Alam tidak sedang baik-baik saja. Laut bergelombang cukup buas, mengombang-ambing apapun yang mengambang di atasnya. Badai menjadi rekannya, menghancurkan apa saja yang berlayar di bawahnya.
Sebuah kapal bernama The Savior Pride terombang-ambik, awak kapalnya berlarian kesana kemari, mengendalikan kemudi, menarik tali layar supaya mereka bertahan dalam badai bertubulensi tinggi ini.
Di sisi lain, selain berisi kargo berupa logistik dalam perjalanan, ada empat orang yang terikat dengan tali. Kapal ini mengangkut para bajak laut yang diringkus oleh Angkatan Laut Kerajaan Babyls. Dua di antaranya ada wanita.
Salah satunya cukup aneh. Mata kirinya tergurat luka mengerikan, sehingga membuatnya memakai topeng separuh wajah yang melekai erat seperti kulitnya sendiri.
''Heh, Angkatan Laut. Dengarkan aku,'' celetuk wanita anggota perompak itu bernama Eris. Salah satu prajurit angkatan laut itu tak menanggapi, dan terus berpegang pada gagang pintu supaya tidak ikut turbulensi.
''Jika kau melepaskanku—, hanya aku saja, aku akan mengeluarkan kalian dari badai ini,'' tawar Eris.
''Bohong.'' Prajurit itu melabeli Eris secara langsung sebagai pendusta.
''Kenapa aku harus berbohong di saat nyawaku juga terancam oleh badai? Aku tahu kau mabuk laut, Bung. Jadi lepaskan aku, atau kau boleh mengikatku dengan tali selama aku memegang kemudi,'' ucap Eris mengiming-imingi.
Berpikir sejenak, akhirnya prajurit itu berjalan menghampiri Eris, mengubah ikatan tali yang menahannya di pinggang. Kemudian ia diseret kasar oleh prajurit itu.
''Jangan coba-coba kau melawan,'' ancamnya.
Eris tersenyum penuh rencana. Dia tetap patuh digiring kasar bak binatang. Telinganya sempat mendengar percekcokan antara prajurit yang menggiringnya dengan kapten kapal.
''Kau bodoh! Mau mengandalkan perampok?!''
''Pilihannya adalah percaya atau kita mati!''
Kapten kapal menggeram marah, lalu dia membanting setirnya dengan acuh. ''Terserahmu! Aku memilih mati dibanding dengan diselamatkan oleh bajak laut!''
Akhirnya Eris bisa mengendalikan kapal ini. Dia memegang roda kemudi dan melirik prajurit yang mengawasinya. ''Ubah layar miring ke kanan! Aku akan memutar kapal ini dengan cepat!''
''Miringkan layar!'' Seru prajurit tadi ikut intruksi.
Layar yang ditarik dari sisi kanan dan kiri langsung di tarik ke kiri, otomatis menghadap ke kanan. Eris memutar roda kemudi, pantat kapalnya berbelok dengan tajam, bahkan meliuk pada dinding ombak dengan mengerikan sampai siapapun dapat menahan napas karena tegang.
Namun ajaibnya, mereka tidak karam karena terguling. Eris mengemudikan kapal, mengikuti jalur ombak bergelombang, dan pada akhirnya, mereka keluar dari lingkup badai setelah menempuk waktu 30 menit menuju ke barat daya.
Para kru bersorak ria, menghela napas lega. Beberapa tengah mengeluarkan asam lambungnya di tepian geladak karena mabuk laut. Sang kapten berdecih kesal, enggan mengakui perompak itu.
''Waktunya kau kembali,'' ucap prajurit yang mengawasinya.
Eris tersenyum penuh rencana. Dia menarik tali yang mengekangnya, melompat menjauh dari prajurit pengawasnya, mulai menunjukkan tanda memberontak.
''Kalau aku tidak mau?'' Tantang wanita itu dengan seringai.
Dia disambut ceklikan suara senapan yang penuh ancaman dari para angkatan laut. Kapten kapal maju dan ikut serta mengancam dengan pistol fliplocknya.
YOU ARE READING
Opposite (Mairuma!×Enchanting Masquerade)
FanfictionIni kisah di mana dua sisi yang bersebrangan mencari keadilannya masing-masing. Bahtera telah angkat jangkar, layar telah diturunkan, ayo kita mencarinya harta karun yang merupakan manifestasi keadilan, Kapten! Start: 1 Januari 2026 End: 1 Juli 2026...
