Gudang bawah itu penuh suara logam bergetar ketika Reven dan Albert saling banting, keduanya terpental ke arah yang berbeda, tapi sama-sama kembali bangkit dalam hitungan detik.
Albert menyeka darah di bibirnya sambil tertawa rendah, suara yang bikin udara makin berat.
“Akhirnya… ternyata kau datang lebih awal dari yang ku duga.”
Reven maju lagi, langkahnya menghentak lantai.
Nada suaranya dingin, mata merahnya menusuk seperti mau menghabisi.
“Lo culik istri gue cuma buat mancing gue? Bangsat.”
Albert menahan pukulan Reven lalu memutarnya, hampir mengenai rahang Reven.
“Lo lupa sesuatu.”
Ia balas menghantam dada Reven keras-keras.
“Perjodohan itu milik KELUARGA KAMI. Kau itu seharusnya jadi MILIK Varka. Bukan bocah pinggir jalan itu.”
Reven mencengkeram kerah Albert begitu keras sampai kainnya hampir robek.
Suara Reven turun satu oktaf, gelap
“Elio bukan bocah pinggir jalan.”
Ia mendorong Albert menabrak pilar kayu.
“Dan gue bukan barang yang bisa lo tukar”
Albert menyeringai, walau darah mengalir di pelipisnya.
“Kalau lo nggak mau kembali, gue cukup singkirkan dia dulu.”
Mata Reven membara. Pukulan meluncur Albert menahan setengahnya, tapi tetap terdorong ke belakang, menghantam tumpukan peti.
Elio yang disandera di kursi, dengan dahi masih berdarah, menatap tanpa gentar.
“Reven…” gumamnya pelan, tapi tak seorang pun mendengar dalam hiruk pikuk pertarungan.
Albert bangkit lagi, napas berat.
“Reven, dengarkan saya. Kai itu ditakdirkan sama Varka. Elio itu cuma batu penghalang.”
Ia menunjuk kasar ke arah Elio.
“Buang dia. Ikut saya. Kau tahu itu yang seharusnya terjadi.”
Reven berhenti sesaat, tapi bukan karena ragu melainkan karena amarahnya menyentak naik sampai titik berbahaya.
Ia berjalan perlahan mendekati Albert, langkah berat dan mematikan.
“Gue cuma bakal bilang sekali…”
Reven mencengkeram tengkuk Albert dan membenturkan bahunya ke dinding.
“Lo sentuh Elio bahkan napas lo aja ganggu dia, gue habisin seluruh keluarga Albert.”
Albert mendorong Reven, balas memukul.
“Kalau begitu saya habisin dia dulu!”
Pukulan Reven menghantam wajah Albert lebih dulu.
Diikuti balasan Albert.
Mereka terhuyung, bertukar hantaman seperti dua binatang buas.
Peti-peti roboh, debu beterbangan, suara logam bergemelutuk keras.
Reven menghantam perut Albert, tapi Albert menangkap tangan Reven dan meludah
“Kau itu PANTASNYA sama Varka! Dia sempurna! Elio itu NOTHING!”
Itulah kalimat yang membuat Reven benar-benar kehilangan kontrol.
Dengan teriakan rendah yang hampir seperti geraman, Reven mendorong Albert sampai tubuh pria itu terbanting keras.
Namun Albert masih bangkit lagi, goyah tapi bertahan.
“kau tidak pantes milikin Reven—”
BRUK!
Reven membantingnya sekali lagi.
“DIAM.”
Albert mencoba memukul balik, tapi Reven menangkap lengannya dan memelintirnya ke belakang.
Suara tulang berbunyi kecil, tapi tidak patahhanya membuat Albert menjerit pendek.
Reven menunduk, wajah mereka hanya beberapa centimeter.
Nada Reven sangat pelan namun mematikan, seperti racun dingin.
“Gue bilang… jangan pernah sebut nama Elio lagi.”
Albert terbatuk darah, mencoba berdiri tegak.
“kau akan menyesal, Reven. Varka-”
Pukulan Reven menghentikan kalimat itu.
Satu… dua… tiga pukulan lagi.
Pesan jelas: kalau lo berani sentuh Elio lagi, gue ancurin semuanya.
Akhirnya Albert terhuyung, lututnya goyah, dan jatuh berat ke lantai.
Tapi Reven tidak berhenti—dia menahan bahu Albert, menaikkan tangannya lagi, siap memukul lebih keras.
Teman-teman Reven datang terlambat detik itu.
“Reven STOP!”
“Dia udah nggak sadar, bro!”
“Lu mau ngebunuh dia!?”
Reven tidak mendengar.
Amarahnya terlalu pekat.
Mereka mencoba menarik Reven, tapi Reven mendorong mereka sampai terpental.
Axel bahkan kena satu ayunan Reven di bahu dan hampir jatuh.
Dan saat Reven mengangkat tinjunya sekali lagi.
Elio melangkah maju.
Kei menahan bahunya, takut Elio kena pukulan, tapi Elio menyingkirkan tangannya.
Wajah Elio pucat karena darah di dahinya, tapi tatapannya tajam dan tenang.
Elio berjalan tepat ke depan Reven.
Tangan Reven berhenti tepat di depan wajah Elio.
Kepalan itu sampai menyentuh pangkal hidung Elio.
Seluruh ruangan menahan napas.
Elio menatap Reven, suara pelan tapi kuat panjang dan menusuk ke dalam.
“Reven… liat gue. Gue di sini. Gue hidup.”
“Lo nggak perlu buktiin apa pun dengan ngebunuh dia.”
“Lo bukan monster yang mereka takut-takutin. Lo Reven gue.”
“Lo bukan barang keluarga Albert. Lo bukan milik siapa pun. Lo milik diri lo sendiri… dan lo milih gue, kan?”
Reven menutup mata sepersekian detik, rahangnya mengeras, bahunya bergetar.
Elio melanjutkan, lebih pelan namun lebih menghantam:
“Gue nggak takut sama lo. Lo nggak bakal nyakitin gue. Lo tahu itu.”
“Sekarang turunin tangan lo… Reven.”
Keheningan mendalam.
Lalu…
Tangan Reven perlahan turun.
Tegas, tapi gemetar.
Semua orang menghembuskan napas sekaligus.
Reven akhirnya menunduk, mati-matian menahan emosi yang membuat seluruh ruangan tadi bergetar.
