Pada usia tujuh tahun, tetangga baru pindah ke rumah sebelah milik keluarga Chen Xu — seorang ibu muda dan anak perempuannya.
Gadis kecil itu bernama Ye Tingwan. Tubuhnya kurus, rambutnya diikat dua, dan matanya selalu menatap tanah setiap kali berjalan. Ia pendiam, jauh berbeda dari anak-anak lain yang suka berlari dan tertawa. Selalu menggenggam ujung baju ibunya, seperti takut kehilangan cahaya, dan setiap gerakannya lembut, seolah ingin menghindari gangguan dari dunia di sekitarnya.
Chen Xu memperhatikannya dari jendela kamarnya. Rumah mereka bersebelahan, hanya tiga meter memisahkan dua jendela itu.
Chen Xu sendiri bukan anak yang banyak bicara. Di rumah, pertengkaran orang tua sudah menjadi bagian dari hari-hari yang tak pernah berhenti. Suara pintu dibanting, jeritan, piring pecah — semua itu menempel di kepalanya. Dalam diam, ia belajar satu hal: kesunyian bisa menjadi perlindungan. Semakin ia diam, semakin sedikit dunia yang bisa menyakitinya.
Ye Tingwan pun sama diamnya, tapi alasannya berbeda. Kehilangan ayah membuatnya percaya bahwa dengan tidak banyak bicara, ia tidak akan merepotkan orang lain. Dalam kesendiriannya, ia mengumpulkan keberanian lewat hal-hal kecil: menggambar bunga di buku catatan, menulis satu kalimat yang tak pernah dibaca siapa pun, atau sekadar menonton langit senja dari jendela kamarnya.
Suatu sore musim panas, saat suara jangkrik terdengar paling nyaring dan cahaya senja memantul lembut di atap rumah, kedua anak pendiam itu saling menemukan.
Chen Xu, dengan hati-hati, mengambil sebutir permen rasa jeruk dan menyelipkannya di ujung galah jemuran, menurunkannya perlahan ke ambang jendela seberang.
Ye Tingwan menerima permen itu tanpa sepatah kata, hanya senyum kecil yang hangat. Keesokan harinya, ia membalas dengan sebuah bunga liar ungu yang telah ditekan rapi di antara halaman buku. Tanpa sadar, lahirlah sebuah “permainan pengiriman” yang sunyi, berlangsung bertahun-tahun.
Hari demi hari berlalu. Setiap benda yang berpindah dari satu jendela ke jendela lain seakan memiliki makna sendiri.
Ketika Chen Xu mendorong buku yang setengah dibacanya ke ambang jendela, itu berarti:
“Buku ini bagus, coba kamu baca.”
Ketika Ye Tingwan menaruh penghapus yang sudah hitam karena sering digunakan, artinya:
“Ujianku hari ini buruk.”
Dan ketika ia mengirim sehelai daun phoenix yang menguning, itu berarti:
“Musim gugur telah tiba.”
Mereka tidak perlu bicara untuk saling mengerti. Chen Xu hanya perlu melihat raut wajahnya yang sedikit muram untuk tahu ibunya belum pulang. Ye Tingwan hanya perlu mendengar suara buku yang dibalik terlalu keras untuk tahu orang tua Chen Xu kembali bertengkar.
Dunia mereka kecil, hanya selebar dua jendela, tapi mampu menampung rahasia yang tak ingin dibagikan kepada siapa pun. Mereka mengenal setiap kebiasaan kecil satu sama lain: cara Ye Tingwan menekuk halaman buku, cara Chen Xu menarik napas ketika cemas, cara mata mereka saling bertemu sebentar, cukup untuk mengatakan segalanya.
Musim panas setelah kelulusan SMP menjadi titik perubahan. Ayah Chen Xu akhirnya pergi dari rumah. Malam itu gelap, tak ada bulan, hanya hawa lembap yang menusuk kulit. Chen Xu duduk sendiri di kamar, tenggelam dalam keheningan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di jendela.
Ia menoleh. Di seberang sana, Ye Tingwan berdiri, memegang seutas tali tipis. Di ujungnya tergantung botol kaca kecil dengan seekor kunang-kunang yang memancarkan cahaya hijau lembut.
Cahaya itu menari di udara, memantul di matanya, seakan memberi pesan:
“Aku tahu kau sedih, tapi aku di sini.”
YOU ARE READING
Di Antara Keheningan
Teen FictionChen Xu danYe tingwan Mereka tumbuh bersama tanpa banyak kata. Saling memahami lewat benda kecil yang dikirim lewat jendela kamar. Hingga suatu hari, ia pergi tanpa sempat berpamitan. Dua belas tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi-tapi k...
