PROLOG

15 1 4
                                        

Malam itu tidak seperti malam biasanya. Sunyi, tapi berat. Udara terasa menekan, seolah membawa rahasia yang tak bisa diucapkan, dan setiap bayangan di kamar menari sendiri, mengikuti irama yang hanya bisa didengar oleh hati yang gelisah.

Aku duduk di tepi tempat tidur, tubuh terlipat, tangan menggenggam selimut tipis yang tidak mampu menahan dingin malam. Mata menatap langit-langit yang kosong, tapi pikiranku melayang ke sesuatu yang tak pernah bisa kulihat dengan jelas. Sesuatu yang mengintai di luar jendela, di balik pepohonan, atau mungkin hanya di dalam diriku sendiri.

Di luar, angin berdesir lembut, membawa aroma hujan yang belum datang. Lampu jalan di kejauhan berkedip samar, menebarkan bayangan panjang yang tampak bergerak sendiri. Aku menelan napas, mencoba merasakan ketenangan yang entah di mana hilangnya. Tapi malam ini, ketenangan itu menolak hadir. Rasanya seperti dunia diam, menahan napas, menunggu sesuatu terjadi-sesuatu yang aku sendiri belum siap untuk menghadapinya.

Terkadang, aku merasa begitu kecil. Begitu tak berdaya. Suara-suara yang biasanya menenangkan malah terdengar asing, dan bayangan yang seharusnya biasa, kini terasa penuh ancaman.
Aku tidak tahu harus menatap ke mana, atau apakah aku seharusnya menunggu, berlari, atau hanya menutup mata. Segalanya kabur, seperti mimpi yang hilang sebelum sempat diingat.

Dan di tengah kebingungan itu, ada bisikan halus-tidak terdengar oleh telinga, tapi jelas di hatiku. Bisikan itu menekan dada, memaksa aku tetap terjaga, meski aku ingin menutup diri dalam tidur yang tidak pernah benar-benar menenangkan.

Aku tidak bisa menolak perasaan ini.

Malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang belum pernah kurasakan, sesuatu yang tidak bisa kulawan atau kuabaikan.
Hati kecilku tahu bahwa malam ini hanyalah permulaan. Sesuatu sedang menunggu-di luar jendela, di balik dinding, atau di sudut pikiranku sendiri.

Sesuatu yang akan memaksa aku menghadapi hal-hal yang selama ini hanya kusembunyikan dalam diam.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi dingin tetap merayap masuk, menembus tulang.

Mata menatap kegelapan, mencoba menangkap satu titik cahaya yang bisa menuntunku, tapi yang kudapat hanyalah ketidakpastian.
Semuanya tampak menunggu, menahan rahasia mereka, dan aku hanya bisa duduk di sini, menjadi saksi tanpa suara.

Diam bukan lagi pilihan.

Malam ini, aku mulai mendengar bisikan yang selama ini kusembunyikan, bisikan yang memanggil dari tempat yang jauh, misterius, dan menakutkan.

Malam ini, aku menyadari satu hal :
'sesuatu akan berubah. Entah aku siap atau tidak, dunia di sekitarku tidak akan pernah sama lagi.'

Dan aku duduk di sana, menunggu.
Menunggu tanpa tahu apa yang datang, tapi merasa setiap detik yang berlalu membawa aku lebih dekat pada sesuatu yang tak bisa dihindari.

Angin malam berhembus lebih kencang, membawa aroma hujan yang semakin dekat, seolah membisikkan janji akan sesuatu yang tak bisa dipahami. Setiap detik terasa panjang, dan jantungku berdebar tanpa alasan jelas.

Rasanya dunia berhenti sejenak, menunggu keputusan yang belum kuambil, menunggu langkah pertama yang akan mengubah segalanya.

Aku menahan napas, mendengar detak waktu sendiri, dan sadar bahwa malam ini bukan lagi seperti malam-malam sebelumnya-malam ini penuh rahasia yang menuntut keberanian, bahkan dari hati yang paling kecil sekalipun.

Gelap. Sunyi. Tegang.

Malam ini, aku mulai menapaki jalan tanpa petunjuk, di mana setiap langkah membawa aku lebih dekat pada sesuatu yang tak bisa dihindari.

VAASTE' Stories to obsess over. Discover now