Prolog Tanpa Nama

10 1 0
                                        

September 2024.

​Di Kota Budaya, tempat napas tradisi tak pernah usai berembus, seni dan adab bukanlah sekadar tontonan, melainkan nadi kehidupan. Kini, panggung kembali menanti, disiapkan untuk Sang Kota Budaya, sebuah kolaborasi yang telah menjadi pentas rutin-pertemuan dua entitas dalam harmoni yang terajut: sebuah Sanggar Tari dan sebuah Sanggar Karawitan yang berada di kota tersebut.

​Malam itu, hening ditepis oleh gemuruh Gladi Resik. Para penari, didominasi oleh rona lembut gadis, menorehkan gerak di atas lantai. Di sisi lain, para pengrawit, mayoritas kaum laki-laki, menduduki bilah-bilah gamelan, menciptakan alunan yang menghidupkan sukma. Jalinan ini barang baru; mereka pertama kali bersatu menyatukan jiwa dalam irama, dam malam itu menyimpan getaran yang berbeda.

Di antara deru gamelan, ada sepasang mata yang tak lagi terpusat pada alunannya. Ia, seorang pemuda dari Sanggar Karawitan, duduk di hadapan instrumennya, namun jiwanya berkelana jauh.

​Pandangannya terpaku pada sekelebat tawa, seolah menangkap sepotong melodi paling merdu yang belum pernah ia dengar. Di tengah kerumunan penari, seorang gadis ayu berbagi canda dengan rekan-rekannya-tawa yang renyah, memancarkan pesona murni yang seketika merenggut ketenangan hatinya.

"Siapa penari itu?" batinnya menggema, lirih, seolah takut mengganggu yang lainnya.

​Sepanjang latihan, ia menjelma menjadi pengamat rahasia. Dengan lihai ia memainkan peran sebagai musisi yang tekun, namun sejatinya, setiap denting yang ia hasilkan adalah sebuah pemujaan diam-diam. Pandangannya seperti sebuah kamera tersembunyi, merekam lekuk gerak dan sinar mata sang dara.

* * *

Pentas berakhir, panggung dibongkar, dan lampu acara sudah redup. Sorak sorai apresiasi pun telah memudar, namun bayangan sang gadis tak kunjung beranjak dari relung benaknya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki.
​Sang pemuda, didorong oleh gelisah yang tak terjelaskan, mulai melancarkan pencarian sunyi. Ia menyusuri lorong-lorong perkenalan, bertanya pada teman-teman sesama pengiring tarian.

​"Siapa gadis yang menari di barisan depan... yang gerakannya selembut tawanya?"
​Namun, jawaban yang ia terima hanyalah kesia-siaan. Ironisnya, jembatan persahabatan sejati tak pernah benar-benar terbangun. Mereka hanya berinteraksi sebatas kebutuhan seni, tak lebih. Nama-nama tetap asing, wajah-wajah hanya sekelebat pemandangan.

Waktu terus merangkak. Usaha yang sia-sia itu perlahan mengikis harapannya. Sang gadis kembali menjadi entitas tanpa nama, sebuah lukisan indah yang hanya ada dalam bingkai ingatannya.

​Akhirnya, ia memilih jalan sunyi. Ia menerima takdir bahwa ia akan menjadi seorang pemuja rahasia, seseorang yang hanya bisa menikmati keindahan dari kejauhan. Kehadiran gadis itu kini menjadi sebuah melodi yang hilang di tengah riuhnya gamelan.

Prolog Tanpa NamaStories to obsess over. Discover now