Ujung jemarinya dilumuri oleh darah hangat yang baru saja menetes dari tubuh seseorang. Nafasnya terdengar seperti tergesa-gesa berkat huru hara tersebut. Sorak sorai bergema memenuhi seisi alun-alun kerajaan tersebut, menyebut kata-kata agamis nan teoritis.
Seorang pria religius meneriaki nama Tuhan, seorang pemuda yang menghiraukan — terlalu bosan, dan ibu dengan anaknya. Mata sang anak ditutup "Tuhan lah pembawa kebenaran dan kita tidak berhak meragukan itu." ujarnya ke sang anak. Anak yang polos hanya dapat tertegun mendengar puja puji Tuhan yang menggema dari segala penjuru.
Seorang yang tampah gagah berdiri — nyiur darah yang menempel pada pedang berkarat itu menusuk indra pencium sang pelaku, sang senja sebelum kegelapan malam mencabik-cabik matahari.
"Tuhan 'kan memberkahi wahai executor!" sorak orang-orang yang menyaksikan event harian tersebut layaknya pertunjukan sirkus.
Sang senja lantas menuruni podium dan lengannya yang berkeringat dengan cekatan mengoyak sapu tangan-segera menghilangkan bercak darah pada tangannya yang dingin. Huru hara masih saja berlanjut, bagaikan anjing yang menggonggong akan daging. Jubah ia pakai, sarung tangan hitamnya tak lupa pula. Langkah gagahnya mengibas pandangan orang-orang, dirinya menjadi pusat perhatian.
'Kau orang baik, Tuhan akan memaafkanmu...'
— "Tuan Shinonome, yang mulia telah memanggil anda," ujar salah seorang dengan badge bertuliskan 'informan' tepat di dadanya.
"Ya, ya. Aku akan segera ke sana," jawabnya angkuh — bukan karena ia sombong, namun moralitasnya masih ia pertanyakan oleh dirinya sendiri setelah mengeksekusi orang. Tentu saja berat rasanya telah mengakhiri hidup seseorang. Hal kecil seperti berbicara dengan orang lain menjadi melelahkan setelah mengurangi rasa kemanusiaan demi eksekusi.
Tap tap tap
Langkah besarnya membawanya ke hadapan sebuah pintu besar terbuat dari emas — corak khasnya merupakan simbol kemansyuran Kekaisaran Galico, kekaisaran terbesar di benua tersebut. Suara hentakan besi-lebih tepatnya tombak besi menyertai langkah sang senja saat pintu emas itu menyambut kedatangannya. Karpet merah terbentang layaknya bersujud kepada sang singgasana. Tepat di atas singgasana, duduklah sang kaisar — rambut perak khas Kekaisaran Galico. Sang senja dengan penuh kehormatan menundukkan tubuhnya yang bertumpu pada salah satu kakinya. Sang tangan kanan berada di dadanya sedangkan yang kiri melipat sopan bersandingan dengan punggung.
Kaisar nan piawai itu lalu melangkahkan kaki mulianya ke arah sang senja, langkah yang tegas nan bulat.
"Suatu keberkahan bagi saya untuk menghadap kepada sang pemenang, yang mulia kaisar," hormatnya dengan khidmat.
Sang kaisar dengan tangannya yang sudah kaku — bak besi berkarat-berkat usianya pun mengangkat tinggi-tinggi pedang perak dengan permata di pegangan emasnya. Pedangnya mendarat tepa berada di pundak sang senja, itu adalah tanda penghormatan sang kaisar terhadap Shinonome, pengabdi sejati.
"Shinonome Akito, dengan ini janjiku lalu ku kabulkan-jadilah eksekutor putra mahkota Kekaisaran Galico — Aoyagi Toya," deklarasi sang kaisar penuh hormat kepada Shinonome Akito, pengeksekusi putra mahkota — Aoyagi Toya.
"Saya, Shinonome Akito, bersumpah akan memberikan jiwa saya kepada dewa kemenangan bersama dengan cahaya muda kekaisaran — yang mulia Aoyagi Toya," sumpahnya penuh dedikasi terhadap kekaisaran makmur bergelimang emas tersebut.
"Shinonome Akito, bersumpahlah bahwa takdirmu terikat bersama dengan cahaya muda kekaisaran — Aoyagi Toya tanpa pamrih," lanjutnya, "Saya, Shinonome Akito bersumpah bahwa jiwa saya menjadi satu-terikat bersama dengan cahaya muda kekaisaran — Aoyagi Toya tanpa pamrih," sumpah matinya dengan enteng.
YOU ARE READING
When the Sun Was Ordered to Die (Touaki)
FanfictionKetika takdir manusia ditentukan oleh selembar surat yang katanya berasal dari Tuhan. Gallacian - sang pembawa wahyu dari Tuhan bertugas sebagai penentu, dan Eksekutor - sang malaikat maut bagi orang-orang. Tugas mereka ialah... Mengakhiri hidup bag...
