Prolog

41 5 0
                                        

Bahkan, setelah Bunda memutuskan sambungan telepon, Karin masih tidak dapat percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Ia menyimpan ponsel di saku celananya, lalu tertawa. Suaranya terdengar miris, hingga membuat Yena yang sedari tadi menyimak, merasa takut.

"Rin, kamu nggak apa apa?"

Karina menggeleng cepat, kemudian kembali tertawa. "Bunda barusan bercanda, dia bilang kalau aku harus ngelepasin Jiana. Apa - apaan itu?"

Yena perlahan mendekati Karin, lalu menepuk punggung sahabatnya itu beberapa kali. Sementara Karin hanya bisa diam, masih berusaha mengontrol emosinya.

"Mau aku antar ke rumah sakit?" tawar Yena. Ia tahu, kondisi Karin benar - benar sedang tidak stabil. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik ia mengantarnya 'kan?

Tanpa bersuara, Karin bangkit. Ia berjalan terlebih dahulu, sementara Yena mengikuti di belakangnya. Tidak seperti biasanya, kali ini, Yena dapat melihat Karin tampak begitu hancur.

"Rin, apapun yang terjadi nanti, kamu bakalan tetap baik baik aja, kan?"

Karin tersenyum miris. Ia menunduk, menatap sepatu hitamnya yang menapaki lantai. "Yah, kita lihat nanti."

Life Without, You

Life Without, YouStories to obsess over. Discover now