Hujan deras mengguyur ibukota. Awan gelap menggantung di langit sejak beberapa jam lalu. Angin dingin berhembus kesana kemari. Lebih sering tak tentu arah,mengajak pepohonan menari ria bersama. Yah,,, betapa serpurna nya jika cintanya setara.
Tapi bisa jadi ini bukan pembukaan yang bagus. Hujan di siang hari setelah panas menyengat buka berita baik. Maksud ku,ya, untuk pembukaan cerita ini biasanya tak akan baik untuk kisah yang akhirnya bahagia. Setidaknya hari cerah bisa mewakili akhir cerita.
Di ujung trotoar yang tanpa atap,kosong menelanjang aspal,seorang pemuda berseragam putih abu duduk nelangsa bersimbah hujan. Rambutnya acak-acakan,bajunya lusuh dan kotor. Kakinya sebelah bahkan tak pakai sepatu,hanya kaus kaki yang nampak bolong di jempolnya. Ia menengadah menatap langit dengan mata terpejam,entah apa yang ia ratapi sehingga kondosinya nampak sena'as itu.
Ingin rasanya ku hampiri,mungkin sekedar untuk meminjamkan payung atau duduk bersamanya. Bagi ku,dia pria muda yang malang.
Tapi tidak. Aku di sini bukan untuk itu. Aku tidak bisa mengatur sesuatu semauku. Mungkin sekarang aku bisa saja menghampiri pria muda yang sangat prihatin itu,tapi aku tak bisa buat akhir cerita ini bahagia nantinya. Harus ada gadis lain yang datang menghampirinya dan cerita itu akan berjalan.
Aku menghela nafas dan membuang muka. Menjadi penulis itu berat. Tidak semua orang bisa membuat alur se'enak nya.
Hujan masih saja nyaman membasahi bumi. ku genggam erat payungku,sebelah tangan ku ku masukkan ke dalam saku blazer agar tetap hangat. Entah kapan hujan ini akan berehenti,lama sekali.
"Permisi?"
Aku menoleh. Seseorang tersenyum ke arah ku. Ku dapati lesung di pipi kirinya. Hey,itu manis. Kening ku berkerut tapi bibirnya sedikit tersungging senyum.
"Dimas. Saya tetangga sebelah,baru datang dua hari lalu dari luar kota."
Dimas. Aku sungguh tak ingat dengan nama itu.
"kamu lupa?" Selidiknya dengan alis terangkat.
"Oh,tidak! Ya,tentu,aku ingat! Dimas,hehe,yah!" Ku berikan cengiran kuda khas ku karena agak canggung. Aku sungguh tak ingat siapa pria ini,kenapa dia bisa tahu aku sementara aku tak tahu siapa dia!
"Tadinya,ibu minta aku ajak kamu makan malam di rumah,dan akan ku sampaikan nanti sore saat pulang. Tapi kita bertemu di sini."
"Ah,,ya. Tentu,aku akan datang kalau tidak ada kesibukan mendadak. Kau tau,menjadi guru les itu agak susah mengatur jam tepat waktu." ku jawab dengan gestur. Cengirku masih bertahan.
Pria itu tersenyum saja. "Kamu lucu ya."
"Hey,sorry,,,"
Dan kemudian hujan reda,setelah senyum terakhirnya Dimas pergi lebih dulu. Aku masih terpaku di tempat ku berdiri sementara orang-orang yang tadi ikut berteduh,kini sudah behamburan. Bukan karena memikirkan sosok Dimas,tapi tertegun karena tidak ku sangka,pria yang tadi duduk di trotoar itu di hampiri seorang gadis dengan seragam yang sama.
Sudah di mulai ya,,aku membatin dan tersenyum. Ku tinggalkan lokasi itu dengan perasaan,,,jujur saja,ada yang tertahan di dadaku. Entah apa namanya,tapi ini agak asing. Ah,barangkali karena aku belum menulis ceritanya. Aku tidak janji,tapi akan ku tuang ketika aku ingat.
