neighbor

81 11 2
                                        

Pintu lift apartemen itu terbuka dengan suara cling yang terlalu nyaring untuk pagi hari. Taehyun keluar sambil mengucek mata, hoodie hitam kebanggaannya belum sempat dirapikan. Cowok itu tipe yang kalau bisa menghindari kontak manusia sebelum jam 10 pagi, dia bakal melakukannya.

Sayangnya, tepat di lorong depan unitnya, ada satu orang yang... terlalu hidup untuk pagi sesepi itu.

Seorang cowok berambut cokelat acak-acakan berdiri jongkok, sibuk mengutak-atik kotak paket yang baru diantar. Earphone-nya nyolok dua-duanya, dan dia bergumam kecil sambil menepis rambutnya yang jatuh ke mata.

Dan kemudian-tanpa melihat kiri-kanan-cowok itu berdiri mendadak.

Tepat menabrak Taehyun.

Bug.

Taehyun mundur setengah langkah.

Cowok itu melepas satu earphone-nya, tampak kaget tapi malah senyum seakan mereka teman lama.
"Oh! Maaf, maaf. Gue kira nggak ada orang lewat. Lorongnya biasanya sepi banget soalnya."

Taehyun menatap malas. "Iya. Sampai Kamu muncul."

Cowok itu cuma ngakak pelan. Nggak tersinggung sama sekali.
"Namanya juga hidup kadang sepi, kadang rame."

Jawaban itu random banget, bikin Taehyun mengerjap. Apa sih maksudnya?
Tapi daripada memperpanjang obrolan nggak penting, Taehyun cuma mendengus dan jalan melewati cowok itu.

Saat ia membuka pintu apartemennya, suara cowok itu terdengar lagi:

"Eh, kita tetanggaan ya? Harusnya say hi dong minimal."

Taehyun hanya melirik sebentar, sangat tidak terkesan.
"Aku kuliah pagi. Nanti telat."

"Siap, tetangga jutek!" jawab cowok itu nyengir sambil memberi salam kecil.

Taehyun mengabaikannya dan menutup pintu.
Tapi dalam hati dia bergumam, siapa sih orang ribut jam segini?

Ia tidak tahu bahwa suara ribut itu... bakal ngikutin dia bahkan sampai kampus.

Kelas teori musik pagi itu lumayan penuh. Taehyun duduk di pojokan, tempat favoritnya, biar nggak ada yang ngajak basa-basi. Laptop kebuka, earphone terpasang.

Sampai kursi sebelahnya ditarik dengan gesekan paling berisik sedunia.

Taehyun menoleh - dan wajahnya otomatis turun satu oktaf.

Itu cowok ribut tadi pagi.
Tetangganya.

Dengan rambut makin acak dan napas ngos-ngosan seperti habis lari.

"Kamu-"
Taehyun refleks ngomong, tapi cowok itu sudah keburu nyengir lebar.

"Oh! Tetangga jutek! Kita satu kampus? Serius? Kecil banget dunia!"

Taehyun menutup wajah pakai tangan sebentar.
Aduh. Kenapa universe bercanda sama gue sih.

Cowok itu meletakkan tas, tanpa peduli tatapan malas Taehyun.

"Gue Beomgyu, by the way. Kalo lo mau tetep manggil gue 'tetangga ribut' juga gapapa sih, tapi panjang banget buat dipanggil tiap hari."

"Aku nggak manggil kamu tiap hari," balas Taehyun datar.

"Yakin? Kita kan tinggal sebelahan."

Taehyun ingin menjitak, tapi ia hanya merapatkan hoodie-nya dan menatap papan tulis.
Please. Jangan ganggu lagi.

Sayangnya, Beomgyu tidak punya mode diam.

Dia mengetuk meja pelan. "Lo jurusan musik juga? Gue pikir lo jurusan... entah... arsitektur atau kriminologi, muka lo mendukung."

Unplanned Harmony -BeomtaeStories to obsess over. Discover now