Pagi itu, seorang cowok yang nampak terlihat pucat pasih dan masih terus-menerus menempel di Kasur kebanggaannya. Sepertinya memang tidak ada niatan untuk bangkit dari temmpat keramat tersebut.
"Hah... capek banget sakit begini..." Eluhnya dengan telapak tangan yang menempel di dahi. Merasakan bahwa suhu tubuhnya belum menurun.
Tok.. tok.. tok...
Lalu seseorang wanita cantik membuka pintu yang kini masih terisi sosok orang yang masih membangkai diatas Kasur itu, raut wajahnya nampak sedikit cemas namun hanya bisa menghela nafas.
"Masih dememnya?" Tanya sosok wanita itu---atau ia merupakan ibu dari anak yang masih tertidur diatas Kasur tersebut, dengan tangan terulur menyentuh dahi sang anak.
"Hmm... masih panas. Kayaknya emang efek kamu gak kerja-lerja nak." Lanjutnya.
Cowok itu menatap melas sang Ibu dan menghela nafasnya. "Ya gimana lagi, Raven biasa kerja tiba-tiba nganggur."
Raven. Cowok yang sedang mengeluh akan nasibnya menjadi pengangguran karena ada sedikit konflik ditempat kerja lamanya. Bukan sepenuhnya salah Raven, masalahnya karena sang bos yang moodyan akibat hamil muda dan merasa apa yang dikerjakan Raven tidak sesuai ekspetasinya. Membuat sang bos memecat Raven dengan alasan yang sangat konyol.
Oh ya, sebelumnya Raven bekerja di salah satu studio foto sebagai fotographer.
"Ya udah, kamu yang sabar. Nanti kalo udah sembuh langsung cari kerja lagi. Untuk sekarang kamu jangan banyak pikiran, fokus sembuh aja." Ujar sang ibu sembari mengelus kepala sang anak. "Nanti jangan lupa makan ya, Ibu bawain ke kamar kamu."
*****
Raven, sosok Cowok yang kalau di cap teman-temannya lembut karena tidak suka marah dan selalu ceria dimanapun berada. Cukup kemarin ia nampak menyedihkan karena sakit efek tidak bekerja, dan kini ia sudah bersemangat untuk bekerja dan mencoba meng-apply loker di salah satu perusahaan di bidang kecantikan seperti makeup dan skincare. Tentunya Raven bersemangat karena skincare bukanlah hal tabu bagi dirinya.
"Huh.. wish me luck!" Semangatnya dan mencoba masuk ke dalam toko kosmetik tersebut.
"Anyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu kak?" Sapa sang kasir saat dirinya tiba di depan,
Raven tersenyum manis dan mengeluarkan satu amplop lamaran dirinya. "Permisi kak, apa bener tempat ini lagi buka lowongan kerja?" Tanya Raven.
"Bener kak. Kakak mau ngelamar disini?"
"Iya." Jawab Raven sembari memberikan amplop tersebut. "Ini punya saya kak, kalo ada info atau semacamnya mohon bantuannya ya kak untuk dihubungi nomor saya yang sudah saya kasih."
Sang kasir tersenyum. "Baik kak, semoga diterima ya! Nanti bakal diinfokan untuk kelanjutannya."
Setelah itu Raven keluar dari toko tersebut dan mencari coffeeshop favoritnya, fore. Coffeeshop favoritnya yang tak ada tandingannya. Tempat yang paling menenangkan bagi Raven untuk sekedar nongkrong sendiri dan bersantai.
Ting!
Baru saja sosok Raven untuk duduk hingga satu notifikasi masuk di dalam ponselnya. Raven sembari menyeruput latte miliknya dan ia membuka pesan tak dikenal.
'Terimakasih sudah melamar diperusahaan kami. Kami menginfokan bahwa besok merupakan tahap interview tahap 1.'
Mata Raven pun melotot membaca isi pesan tersebut. "Njir?! Secepet itu diterima?" Ucapnya tak percaya.
Raven langsung saja menghubungi kedua orang tuanya yang mana dirinya akan interview tahap 1, lalu ia juga menghubungi sahabatnya.
"Aku yakin bakal keterima sih. toko tempat kamu ngelamar itu cute banget, Ven. Tipe kamu banget yang suka Korea-Koreaan." Ujar salah satu teman Raven di seberang telpon.
Namanya Alif.
"Tapi bener-bener kaget aja, Lif. Masa satu jam lalu aku lamar tiba-tiba langsung interview."
"Rezeki, Ven. Rezeki. Udah, pokonya kamu siap-siap buat besok. Persiapkan diri kamu buat interview."
Raven menghela nafas gugup dan mengangguk. "Aku gugup, Lif. Kamu kapan pulangnya sih? Betah banget bawa kereta. Mana yang dibawa batu bara, bukan orang."
Mendengar itu Alif hanya tertawa. "Hahaha, ya emang kerjaanku gitu mau gimana? Aku minggu besok pulang, ntar aku samperin kamu deh."
Alif merupakan sahabat Raven sejak mereka kuliah. Mereka memiliki jalur yang sangat melenceng dari mata kuliah yang mereka ambil. Mereka merupakan sarjana Teknik namun Alif bekerja sebagai Masinis di salah satu perusahaan Kereta ternama di Indonesia, sedangkan Raven merupakan mantan fotograper yang tidak sesuai dengan jurusan yang ia ambil.
Yah, namanya juga rezeki orang pastinya beda-beda ya ges ya...
*****
"Besok kamu sudah mulai kerja ya, nanti pakai baju hitam putih dulu."
Semakin shock Raven akan ucapan sang HRD. Setelah melewati beberapa interview hingga pada akhirnya ia diterima di tempat ia melamar. Bukan hanya dirinya, ada satu orang lagi yang diterima. Raven sungguh kaget, dari sekian yang melamar hanya dua yang diterima.
Sudah dibilang rezeki tidak kemana. 'kan?
"S-serius pak besok sudah mulai kerjanya?" Tanya Raven tak percaya.
HRD tersebut tersenyum dan mengangguk. "Ya, besok sudah mulai."
Hingga keesokan harinya Raven pun sudah mulai bekerja sebagai training. Disinilah semua cerita akan dimulai.
TBC...
YOU ARE READING
30 Days Before U Go
Teen FictionSebuah pertemuan singkat namun pada akhirnya harus memilih. Takdir yang tak pernah setuju akan hubungan yang mereka miliki. Inilah kisah Raven
