Rumah keluarga sederhana di kota kecil, terutama kamar Dinda dan ruang keluarga.
Hari itu suasana rumah terasa agak sepi. Ayah dan ibu Raka baru saja pamit pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan yang harus diselesaikan selama tiga hari ke depan. Tentu saja, mereka menitipkan rumah dan tanggung jawab kepada Dinda dan Raka yang masih duduk di bangku SMA
.“Jaga rumah baik-baik ya, kamu berdua. Jangan sampai ada yang rusak,” pesan ibu sebelum pamitan sambil memeluk mereka berdua.Dinda mengangguk serius,
“Tenang, Bu, aku dan Rak pasti jaga rumah.”
Setelah mereka berdua berangkat, suasana rumah jadi lebih longgar. Dinda tetap sibuk dengan tugas sekolahnya di kamar, sementara Raka merasa bosan dan mulai mencari cara mengisi waktu.
“Hmm, kameranya kakak selalu penuh warna dan lucu,”
pikir Raka sambil mengintip ke dalam kamar Dinda.Akhirnya, rasa penasaran itu muncul lagi. Ia membuka lemari dan melihat sederet baju warna-warni yang biasa dipakai Dinda: blus, rok, dan beberapa kaus dengan motif ceria. Tanpa ragu, Raka memilih sebuah kaus berwarna merah muda favorit Dinda yang tergeletak di atas meja rias.
“Coba kalau aku pakai ini, pasti lucu,”
gumam Raka sambil masuk ke kamar kakaknya dan mengganti baju.
Ia juga iseng mengambil sedikit makeup dari meja rias, lalu dengan canggung mencoba mengoleskan maskara dan lipstik merah tipis.Saat dia berdiri di depan cermin, muncul bayangan sosok yang tidak ia sangka: ada Raka yang berbeda, dengan baju perempuan dan sedikit riasan di wajahnya.
“Hahaha... lucu juga ya,”
Raka tertawa pelan, mulai berpose dan meniru gaya kakaknya yang biasanya ia lihat di Instagram.
Tiba-tiba, suara dari pintu belakang terdengar.
“Rak, kamu di mana? Aku mau ambil buku!” suara Dinda terdengar nyaring.
Raka panik. Ia berlari ke balik tirai dan mencoba melepaskan baju itu dengan cepat. Tapi terlambat: Dinda sudah masuk kamar.Matanya langsung tertuju pada baju dan makeup yang berserakan di lantai, lalu pandangannya menatap ke arah Raka yang masih mengenakan sebagian pakaian itu.
“Apa-apaan ini, Rak? Kenapa kamu pakai baju aku? Kamu ini... suka pakai baju cewek dan dandan?” Dinda terdengar marah dan bingung.
Raka menggeleng cepat. “Nggak, Din! Aku cuma iseng saja.'Karena rumah sepi dan aku penasaran, ‘kan. Aku nggak suka beneran,” jawabnya sambil mencoba meyakinkan.Namun Dinda belum bisa percaya.
“Hmm, tapi ini sudah beberapa kali kamu ketahuan. Kalau bukan suka, kenapa? Kamu nggak malu kalau ada orang lain tahu?
”Raka mulai merasa risih. “Aku cuma pengen coba-coba, Din. Biar tahu rasanya. Ini bukan berarti aku seperti yang kamu kira.
”Mereka saling pandang beberapa saat. Dinda akhirnya duduk dan menarik nafas.
“Oke, aku ngerti kamu cuma iseng. Tapi ya, kalau mau coba-coba, jangan di kamarku atau di rumah ini kali ya. Bisa bikin orang lain salah paham".
.”Raka mengangguk pelan, “Iya, Din. Aku janji nggak akan ulang lagi. Terima kasih sudah ngerti."
”Setelah itu, mereka berdua tertawa kecil, suasana yang tadinya tegang jadi mencair.
Raka masih berdiri canggung, baru saja berjanji pada Dinda untuk tidak mengulang lagi ulah isengnya. Namun, Dinda malah menatapnya dengan senyum nakal yang tak biasa.
“Nah, kalau gitu, kamu harus benar-benar tahu gimana rasanya jadi cewek. Aku ajari kamu biar keren,”
"kata Dinda sambil mengambil kembali baju dan kosmetik yang tadi berserakan.Raka mengerutkan dahi, bingung dan sedikit takut.
“Apa maksudnya, Din?”
Dinda sudah berdiri di depan cermin dengan ekspresi serius tapi berkilat penuh keisengan.
“Kamu kan pengen coba-coba, ya? Jadi aku bakal ajarin kamu gimana caranya pakai baju cewek dengan anggun, makeup yang benar, dan juga cara jalan yang sopan. Tapi, kamu harus ikutin aku, ya!
”Raka tidak punya pilihan lain selain mengangguk pelan. “Oke, Din. Aku ikutan aja.”
Dinda langsung mengambil rok cantik berwarna pastel dan menyerahkannya pada Raka.
“Nggak perlu takut, ini cuma buat latihan. Yuk, ganti dulu!”
Raka mengganti baju lagi, kali ini lebih rapi dan serius, dibantu Dinda dengan cekatan. Setelah itu, Dinda menyiapkan makeup dengan teliti: foundation tipis, blush on, lipstik merah muda, dan maskara yang membuat mata Raka tampak lebih besar.
“Santai aja, aku nggak akan julidin kamu ke orang lain," kata Dinda sambil tersenyum.
Saat makeup selesai, Dinda mengajak Raka berdiri di depan cermin besar.
“Sekarang, lupakan jadi cowok. Kalau kamu mau pakai baju cewek, kamu harus bisa tampil anggun. Ini caranya,” kata Dinda sambil memperagakan cara berdiri, melangkah pelan dengan punggung tegak dan bahu rileks.
Raka mencoba mengikuti, beberapa kali hampir tersandung karena belum terbiasa memakai rok dan sepatu yang sedikit tinggi.
“Tahan napas dan jangan buru-buru. Anggun itu soal percaya diri dan gerakan yang lembut,” jelas Dinda sambil tertawa kecil melihat Raka yang kikuk.
Setelah beberapa menit latihan, Raka mulai merasa lebih nyaman.
“Hei, ternyata nggak sesusah itu juga ya,” ujarnya kagum.“Kamu lihat? Kalau mau belajar, semua bisa kok,” jawab Dinda.
Mereka tertawa bersama, sementara cermin memantulkan dua sosok yang berbeda tapi kini lebih saling mengerti satu sama lain.
