Di halaman kecil belakang rumah El, suara tawa tiga anak kecil itu selalu memenuhi udara sore. Elric Aleviano Adyatama, dengan baju penuh tanah, berlari sambil membawa mobil robot yang ia banggakan.
Di belakangnya, Rhea Aurelia mengikuti dengan langkah riang, rambutnya yang diikat dua bergoyang setiap kali ia melompat.
Sementara itu, Mirael Elvaretta duduk di ayunan tua, mendorong dirinya pelan sambil memperhatikan kedua temannya yang berlarian.
"Ira! Ayo ikut!" teriak El sambil melambai.
Mirael tersenyum kecil, menurunkan kakinya dari ayunan. "Tunggu aku!"
Mereka bermain petak umpet, menggambar di tanah, lalu membuat istana kecil dari batu dan dedaunan. Tidak ada hari tanpa pertengkaran kecil, tetapi tidak ada pula hari tanpa tawa yang selalu kembali menyatukan mereka. Di mata mereka, dunia hanyalah halaman itu—tempat di mana persahabatan tumbuh tanpa disadari.
Namun bahkan di masa kecil, ada hal-hal kecil yang luput dipahami. Seiring waktu berlalu, El tanpa sadar lebih sering mencari Rhea, menyeret tangannya ketika mulai bermain, memanggil namanya lebih dulu, dan memuji gambar Rhea yang sederhana.
Iratetap tersenyum, tetap ikut bermain, tetap berdiri di samping mereka… tetapi sedikit demi sedikit, ia mulai melihat jarak yang tumbuh di antara tiga hati yang dulu selalu berdekatan.
Di sore itu, ketika matahari pelan-pelan turun di balik atap rumah, Ira menatap El dan Rhea yang sibuk menghias istana daun mereka. Ia tidak tahu bahwa perasaan samar yang muncul di dadanya—campuran sepi dan kehilangan yang belum ia mengerti—akan menjadi awal dari sebuah cerita yang kelak membuatnya benar-benar menjauh.
YOU ARE READING
Bertemu Kembali
Teen FictionSejak kecil, Elric Aleviano Adyatama tumbuh bersama dua teman perempuannya, Rhea Aurelia dan Mirael Elvaretta. Mereka bertiga selalu bersama-bermain, belajar, dan menjadikan satu sama lain sebagai dunia kecil yang hangat. Namun tanpa Elric sadari...
