Apartemen mereka di lantai lima belas terasa pengap, bukan karena suhu, melainkan karena ketegangan yang menyesakkan. Malam itu adalah malam ulang tahun Han Yujin yang ke-20. Garis hukum telah terlewati.
Han Rechan (Ayah, 37), dosen universitas dengan wajah imut dan tubuh ramping, duduk di sofa. Ia sudah telanjang dari pinggang ke atas, hanya mengenakan celana tidur yang longgar, sebuah isyarat bawah sadar dari penantian dan hasrat yang tak terhindarkan.
Han Yujin (Putra, 20) muncul dari kamar mandi, tidak membawa apa-apa. Tubuh atletisnya, yang kini lebih tinggi dan jauh lebih berotot dari Rechan, memancarkan karisma dingin yang menakutkan.
Ia berjalan mendekati Ayahnya, telanjang dan ereksi penuh.
Rechan menelan ludah, pandangannya terperangkap pada penis besar dan keras milik putranya.
"Ayah," suara Yujin dalam dan posesif,
"Aku berumur 20 tahun. Aku sudah dewasa di mata hukum. Malam ini, hubungan kita berubah."
Rechan menutup matanya sejenak. "Yujin, kamu tahu... ini tidak benar."
Yujin tidak membiarkannya selesai. Ia membungkuk, menanamkan tangannya di kedua sisi kepala Rechan, penisnya yang ereksi kini hanya beberapa senti dari wajah Ayahnya.
Yujin: "Aku tidak ingin mendengar 'tahu' atau 'benar', Ayah. Aku hanya ingin penyerahan. Aku tahu kau menginginkanku. Kau telah melihatku. Kau telah memimpikan penis ini di dalam dirimu, kan?"
Napas Rechan tersengal. Wajahnya yang imut memerah. "Y-ya, aku memimpikannya."
Yujin meraih dagu Ayahnya dengan kasar, menegaskan dominasi.
Yujin: "Bagus. Maka dengarkan aturan permanen kita. Mulai sekarang, di dalam apartemen ini, di hadapanku: kau akan selalu telanjang. Tidak ada celana, tidak ada kemeja. Kau akan tidur di kasurku, di bawahku. Kau akan memanggilku Yujin, tapi setiap sebutanmu harus disertai penyerahan penuh. Dan kewajibanmu yang pertama adalah memuaskan hasrat terlarang yang kau sembunyikan ini."
Rechan merasakan gejolak gairah yang kuat. Ia merobek sisa celana tidurnya sendiri. Ia kini berdiri telanjang di hadapan putranya yang juga telanjang dan sepenuhnya ereksi.
Rechan: "Y-ya, Yujin. Aku... aku menyerah. Aku hanya milikmu. Aku akan selalu telanjang untukmu."
Yujin tersenyum. Ia mendorong Rechan ke dinding, tubuh ramping Rechan langsung terperangkap di bawah dominasi putranya.
Yujin: "Bagus, Ayah. Aku akan mengklaimmu sekarang. Buka mulutmu dan sembah milikku!"
Yujin mencengkeram kepala Rechan dan menariknya mendekat, menuntut pengabdian oral segera.
Rechan, berdiri telanjang di hadapan putranya, merasakan dinginnya dinding marmer di punggungnya dan panas yang terpancar dari tubuh Yujin yang sangat dekat. Yujin mencengkeram kepalanya, menegaskan perintah.
Yujin: "Bagus, Ayah. Aku akan mengklaimmu sekarang. Buka mulutmu dan sembah milikku!"
Rechan segera menuruti perintah itu. Ia berlutut di lantai yang dingin, pandangannya tidak pernah lepas dari penis Yujin yang ereksi penuh yang kini menjulang di hadapannya. Rechan tahu, pengabdian oral ini adalah sumpah pertamanya.
Rechan meraih pangkal penis Yujin, memegang dominasi itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Ia mulai menjilat dan menghisap, mengabaikan segala pemikiran tentang peran konvensional. Tubuhnya hanya mengenali hasrat dan penyerahan.
Yujin mendongak, matanya yang dingin namun posesif memandang rendah Ayahnya. "Telan aku, Ayah. Tunjukkan padaku seberapa besar kau merindukan dominasi ini."
Rechan: (Suara tercekat) "Yujin... Aku merindukannya. Aku memohon, jangan lepaskan aku."
Yujin tertawa kecil, suara itu penuh kemenangan. Ia menekan pinggulnya ke depan, memaksa Rechan untuk menerima penisnya lebih dalam.
YOU ARE READING
Hasrat yang Tak Terelakkan
Teen FictionYujin baru saja menginjak usia 20 tahun. Setelah bertahun-tahun menahan hasrat terlarang, Yujin memutuskan untuk mengklaim Ayahnya, Rechan, yang juga merasakan gejolak terlarang. Di apartemen mereka, Yujin menetapkan 'aturan baru' untuk mendefinisik...
