Chapter 1

80 16 25
                                        

happy reading guys...

*
*
*
*

Zierra berjalan menyusuri koridor sekolahnya. Ia memandangi sekeliling.
Suasana tidak terlalu ramai, karena Zierra hari ini berangkat cukup pagi.
Ia ada jadwal piket kelas.

Sesampainya di kelas, Zierra masuk ke kelasnya lalu menaruh tasnya di kursinya.
Ia hendak mengambil sapu di belakang, tetapi langkahnya terhenti ketika temannya bersuara. "WOI GAUSAH PIKET, HARI INI PULANG PAGI" Seru Atifa.

"Nggak papa, daripada kelas kotor, nggak enak di pandang" Jawab Zierra lalu melanjutkan langkahnya untuk mengambil sapu.

"Bocah kalau rajin ya gitu" Ucap Atifa sambil meledek.

Zierra tak merespon apapun, ia pun menyapu lantai kelasnya sampai bersih, hanya tersisa papan tulis yang masih banyak coretan spidol, yang sengaja ia sisakan untuk temannya.

Setelah selesai menyapu, ia keluar dari kelasnya, melihat suasana luar ternyata sudah agak ramai, ia melihat dari kejauhan Tifanny sedang berjalan menghampirinya sambil merentangkan kedua tangannya.

Zierra yang melihatnya langsung ikut merentangkan kedua tangannya lalu memeluk tubuh temannya itu.
"Fan, udah sembuhhh?" Tanya Zierra sambil mengecek tubuh Tifanny.

Minggu lalu Tifanny sempat kecelakaan saat pulang sekolah dan harus dirawat dirumah sakit, karena keadaannya yang cukup parah, hingga akhirnya tak bisa masuk sekolah selama kurang lebih satu minggu.

Zierra berbinar dengan kehadiran Tifanny hari ini, ia senang akhirnya temannya bisa sekolah lagi setelah lama tak masuk.

Bel sekolah tersengar, Zierra pun mengajak Tifanny untuk segera masuk ke kelas sebelum ada guru.

Para murid berhamburan ketika mendengar kabar anggota osis mengadakan razia.
Zierra yang panik karena ia membawa lip cream, parfum, dan sunscreen.
Ia bingung harus menyembunyikan dimana, sedangkan anggota osis sudah berpencar.

"Kok tiba tiba banget sih ada razia, gaada aba aba dulu anjir" celetuk Atifa.

"Kalau ada aba aba ya nanti orang orang pada siap siap, jadi gaada barang yang kesita, namanya razia dadakan ya gitu" Jawab Zierra.

"Mau lo taroh mana make up lo?" tanya Atifa.

"Gue masukin kresek terus gue cemplungim tempat sampah." Jawab Zierra.

"Gue juga anjir" Sahut Agea.

Terdengar langkah kaki yang mendekati kelas mereka.
Mereka pun duduk dengan keadaan yang cemas, takut ada barang yang ke ambil.

Osis menggeledah tas mereka satu persatu, dikeluarkan barang barang yang di dalam tas.
Kini giliran tas Zierra yang di cek.
Dengan wajah santai dan hati yang tak tenang, Zierra menyerahkan tasnya kepada Salah satu osis yang di depannya.

Osis itu mengacak acak seisi tas Zierra dan mengangkat kotak bekal Zierra, takut ada make up atau apapun yang terselip di tas Zierra. Tanpa hati hati osis itu tak sengaja tersandung meja Zierra.

pyarrr

Zierra menganga, matanya melotot, badannya seketika lemas tak berdaya.
Tangannya langsung menampar pipi osis yang mengacak acak tasnya itu.

plakkkkk

"BODOHHH, DASAR BODOHH!" Teriaknya.

"Eh sumpahhhh gue ga sengaja sumpahhhh, gue ganti yaaaa, maafin guee, beneran gue nggak tau kalau tadi kaki gue nyenggol meja lo" Elga meminta maaf kepada Zierra, karena tak sengaja menjatuhkan kotak bekal Zierra.

Zierra tak peduli makanannya tumpah, tapi ia memikirkan kotak bekalnya.
Kotak bekal pemberian terakhir sang ayah sebelum ayahnya meninggal saat ulang tahun Zierra tahun lalu.

"Gue nggak peduli makanan gue tumpah atau apa, tapi kotak bekel gue?" Marah Zierra dengan suara yang bergetar.
Ia sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Kini air matanya telah lolos mengalir membasahi pipi Zierra.

"Cuman kotak bekel aja, nanti biar Elga ganti" Sahut Viora sang osis yang ikut mengacak acak tas.

"Seenak jidat lo bilang gitu? gue cuman mau kotak bekel gue kembali kayak awall, itu kotak bekel pemberian terakhir ayah gue sebelum dia meninggal, gue ga rela kotak bekel gue yang itu pecah gara gara dia!" Ucap Zierra tak terima.

Elga langsung melotot terkejut mendengar Zierra berucap seperti itu.
Ia sangat merasa bersalah, karena ketidak sengajaannya membuat orang lain sedih.

"Kalau seperti ini ganti rugi juga bakalan susah" Ucap Elga dalam hati.

"Gue ga butuh ganti yang baru, gue cuman butuh kotak bekel gue kembalii." Lanjut Zierra dengan isak tangisnya yang tak berhenti henti.

"Sumpahhh, gue nggak ada maksud ngrusakin barang lo, gue nggak sengajaa, seriusss, gue nggak bohong " Sesal Elga.

"Nggak peduli sengaja atau enggak, ini gimana nasibnya bodoh!" maki Zierra kepada Elga.

                                     ***

Zierra pov

"Ayahh, maafin Zierra ya, nggak bisa jaga barang yang ayah kasih" Tangis gue sambil memandangi foto ayah gue.

Gue bakal ingetin wajah si Elga Elga itu.
Osis yang bodoh yang gue temuin selama sekolah.
Gue gaakan lupain kelakuan lo ini sampe kapan pun.

Gue mendengar ponsel gue bunyi tanda ada pesan masuk.
Gue nyalain ponsel gue.
Gue mengerenyitkan dahi gue ketika mendapati pesan dari nomor yang tak dikenal.

Gue mengerenyitkan dahi gue ketika mendapati pesan dari nomor yang tak dikenal

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.


Ga butuh lo ganti Elga gue nggak butuhhhhh.
Gue benci banget sama lo.
Gue cuman mau kotak bekel dari ayah gue kembali kayak awall.

Gue cuman mau kotak bekel dari ayah gue kembali kayak awall

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

maaf  kalau ada yang typo

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

maaf  kalau ada yang typo.
terimakasi sudah membaca.
.
.
.
.

First Person Onde histórias criam vida. Descubra agora