*****
T
iba di rumah, ku tengok pagar tetangga sebelah,masih ku ingat senyum Dimas di perhentian asing tadi. sepi. Bahkan ayam yang biasanya berkeliaran tak ada,mungkin sudah di kurung toh sekarang sudah hampir malam.
Rasanya tulang belulang ku nyaris patah. Lelah bukan main mengajar di beberapa tempat berbeda. Aku berharap berbaring di peraduan bisa cepat menghilangkan rasa lelah ini.
Makan malam. Astaga.
"permisi.."
Sepersekian detik kemudian,pintu rumah ala bujangan café itu terbuka,seorang wanita cantik tersenyum ke arah ku. Aku membalas nya dengan canggung. Ini memang bukan kali pertama aku bertemu dengan wanita tiu,tapi in kali pertama aku berkunjung dan mehatnya lebih dekat. Sungguh dia luar biasa cantik untuk seukuran ibu dengan anak sebesar Dimas. Ah, aku nyaris lupa dengan nama pria itu.
"Selamat makan malam di rumah kami. " katanya. Lembut sekali. Jujur aku tak akan berhenti memuji wanita itu. Siapa yang mau jadi menantu nya silahkan datar saja.
"Ini putra ku, Dimas. Dia bekerja di luar kota, tinggal dengan neneknya di sana. Mungkin kelian belum sempat bertemu." sekali lagi,wanita itu tersenyum. Entah sampai kapan dia akan membuat ku tetrsipu.
"Kami sudah bertemu tadi."
"Ah,benarkah?"
Aku gelagapan,bahkan tak ada kata yang ku fikiran di kepala. Dengan mulut terbuka aku mengangguk cepat. Sial,aku yakin aku nampak bodoh untuk seukuran guru les yang mengajar sepanjang hari.
"Tapi aku belum tau nama mu." Dimas memusatkan pandangan nya padaku.
Aku tersenyum padanya,ku buat itu semanis mungkin. "Ayunda."
Dimas tampak mengangguk-angguk sembari menyuap lagi." Namanya cantik."
"Ibu juga suka, cocok dengan postur wajahnya."
"Terima kasih,saya juga gak henti-hentinya mengagumi tante."
Ibu Dimas tersenyum,lagi. Ngomong-ngomong aku gak pernah tahu siapa nama wanita itu.
"Oh,ya, Ayunda. Kamu bisa menginap di sini kapan-kapan kalau kamu ada kesempatan,mungkin kita bisa nonton film bareng atau makan malam dan mengobrol panjang. Akhir pekan misalkan."
"Ide bagus.." Dimas menyela,"Aku setuju dengan usul itu. Dua minggu lagi aku akan kembali ke kerumah nenek. "
Entah aku bisa menolak yang kali ini atau tidak,tapi rasanya tidak sopan menolak setelah di beri makan seperti ini. Terkesan sekali kalau aku tidak menghormati tuan rumah.
"Akan ku lihat jadwalnya,biasanya akhir pekan aku,,memang senggang." sungguh cengian khas ini yang paling aku andalkan.
"Aku baru lihat,taring mu panjang ya."
Dan,,,, bla bla bla!!
Apa-apan pria itu,mulut orang pun di perhatikan nya,apa dia juga akan mencari latar belakang ku besok-esok hari? Anak siapa itu? Haruskah aku katakan jika ada satu helai janggutnya yang belum sempat di cukur atau itu rambut keberuntungan yang sengaja ia biarkan anjang di bawah dagu?
"Ayunda, bisa kita menjadi keluarga?"
Aku mendadak terbatuk masakan pedas yang ku suap,ukh rasan,y,a sungguh sakit luar biasa. Pada dan tersayat. Buru-buru Dimas memberikan ku segelas s air dan ku teguk hingga tandas.
"maaf,,?"
Keluarga? Yang benar saja? Apa masudnya?
YOU ARE READING
Abighail
ChickLitAbighail : ku tulis cerita ini atas dasar nama mu,atas dasar cinta ku pada mu,atas dasar pertemuan yang tak bisa ku hindari,atas dasar yang tak bisa ku pungkiri,tak bisa ku tebak. Dan begitu istimewanya tempat mu di hati ku. Seharusnya tak ada unsu...
