PROLOG

93 24 0
                                        

Tangisan bayi baru lahir membuat kedua orang tuanya tersenyum. Ibu muda dengan sisa tenaganya mencoba menggendong putri kecil itu.

"Andini Maharani."
"Gimana sayang?" lanjut Lidia menoleh ke suaminya. Ia mengelus rambut bayi mungil itu, rambut yang lembut nan halus.

"Bagus, nama yang cantik," jawab Hendra menyungging senyum ke arah Andin kecil.

Dokter datang bersama perawat yang mengecek kondisi Lidia.

"Selamat ya Bu, atas kelahiran putrinya. Cantik sekali, tapi ada berita buruk yang harus saya sampaikan dengan berat hati," ucap dokter memelan.

Hendra mengerutkan kening, "Kenapa Dok? Apa yang terjadi?"

Dokter menghembus napas berat.
"Ternyata, Bu Lidia sudah mengidap kanker rahim sejak usia janin 8 bulan, dan tidak diketahui karena tumor belum ganas. Namun sekarang, sudah parah. Membuat kami harus menindaklanjuti pengobatan dengan melakukan operasi pengangkatan rahim."

Hendra terkejut "Istri saya nggak bisa hamil lagi?"

Dokter mengangguk pelan.

Hendra menoleh ke istrinya. Lidia membalas tatapan sendu itu "Nggak papa sayang, kan udah ada Andin. Alhamdulillah aku dan Andin masih bisa diselamatkan."

Di hatinya memang tak tenang dan merasa putus asa, namun ia harus bisa terlihat tenang di depan suaminya.

"Kelak dia harus bahagia dengan semua warisan kita, dan menjadi orang cerdas yang berguna untuk semua orang."

Terlambat untuk Mengerti #publish✅Histórias para pegar e não largar. Descubra agora