"Ada hal-hal yang lebih mudah disembunyikan di balik diam."
- Razen
HAPPY READING CINTA!! 🌷
Hujan sore menempel di jalanan, membuat trotoar sekolah basah dan lengang. Ruby berdiri di halte, menunggu taksi yang dipesan datang, tas digenggam erat, matanya menatap jalan dengan setengah bosan karena sudah beberapa jam menunggu.
Dari kejauhan terdengar suara motor sport. Ruby menatapnya, lalu tanpa pikir panjang menyeberang sedikit untuk menghalangi jalan cowok itu. “Haii… boleh nebeng? Tenang, gw ganti bensinnya,” suaranya ringan, tapi dengan muka berharap.
Razen menoleh sebentar. Wajahnya tetap datar, matanya tak bersinar. “Minggir,” jawabnya singkat, datar, seperti membuang benda yang tak penting. Tanpa menunggu reaksi Ruby, dia menyalakan motornya lagi, tapi gerakannya tertahan oleh Ruby yang menempel dengan muka imut—dalam hatinya ia berkata, “Plis semoga aja nih cowok nggak ilfil.” Tanpa menunggu jawaban, Ruby langsung menaiki jok belakang yang kosong. Razen tidak peduli lagi dan menyalakan motornya.
Ruby tersenyum tipis, menahan tawa di bawah hujan. Beberapa menit kemudian, saat motor meluncur, mereka tetap diam. Ruby akhirnya bicara, “Btw, rumah gw di Jalan Roblox Blok 3, tau kan?” Razen hanya menjawab, “Hm.”
Sesampainya di depan rumah yang berpagar putih, Ruby ingin mengucapkan terima kasih, tetapi Razen sudah pergi dengan motor sportnya. Ruby hanya tersenyum tipis sebelum memasuki pekarangan rumahnya.
----
Di dalam kamar yang rapi dengan nuansa hitam, berderet rak penuh buku di setiap sisinya. Di sanalah seorang remaja duduk diam, mempelajari beberapa berkas yang diberikan oleh ayahnya. Kertas-kertas itu berisi hal-hal yang mungkin tak seharusnya dipahami oleh anak seusianya—angka, laporan, keputusan besar.
Lampu meja menyala redup. Di balik cahaya kekuningan itu, bayangan wajahnya terlihat tegas namun kosong. Matanya menatap setiap tulisan dengan tatapan datar, seperti sekadar menjalankan perintah.
Sampai akhirnya,dia mengingat perkataan ayahnya.
*Flashback*
Setelah memasuki motor kesayangannya ke garasi,dia melihat mobil seseorang,siapa lagi kalau bukan ayahnya.Jika sudah begini razen tidak bisa menghindar lagi,pasalnya ayahnya jarang pulang,jika pulang itu berarti ada hal penting.
Setelah bergelut dengan isi kepalanya akhirnya dia memasuki rumah yang begitu megah.rumah yang selalu membawa kehangatan namun itu dulu,sekarang? entahlah mungkin sudah seperti neraka.
Razen membuka pintu utama dan langsung di suguhi seorang paruh baya yang sedang duduk di sofa dengan membaca koran tak lupa ada secangkir kopi.
Razen tetap berjalan melewatinya, tetapi sebelum menaiki anak tangga pertama, dia mendengar suara seseorang.
"Tidak sopan, pernah kah saya mengajarkanmu seperti ini?" ucap aditama,ayah razen.
Remaja itu tetap diam di tempat nya,dia tidak ada tenaga untuk meladeni omongan ayahnya yang pada akhirnya membandingkan dirinya dengan sepupunya yang lain.
Aditama mendekatinya dan berkata "JAWABB" dengan nada yang sangat emosi.
Razen hanya menjawab "maaf,itu yang anda ingin dengar dari saya kan?"
"Haha,sudah berani kamu sama saya?"
"Ayah kesini ingin apa?"
"Tidak salahkah kau berbicara seperti itu?,ini rumah saya jadi bebas kapan saya ingin pulang"
Razen hanya diam.Jika di depan teman² nya razen banyak diamnya tapi di depan ayahnya dia lebih diam.Tak mau berdebat lebih lama lagi akhirnya razen berjalan menaiki anak tangganya, tetapi...
"Berhenti atau kau tahu akibatnya." Ya itu lah kata² andalan ayahnya,mengancam dan mengancam jika razen tidak menuruti omongan ayahnya.
Kemudian razen berbalik badan dan menatap ayahnya dengan menaikan salah satu alisnya seolah dia mengatakan "apa?".
"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu,ikut saya keruang pekerjaan." ucap aditama
Akhirnya razen mengikuti ayahnya dari belakang.
sampailah di ruangan yang sangat rapi, dan aditama mengambil beberapa tumpuk berkas dan menyerahkan kepada razen.
"Pelajari,besok harus sudah paham." Hanya itu yang di ucapkan Aditama tetapi razen tahu maksudnya karna sudah berulang kali razen di suruh untuk mempelajari berkas² yang sangat menguras tenaga.
"Sudah?" Tanya razen
"Hm,satu lagi jangan sampai nilai sekolah kamu turun,saya akan tambahkan lagi jadwal les mu"
"Terserah." Jawab razen.
"Ayah hanya ingin yang terbaik," lanjut sang ayah tanpa menoleh. "Belajar, dengarkan, dan jangan tunjukkan kelemahan. Dunia tidak butuh alasan, hanya hasil."
"Baik," jawab Razen singkat,datar,dan dingin.
Kemudian razen keluar dari ruangan pekerjaan ayahnya.
See you di next part, jangan lupa tinggalin jejak kalian.
semogaaa sukaa sama alurnyaaa
Jangan lupaa follow jugaa😘💗
YOU ARE READING
Cool Boy's Secret
Teen FictionRazen Alviero Dravenzon, cowok dingin,cuek,tenang, dan terlalu pandai bersembunyi di balik kesempurnaan. Ia tumbuh dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh, belajar menahan segalanya dalam diam. Dunia mengenalnya sebagai sosok yang tak tersent...
