka berdua keliling dari satu gedung ke gedung lain.
Gedung B, Gedung C, halaman tengah, kantin. Berhenti beberapa kali buat tanya senior lain.

“Maaf kak, kak Valendra ada di mana?” tanya April.

"Ya mana gue tau, coba cari sana" jawab salah satu mahasiswa.

Hingga matahari sudah mulai naik tinggi, Mila belum juga menemukan sosok yang dimaksud.

Ia menarik napas panjang, tangannya memegang kertas tugas yang mulai lecek di genggamannya.

“April” bisik Mila lelah, “ini kak Valendra yang mana sih? Kok nggak ada?”

April geleng-geleng sambil duduk di bangku taman.

“Gue juga bingung. Masa senior se-populer itu nggak keliatan sama sekali?”

Dan saat Mila berdiri, hendak melangkah lagi, seseorang tiba-tiba berjalan melewati area taman
tinggi, berwajah dingin, aura tenang tapi tajam.

Nama di dada jaket organisasinya tertulis jelas.

VALENDRA ARSENIO LAKSAMANA.

Mila sontak terdiam. Sosok itu hanya menatap sekilas, tatapan singkat yang cukup membuat jantungnya terpeleset.

Mila dan April saling pandang.
“Oke, waktunya nyapain Kak Valen” kata April sambil menggenggam kertas tugas.

Mila menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
“Ya, ya, kita coba aja” gumamnya pelan.

Namun langkah mereka baru beberapa meter tertabrak!

Sekawanan mahasiswa baru lain tiba-tiba muncul dari segala arah, semua tampak mengejar tujuan yang sama, Valendra Arsenio Laksamana. Desakan tubuh, suara langkah, teriakan, semuanya bercampur jadi satu kekacauan. Kertas tugas Mila hampir terlepas dari genggaman.

Di tengah keributan itu, Valendra berdiri tegap. Mata hitamnya menembus kerumunan, tatapannya dingin, tajam, dan penuh wibawa.

Semua suara mendadak menghilang. Suasana hening begitu saja. Semua Maba menatapnya dengan rasa takut dan tak percaya.

“Hari ini gue nggak mau ada yang ganggu” Suara Valendra rendah, tegas, namun terdengar jelas oleh semua orang.

Sekejap itu juga, seluruh mahasiswa baru membeku. Tidak ada yang berani melanjutkan langkahnya. Aura Valendra menelan semua keberanian mereka.

•••••••••••••

Valendra duduk di meja panjang kantin, dikelilingi teman-temannya Renzo, Radit, Axel, dan Megan. Suasana santai, aroma kopi dan snack kantin memenuhi udara.

Axel menyeringai sambil menatap Renzo.
“Gimana tadi, Zo? Bimbing maba-maba imut lucu gimana rasanya?”

Renzo cuma mengangkat bahu.
“Biasa aja,” jawabnya datar.

Megan mencondongkan badan, tersenyum nakal.
“Ada yang bikin lo tertarik nggak?”

Renzo menggeleng. “Ga ada. Ga minat.”

Axel tertawa kecil. “Kalo gue jadi lo, gue udah pepet-pepet tuh semua maba.”

Valendra menyipitkan mata, setengah tertawa. “Itu mah lo, Axel. Renzo beda, nggak kayak lo.”

“Ya kan gue udah bilang Len, itu gue,” Renzo menimpali sambil menggigit roti lapisnya.

Valendra cuma mengangguk, menatap ke arah luar jendela kantin, diam sebentar. “Hmm” gumamnya singkat.

Renzo menatap teman-temannya, lalu membuka topik lain.
“Nanti jadi kita nongkrong nggak?”

Axel menyenggol Valendra dengan siku. “Ga tau nih, nunggu si Len nih mau nggak.”

Radit menimpali santai. “Tinggal nanti, kalau jadi gue kabarin.”

“Oke siap, bosss” jawab Axel dramatis sambil mengangkat gelas plastiknya.

Renzo kemudian menoleh ke Valendra lagi. “Lo nanti pulang ke rumah, Len?”

“Hmm… seperti biasa,” jawab Valendra datar.

Axel menyeringai sambil menyuap snack-nya. “Kenapa ga tinggal di apartemen aja sih, Len?”

Valendra menoleh sebentar, menatap teman-temannya. “Gue belum kepikiran ke arah sana” katanya singkat.

Megan menatap Valendra dengan nada bercanda. “Ya ampun, Len, serius banget hidup lo. Santai dikit dong, tinggal di apartemen, nongkrong, hidup normal gitu”

Valendra cuma tersenyum tipis, setengah mengiyakan tapi tetap dingin.

Radit menatap sekeliling meja, kemudian menimpali.
“Eh, ngomong-ngomong, tadi maba-maba itu ada yang bikin kalian ketawa nggak? Gue sih liat mereka panik banget waktu dapet tugas tanda tangan senior.”

“Ya, lucu-lucu aja. Tapi ada yang nyebelin juga” jawab Renzo sambil tersenyum tipis.








Haiii, jangan lupa untuk letakkan jejak sperti like komen yaa, dukung aku terus yaaa, kalau ada komen dan kritik silahkan komen ya.

Terimakasih banyak 💗

Lensa Hidup yang Membawaku Padamu Stories to obsess over. Discover now