Singapore
Di antara gedung pencakar langit tersebut, sosok Grenia terlihat berdiri di balkon sebuah kamar hotel. Semilar angin menerpa, menerbangkan untaian rambut panjangnya yang terurai.
Pada sepasang matanya, terpantul sebuah fenomena alam yang selalu terjadi selama bumi berputar mengelilingi orbit. Tatapan kosong Grenia terpejam, bibirnya menghembuskan nafas panjang.
"Pantes aja Zoya suka ngeliatin senja," Kalimat tersebut, lolos begitu saja dari bibir Grenia. "Ternyata ... rasanya setenang ini."
Teringat sesuatu, dahi Grenia mengernyit samar. "Ah, iya ..." Perempuan itu mengambil ponselnya yang tergeletak, membaca sepintas pesan Rizdra beberapa jam lalu.
"Papa nyuruh gua langsung otw ke rumah setelah urusan di sini selesai." Grenia tampak berpikir.
"Nggak biasanya kaya gini."
----
Sunyi dan tenang.
Terkadang, Zoya kebingungan harus senang atau sedih ketika tengah sendiri. Kesunyian seakan menelannya bulat-bulat, mengantarkan perasaan sesak. Namun, di sisi lain, Zoya tidak mengelak. Jika tengah sendiri, perasaan tenang pun turut hadir.
Mendengar suara pintu yang terbuka pelan, Zoya terhenyak samar. Matanya memilih terpejam. Tidak berniat sedikit pun mengubah posisinya yang membelakangi pintu.
"Zoya udah tidur, Mas?"
Rizdra menoleh ke arah Kiana yang berdiri di sampingnya. Wanita itu menatap lekat sosok Zoya yang terbaring.
"Kayanya."
"Kok kayanya?" Kiana tampak tidak puas mendengar jawaban Rizdra. Sesaat kemudian, matanya mendelik melihat makan malam yang masih tergeletak di nakas.
"Mas, kok di biarin anaknya nggak makan? Gimana sih, kamu."
"Ssstt ... suaranya pelanin, sayang." Rizdra justru mendapatkan tatapan tajam dari Kiana. "Kita ke sofa? Ngobrolnya di sana aja. Kesian Zoya, takut ke ganggu."
Kiana mendengus samar. "Mas duluan ke sana. Aku mau mastiin Zoya."
"Iya."
Ketika Rizdra melangkah, Kiana pun masuk ke dalam kamar. Desahan samar lolos dari mulutnya ketika melihat nasi yang hanya tersentuh sedikit.
Memilih duduk di tepi kasur, Kiana memandangi Zoya yang tampak terlelap. Jari lentiknya perlahan terulur, mengusap lembut pipi sang anak. Namun, gadis itu terusik, mengubah posisi menjadi terlentang.
"Ush, ush, ush ..." Kiana menepuk-nepuk pelan paha Zoya. Berharap dapat membuat raga itu kembali nyaman dalam tidurnya.
Kiana membungkuk. Sejenak, dia menikmati pahatan wajah Zoya, sebelum memberikan kecupan singkat di pucuk kepala.
"Tidur yang nyaman, Zoya. Mama sayang Zoya."
Cairan bening luruh begitu saja dari sudut mata Zoya bersamaan dengan pintu yang tertutup. Kelopak mata itu kembali terbuka, membiarkan buliran bening menyeruak, membasahi wajahnya.
"Ke-kenapa ... kenapa harus sesakit ini, Tuhan?" Zoya meringkuk, meremas bagian dada. Nafas gadis itu memburu, wajahnya memerah.
"Ng, nggak. Tolong ... jangan, jangan ..."
----
Ketika keluar dari kamar, Zoya telah rapih dengan pakaian untuk pergi. Pandangannya sempat menyapu sekitar yang tampak sepi, lantas mengayunkan tumitnya ke arah dapur.
Selesai mengganjal perut dengan roti selai coklat, Zoya bergegas menuju pintu utama. Baru saja ingin mengunci pintu, suara Kiana yang berasal dari belakang terdengar.
YOU ARE READING
Alien
Fanfiction'Alien' yang berarti asing. Kedua orang yang memiliki hubungan darah, memiliki sebuah ikatan persaudaraan, belum tentu sesuai dengan nama istilahnya. Kadang kala, sesuatu yang kita inginkan, tidak akan sesuai. Bahkan meleset jauh. Grenia dan Zoya...
