Prolog

6 0 0
                                        


Ada masa dalam hidup ketika semuanya terasa baru—lingkungan baru, wajah-wajah asing, suara-suara yang belum dikenal, dan peluang yang datang tanpa tanda. Masa itu disebut awal, dan bagi sebagian orang… awal bukan sekadar langkah pertama, tapi juga titik di mana hidup pelan-pelan berubah.


Haura tidak pernah menyangka, bahwa hidup sebagai mahasiswa bukan hanya tentang tugas, presentasi, dan mengejar IPK. Ada hal lain yang ikut tumbuh bersamaan dengan dirinya—perasaan, persahabatan, kehilangan, kecewa, dan diam-diam… cinta.

Semuanya dimulai sederhana.

Satu tatapan yang tidak sengaja.
Satu momen yang terlalu cepat berlalu.
Satu nama yang pelan-pelan memenuhi isi kepala.

Ratara.

Nama itu tidak pernah Haura cari, namun entah bagaimana—hatinya memilih mengingat. Bukan karena ia sempurna, tapi karena ia hadir pada waktu yang tidak ia sangka.

Lalu ada Shafa—sahabat yang menjadi jangkar ketika dunia terasa ramai. Ada tawa yang terlempar tanpa alasan, ada perdebatan receh yang selalu berakhir dengan candaan, ada dukungan yang tanpa diminta… selalu ada.

Dan ada Evan—yang datang sebagai seseorang yang butuh tempat, lalu pergi sebagai seseorang yang lupa diri, sebelum akhirnya kembali dengan hati yang lebih mengerti arti kata teman.

Hidup bukan hanya tentang siapa yang datang, tapi siapa yang tetap tinggal.
Dan bukan tentang siapa yang membuat kita tersenyum, tapi siapa yang tidak hilang ketika kita terluka.

Dalam cerita ini, Haura belajar bahwa kedewasaan tidak datang dalam hitungan tahun, tapi dalam pengalaman. Tentang pintu yang terbuka dan tertutup. Tentang keberanian untuk percaya lagi, meskipun hati pernah dibuat goyah.

Karena pada akhirnya…
Hidup adalah perjalanan pulang:
pulang pada diri sendiri,
pada mimpi yang dulu pernah ditinggalkan,
dan pada seseorang yang mungkin… tanpa kita sadari, selama ini sedang berjalan menuju kita.

Yang Tidak Pernah Selesai Opowiadania do pokochania. Odkryj je teraz