Ia mati tanpa kehormatan; tanpa saksi; tanpa apa pun yang layak disebut penutup hidup.
Tubuhnya rebah di antara tumpukan kertas dan dinginnya lantai kantor-ruangan yang selama bertahun-tahun ia kira sebagai "tempatnya". Lampu neon berkedip, memantulkan warna pucat pada wajah yang bahkan tidak dikenali siapa pun pada detik terakhirnya.
Dalam hidup lamanya, ia tidak pernah meninggalkan jejak selain bau kopi basi dan jadwal absen yang terus berulang. Tidak ada pencapaian. Tidak ada impian. Yang tersisa hanya penyesalan yang menghitam seperti noda di dasar gelas yang tidak pernah dicuci.
Lalu, kegelapan menelannya.
Namun, saat ia kembali membuka mata-jika itu layak disebut "kembali"-udara yang pertama kali menyentuh paru-parunya bukan lagi udara kota yang basi dan tenang, melainkan hawa dingin yang mengandung abu perang. Dari kejauhan, terdengar teriakan yang tidak bisa ia pahami apakah itu seruan hidup... atau raungan mati.
Langit di atasnya kelabu-bukan kelabu hujan, tapi kelabu yang sudah kehilangan harapan.
Ia bangkit dalam tubuh yang bukan miliknya, di tanah yang asing, di dunia yang retaknya tidak bisa disembuhkan oleh doa. Bangunan-bangunan batu yang berdiri dalam diam seperti saksi bisu atas seribu tahun kekerasan. Gereja yang menara-nya patah. Jalanan yang dipenuhi bayang-bayang, bukan manusia. Dunia ini tidak membutuhkan nabi; dunia ini membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk menantang kehancurannya.
Dan pada detik itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia kenal di kehidupan lamanya: hasrat.
Hasrat yang lahir bukan dari mimpi, tapi dari penyesalan yang membusuk terlalu lama.
Kesempatan kedua ini bukan anugerah. Ia adalah hutang. Hutang kepada dirinya sendiri-yang pernah hidup seperti bayangan tanpa tekad.
Di dunia baru ini, ia tidak berniat menjadi figuran lagi. Ia tidak akan mengulang hidup yang tunduk dan patuh. Tidak akan lagi menjadi manusia yang menunggu dunia bergerak untuknya.
Jika dunia ini kelam, maka ia akan menjadi api di dalamnya.
Jika dunia ini hancur, maka ia akan menjadi tangan yang mengumpulkan puingnya-atau yang meremukkannya sekali lagi agar terbentuk sesuai kemauannya.
Ia bersumpah, dengan jiwa yang selama ini tidur:
bahwa di kehidupan ini, ia akan naik... memimpin... dan meninggalkan tanda yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun.
Karena untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ambisi mengalir di nadinya seperti darah.
Dan dunia yang muram ini akan mengenal namanya-entah sebagai penyelamat... atau bencana.
YOU ARE READING
Ambition in a Broken World
Historical FictionDi hidup lamanya, tokoh utama hanyalah seorang pria biasa-pegawai kantoran yang hidup oleh rutinitas yang sama setiap hari. Ia tidak punya ambisi, tidak punya keberanian, dan tidak punya jejak yang patut dikenang. Ia mati dalam kesunyian yang memalu...
