1

1.5K 81 0
                                        

Udara pagi ibu kota masih terasa asing bagi Bintang. Dingin, ramai, dan terlalu cepat untuk seseorang yang baru belajar menetap. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan langkahnya, sebelum akhirnya berhenti di depan toko tempatnya bekerja—bangunan sederhana dengan papan nama pastel bertuliskan Bloom & Brew.
Tempat bunga dan kopi bertemu.

Ia sempat diam sebentar sebelum membuka pintu kaca. Kebiasaan kecil setiap pagi. Seolah butuh satu detik ekstra untuk masuk ke dunia yang berbeda.

Begitu pintu terbuka, aroma manis kelopak bunga segar langsung bercampur dengan wangi espresso yang hangat. Bintang merasa bahunya sedikit lebih ringan. Ruangan ini selalu punya efek itu—membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendirian.

"Pagi, Bintang!"

Bintang menoleh.
Gisel sudah berdiri di balik meja dengan senyum khasnya yang terlalu cerah untuk ukuran pagi hari.

"Pagi, Kak," jawab Bintang sambil berjalan masuk.

"Bukannya lo shift sore ya? Tumben datang pagi."

Bintang meletakkan tas di belakang counter, lalu merapikan apron yang talinya sempat melintir.
"Iya. Gantian sama Janu, Kak. Katanya dia mau jalan dulu sama ceweknya."

Gisel terkekeh, seperti sudah menduga. "Hahaha, dasar Janu. Akhirnya jadian juga, ya?"

"Kayaknya sih iya. Semangat banget ceritanya," jawab Bintang. Ia ikut tersenyum, membayangkan cara Janu bicara cepat tanpa jeda.

"Bagus deh. Hari ini pesanan buket lumayan banyak," kata Gisel sambil mengambil map. "Nanti kalau Kala datang, tolong ambilin buket kecil di rak kiri, ya. Gue ke belakang dulu. Kerjaan kantor lagi ribet."

Bintang mengerutkan dahi. "Weekend masih kerja juga, Kak? Kirain enggak."

Gisel menghela napas pelan, senyumnya sedikit turun. "Kalau kerjaan udah numpuk, weekend juga kena, Bin. Hidup nggak seindah drama Korea."

Bintang terkikik kecil. "Kirain Kakak santai terus."

"Mana ada," jawab Gisel sambil mengangkat map. "Makanya gue buka toko ini. Biar bisa kabur bentar." Ia mengedipkan mata sebelum menghilang ke ruang belakang.

Bel pintu berbunyi pelan.

Bintang refleks menoleh.

Itu Kalandra.

Ia selalu datang dengan cara yang sama—tanpa suara berlebihan, tanpa banyak gerak. Seperti seseorang yang tidak ingin benar-benar terlihat. Langkahnya tenang, wajahnya datar, tapi ada sesuatu di matanya yang selalu terasa berat.

Bukan untuk bunga.
Bukan untuk kopi.
Setidaknya, bukan hanya itu.

"Halo, Kak. Mau ambil buket, ya?" sapa Bintang, suaranya otomatis melembut.

Kalandra mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu ia mengalihkan pandangan.

"Iya... tapi nanti aja."
Ia mengusap pelipisnya, gerakan kecil yang tidak luput dari perhatian Bintang.
"Bikinin es americano. Double shot."

Nada suaranya datar, tapi Bintang bisa mendengarnya—lelah yang disimpan rapi.

"Oke. Tunggu sebentar, ya."

Bintang tidak bertanya. Ia sudah belajar, tidak semua orang datang untuk dimintai penjelasan.

Saat berjalan ke mesin kopi, ia melirik sekilas. Kalandra duduk lebih pelan dari biasanya, bahunya sedikit jatuh, jemarinya menggenggam ujung lengan baju. Seolah ada sesuatu yang ditahan, tapi tidak boleh jatuh di tempat umum.

Kalandra memilih pojok favoritnya, tepat di bawah lampu gantung yang temaram. Ia tidak banyak bergerak. Membaca sebentar, menatap jendela, lalu kembali diam. Waktu seperti melambat di sekitarnya.

Menjelang akhir shift, Bintang memperhatikan satu hal—bahu Kalandra makin merosot.

Ia ragu sebentar. Sangat sebentar.

Lalu mengambil satu cup kecil es krim vanila dari freezer.

"Kak," panggilnya pelan.

Kalandra menoleh.

Bintang meletakkan es krim itu di hadapannya.
"Ini buat Kakak. Gratis."

Ia tidak menunggu jawaban. Tidak bertanya apa-apa. Hanya duduk di seberang dan membuka tutup cup es krimnya sendiri, seperti itu hal paling wajar di dunia.

Kalandra menatap es krim itu lama. Terlalu lama.
Akhirnya, ia mengambil sendok kecil.

"Nama lo siapa?" tanyanya, sendok berhenti di udara.

Bintang menunjuk name tag di dadanya.
"Bintang."

Kalandra mencondongkan badan sedikit. "Olsen?"

Bintang baru sadar. Ia terkekeh kecil.
"Iya. Bintang Olsen. Tapi panggil Bintang aja."

Kalandra mengangguk pelan.
"Bintang," ulangnya, pelan.
Dan entah kenapa, menyebut nama itu membuat sesuatu di wajahnya melunak.

Beberapa menit kemudian, Bintang berdiri. Shiftnya hampir selesai. Kalandra masih duduk di sana, menyuap es krim perlahan, seolah tiap sendok memberinya jeda bernapas.

Tak lama, Bintang kembali.

Di tangannya, sebuah cone es krim baru.

Ia duduk lagi, membuka bungkusnya dengan santai.

Kalandra terdiam. Matanya berpindah dari cup di meja ke cone di tangan Bintang.

"Bintang."

"Ya?"

"Itu... es krim lo yang tadi."

Bintang melirik sebentar, lalu menggigit es krimnya.
"Iya."

Kalandra menahan tawa. "Jadi lo makan dua?"

"Kenapa nggak?"

Untuk pertama kalinya hari itu, Kalandra tersenyum penuh. Kecil, tapi nyata. Hangat tipis menyusup di antara mereka.

"Lo nggak nawarin gue lagi?" tanyanya ringan.

Bintang terdiam.
Ia menatap es krimnya. Cup di meja. Lalu menghela napas kecil.

"Emm..."
Ia melirik freezer sekilas.
"Aku cuma punya tiga es krim minggu ini. Jadi... nggak bisa bagi lagi."

Kalandra tertawa kecil. Kali ini tidak ditahan.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa—hari yang berat itu tidak sepenuhnya sia-sia.

NOT EVERYONE LEAVESWhere stories live. Discover now