Langit pagi di Shanghai terlihat tenang terlalu tenang, bahkan untuk kota yang tak pernah berhenti bergerak. Dari jendela apartemen tinggi di jantung distrik finansial, Zheng Ziyu berdiri dengan secangkir teh hangat di tangan. Matanya menatap jauh ke arah gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya mentari muda. Di balik ketenangan itu, dunia sedang berputar dengan kecepatan yang kejam sama seperti bisnis tempat ia dan suaminya hidup di dalamnya.
Ziyu bukan orang yang lahir untuk kerasnya dunia bisnis. Ia lembut, tenang, dan berpikir panjang sebelum bertindak sifat yang sering kali dianggap kelemahan dalam ruang rapat penuh ambisi. Tapi bagi Tian Xuning, sifat itu adalah sesuatu yang tak tergantikan. Di tangan Ziyu, dunia yang kaku bisa terasa manusiawi. Di senyumnya, bahkan kesepian pun bisa terlihat indah.
"Jangan lupa makan siang. Aku tahu kamu akan lupa kalau sudah fokus dengan laporan tender," suara lembut Ziyu terdengar di ruang makan, sementara Xuning masih memeriksa dokumen di tablet.
Pria itu mengangkat kepalanya, pandangannya dingin seperti biasanya di depan orang lain—tapi melunak begitu matanya bertemu dengan Ziyu.
"Aku tidak pernah lupa... kecuali kalau kamu yang tidak mengingatkanku," jawabnya singkat. Bibirnya nyaris membentuk senyum, sesuatu yang jarang terlihat oleh siapa pun di luar rumah ini.
Bagi publik, Tian Xuning adalah pebisnis tanpa hati, dingin, manipulatif, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tapi di hadapan Ziyu, semua topeng itu runtuh. Dunia mengenalnya sebagai penguasa pasar, namun hanya Ziyu yang mengenalnya sebagai pria yang rela menukar seluruh kekayaannya demi satu pagi sederhana seperti ini.
Ziyu menatapnya, senyum kecil muncul tanpa sadar.
"Ahh ya aku mau ke jepang minggu ini ayah dan ibu merindukan ku."
Xuning hanya diam sesaat, jemarinya mengetuk meja pelan. "Aku ingin ikut. Tapi kalau aku tinggalkan proyek London sekarang, itu akan jadi masalah besar."
"Aku tahu," balas Ziyu lembut. "Kau sudah terlalu sering menunda pekerjaan untukku. Kali ini biar aku yang menunggumu pulang."
Xuning menatapnya lama, lalu mendekat, merapikan kerah kemeja Ziyu. "Aku tidak suka kata 'menunggu'. Buat aku, itu terdengar seperti perpisahan."
Ziyu tertawa kecil. "Lalu anggap saja ini jeda. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk kembali."
Dan pagi itu berlalu seperti biasa hangat, lembut, dan damai. Tak ada yang tahu bahwa percakapan sederhana itu akan menjadi yang terakhir sebelum langit berubah kelabu.
Saya belum bisa memastikan kapan bab selanjutnya akan tayang, tapi anggaplah prolog ini sebagai pintu kecil menuju kisah yang akan membuat kalian penasaran.
Lady Blue
ВИ ЧИТАЄТЕ
Gelombang yang Menelan Cahaya
Сучасна прозаDi balik gemerlap kekuasaan keluarga Tian dinasti bisnis paling berpengaruh di Asia tersembunyi kisah cinta yang lembut antara Tian Xuning, pewaris dingin yang tak pernah mengenal kehangatan, dan Zheng Ziyu, pria yang berhasil menembus tembok baja d...
