SEASON 2
“Tiga Tahun Tanpa Rasa Hilang.”
Pagi itu kos-kosan terasa terlalu cerah bagi Rara.
Matahari baru naik sedikit, tapi suara Tara udah kayak speaker bluetooth rusak kenceng dan penuh semangat.
“RARAAA BANGUN! Aku telat kalo kamu lamaa!”
Tara loncat-loncat sambil nyari lip balm-nya.
Rara, yang masih setengah tenggelam di balik hoodie besar warna hitam hoodie yang dulu Hazel kasih sebelum keberangkatan cuma mendengus.
“Lo tiap pagi ga capek apa, Tar? Bucin mulu,” gumam Rara sambil nutup muka pake lengan hoodie itu.
Tara langsung ketawa.
“Maaf yaaa, orang lagi bahagia bisa apa. Aulia ngechat aku duluan loh pagi ini. KAMU TAU NGGAK?”
“Ya ampun…”
Rara bangun duduk sambil ngucek mata.
“Lo udah pacaran tiga tahun dan tetap norak.”
Tara makin senyam-senyum. “Ya namanya cinta, Ra.”
Terus dia nyengir lebar, “Eh, ngomong-ngomong… kamu kapan nih berhenti pake hoodie mantan? Itu warnanya aja udah pudar…”
Rara refleks narik hoodie itu erat ke dadanya, seakan orang mau ngambil barang paling berharganya.
“Ini bukan hoodie mantan,” katanya pelan.
“Ini… Hazel.”
Tara langsung terdiam beberapa detik.
Lalu dia ngelirik sambil geleng-geleng.
“Yakan. Gamon kronis,” bisiknya sambil jalan ke pintu.
“Bacot.”
Rara lempar bantal ke arah Tara, tapi senyum tipis muncul di wajahnya.
Karena dia tau Tara ledek-ledek pun, dia gak pernah maksa Rara move on.
Dia cuma… nemenin.
Rara berdiri pelan.
Gelang biru pemberian Hazel yang sudah aus tapi tetap cantik berbunyi pelan saat dia merapikan tas kerja.
Setiap pagi, benda-benda kecil itu selalu jadi pengingat besar:
Hazel mungkin jauh… tapi rasa itu gak pernah pergi.
Di sisi lain Hazel
Di ruang makan rumah besar keluarganya, Hazel duduk sambil mainin sendok. Mama papanya baru selesai sarapan, dan mereka langsung sadar Hazel lagi gelisah.
“Hazel, kamu kenapa?” tanya Mama.
Hazel menarik napas dalam.
“Aku… kayaknya mau pindah ke Indonesia.”
Mama langsung menoleh cepat.
Papa berhenti baca koran.
“Apa?”
“Kamu baru dua tahun kuliah di sini, Hazel.”
Hazel menatap meja.
“Di sini rasanya… bukan rumah. Aku ngerasa sendiri terus. Aku ga nyaman. Aku pengen balik.”
Mama mau ngomong, tapi Hazel nyela cepat.
“Aku ga minta pindah negara tiap minggu, Ma. Tapi… hati aku berat. Dan cuma Indonesia yang bikin… terasa lega.”
Walau Hazel gak bilang nama itu, Mama Papa tahu:
ini pasti ada hubungannya dengan seseorang dari masa lalu.
Papa akhirnya menghela napas panjang.
“Kalau itu membuat kamu lebih baik… ya sudah. Papa dukung.”
Mama mengangguk pelan, akhirnya luluh.
“Kapan kamu mau berangkat?”
Hazel tersenyum kecil, akhirnya bisa bernapas.
“Minggu depan.”
