Prolog

12 1 1
                                        

Di sebuah kota yang tak pernah tidur, berdirilah sekolah elit bernama Trisakti Bangsa. Sebuah tempat yang hanya bisa diinjak oleh mereka yang lahir dari keluarga kaya raya dan terpandang. Mobil-mobil mewah berjejer di parkiran, anak-anak bersepatu mahal melangkah angkuh, dan percakapan mereka dipenuhi nama-nama brand terkenal.

Namun, di antara lautan kemewahan itu, hadir seorang gadis sederhana yang mencuri perhatian dengan caranya sendiri.

Aurora Rinjani, 18 tahun.
Anak dari keluarga biasa, yang hidupnya jauh dari gemerlap lampu kota. Ia tidak datang dengan mobil berkilau atau perhiasan mahal. Satu-satunya alasan ia bisa berdiri di koridor Trisakti Bangsa adalah kecerdasan otaknya. Berbekal beasiswa penuh, Rinjani berjanji pada dirinya sendiri: kesempatan ini tidak akan pernah ia sia-siakan.

                   Aurora Rinjani

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                   Aurora Rinjani

Rinjani tidak sendiri. Ada Ayako, gadis keturunan Jepang-Indonesia yang ceria dan selalu penuh energi, serta Hana, sosok tenang yang kerap menjadi penyeimbang di antara keduanya. Bertiga, mereka membentuk lingkaran kecil yang sederhana namun hangat—berbeda dengan dunia glamor yang mengelilingi mereka.

 Bertiga, mereka membentuk lingkaran kecil yang sederhana namun hangat—berbeda dengan dunia glamor yang mengelilingi mereka

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                  Theodora Ayako

                     Mirae Hanami

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                     Mirae Hanami

Namun, di sekolah ini, ada satu nama yang tak pernah luput dari sorotan.

Bhumi Basha Aksara.

Sempurna—itulah kata yang melekat padanya. Tampan, populer, dan cerdas. Rambut hitamnya selalu rapi, senyumnya menawan, dan sorot matanya penuh percaya diri. Setiap langkahnya bagaikan pusat gravitasi; semua orang tertarik tanpa bisa mengelak.

Tapi bukan hanya pesona pribadinya  yang membuat Bhumi begitu dihormati. Latar belakang keluarganya jauh lebih berbicara. Ayahnya, Reis Aksara, adalah CEO dari Aksara Wanderlust, sebuah perusahaan travel internasional yang membangun jaringan pariwisata terbesar di Asia. Sedangkan ibunya, Zury Kamaratih, adalah seorang model papan atas yang wajahnya menghiasi majalah fashion bergengsi.

Nama Aksara sendiri sudah cukup untuk membuka jalan ke mana pun ia pergi. Bahkan, 80% dana pengembangan sekolah Trisakti Bangsa konon berasal dari keluarga mereka. Tak heran bila Bhumi hidup bak pangeran yang tak tersentuh.

 Tak heran bila Bhumi hidup bak pangeran yang tak tersentuh

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

            Bhumi Basha Aksara

Aurora Rinjani dan Bhumi Basha Aksara.
Dua nama yang seolah mustahil dipertemukan.
Seperti langit dan bumi.
Seperti cahaya dan kegelapan.

Namun, takdir tak pernah mengenal kata mustahil.

Dan semua itu dimulai dengan sebuah surat sederhana—

“Dear Rinjani…”

Dear RinjaniWhere stories live. Discover now