BAB 1 - Hari Pertama

291 17 1
                                        

Cheongdam High School berdiri megah di puncak kawasan paling elit di kota itu—sebuah bangunan bercat putih berkilau dengan tiang marmar tinggi yang membuat siapapun yang memandang merasa kecil. Gerbangnya saja dibuat dari besi hitam berukir, dijaga oleh dua pengawal berseragam formal. Setiap pagi, pemandangan yang terlihat selalu sama: deretan mobil mewah berjejer di pintu masuk. Sedan hitam, coupe sport, bahkan beberapa mobil keluaran terbaru yang belum sempat masuk ke iklan.

Di sekolah ini, kekayaan bukan sekadar identitas—tapi kasta.
Murid-murid Cheongdam High tumbuh dengan pemikiran yang sudah tertanam sejak kecil:

orang miskin bukan hanya rendah... tapi sebuah kesalahan manusia.

Tidak ada yang berani membantah. Tidak ada yang berani menolak budaya sombong itu. Siapa yang mencoba menjadi rendah hati akan diinjak sampai hancur. Siapa yang tidak punya uang akan dikucilkan sampai tidak terlihat. Itulah hukum tak tertulis Cheongdam High—dan semua murid mematuhinya.

Namun ada satu kuasa yang jauh lebih dominan daripada sekadar kekayaan.
Satu kelompok yang tidak boleh disentuh... bahkan hanya sekadar dibicarakan.

Baek Siblings.

Baek Jenna. Baek Ahjin. Baek Harin.
Tiga anak dari keluarga penggagas sekaligus konglomerat pemilik separuh kota. Nama mereka saja sudah cukup membuat seluruh koridor sekolah hening seperti kuburan.

Pagi itu, seperti biasa, suasana Cheongdam High berubah seketika begitu mobil keluarga Baek meluncur perlahan memasuki kawasan sekolah. Murid-murid yang tadinya ribut langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel atau buku masing-masing. Namun mata mereka, tanpa sadar, tetap mengikuti langkah para ratu itu.

Jenna berjalan paling depan. Tinggi, cantik, wajah imut tapi tatapannya cukup untuk membuat senior sekalipun membeku. Tidak pernah tersenyum kecuali pada orang kaya setingkat dengannya. Langkahnya tegap dan penuh kuasa.

Di sebelahnya, Ahjin yang tampak lembut, tersenyum pada siapa saja yang menatapnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di sebelahnya, Ahjin yang tampak lembut, tersenyum pada siapa saja yang menatapnya... tanpa mereka tahu betapa senyumnya bisa berubah menjadi kutukan bagi siapa pun yang berani menyakiti keluarganya.

 tanpa mereka tahu betapa senyumnya bisa berubah menjadi kutukan bagi siapa pun yang berani menyakiti keluarganya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
The Untouchable QueensWhere stories live. Discover now