Prolog

1 0 0
                                        

happy reading bubb

Ruang OSIS selalu terasa berbeda saat menjelang sore. Lampunya meredup perlahan, udara mulai dingin, dan suara-suara sekolah yang biasanya ramai berubah pelan seperti bisikan yang jauh. Di tengah kesunyian itu, seorang gadis masih duduk di meja panjang, ditemani tumpukan kertas dan laptop yang hampir kehabisan baterai.

Nama gadis itu Alya Celestine Prameswara.
Sekretaris OSIS. Tenang, rapi, selalu mengerjakan tugas sampai tuntas meski sering dianggap terlalu perfeksionis. Banyak yang bilang wajahnya dingin, padahal dia hanya sibuk berusaha tidak bikin masalah.

Hari itu Alya sedang memperbaiki notulensi rapat yang dianggap kurang rapi. Ia menggerakkan kursor perlahan, mencoba fokus, meski matanya sudah lelah.

Pintu ruang OSIS tiba-tiba bergerak.
Seseorang masuk sambil membawa kardus besar.

Raka Elvario Maheswara.
Wakil Ketua OSIS.
Pembawaannya selalu tenang, cenderung dingin, tapi semua orang tahu dia cerdas dan cepat mengambil keputusan. Sosok yang susah ditebak, termasuk oleh Alya.

“Kamu belum pulang?” Raka menaruh kardus dan menatap meja Alya. “Aku lihat kamu kerja dari jam empat.”

Alya menutup mulutnya dengan tangan, menahan rasa terkejut. “Aku selesain ini dulu. Biar tidak numpuk besok.”

Raka mendekat sedikit, membaca sekilas berkas yang sedang Alya sunting.
“Kamu kerja terlalu detail. Tapi… memang cuma kamu yang bisa rapi begini.”

Alya berhenti mengetik.
Ia menatap Raka dengan bingung. “Itu pujian atau kritik?”

“Pujian.”
Tanpa ragu, Raka mengambil kursi dan duduk di sampingnya. “Biar aku bantu. Kamu capek.”

Alya memiringkan kepala. “Kamu? Bantu ngetik?”

Raka menghela napas pelan, seolah menahan tawa. “Aku bukan robot OSIS. Aku bisa ngetik.”

Alya diam sebentar. Suasananya berubah aneh. Tidak buruk, hanya… berbeda. Ada jarak yang mendadak terasa lebih dekat padahal mereka tidak banyak bicara biasanya.

Raka mengambil satu berkas lagi.
“Kamu sering banget disuruh ulang kalau bikin laporan.”

Alya mengangkat bahu. “Sudah biasa. Aku nggak mau bikin masalah.”

Raka menatapnya lama, seolah membaca pikiran.
“Kamu bukan bikin masalah. Kadang ada orang yang memang suka minta semua orang nurut.”

Alya agak kaget, tapi dia tidak merespons.
Ucapan itu terlalu jujur untuk Raka.

Suasana mendadak hening.
Kipas angin tua di sudut ruangan berputar lambat, membuat kertas-kertas di meja bergerak kecil.

Kemudian langkah kaki terdengar dari lorong luar.
Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Alya dan Raka saling menatap cepat, seakan keduanya sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

Padahal mereka hanya bekerja.
Hanya dua pengurus OSIS yang kebetulan lembur bersama.

Namun di hati Alya, ada sesuatu yang terasa berubah.
Dan Raka… menatapnya dengan cara yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Sore itu seharusnya biasa saja.
Tetapi entah bagaimana, justru di situlah semuanya mulai.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Dec 02, 2025 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

BACKSTREETOnde histórias criam vida. Descubra agora