Cahaya mentari begitu cerah pagi itu, menyinari wajah tampan seorang remaja yang sedang terlelap dalam tidurnya. Begitu nyenyak—terlalu nyenyak sampai sampai ia tak peduli akan dunia luar.
Sampai—
Bip! Bip! Bip!
bunyi alarm memecah keheningan pagi, mimpi yang indah itu tertelan sudah akan kenyataan yang kembali menguasainya.
Sebuah bantal melayang tanpa ampun menghantam alarm hijau itu sampai jatuh keras ke lantai.
"ARGHH! muak... Gua muakk sumpah perasaan gua set alarm nya jam setengah 7 deh KENAPA BUNYI NYA SEKARANG!?" Gumamnya kesal, matanya belum terbuka sepenuhnya. Deringan alarm itu bak musuh abadinya setiap pagi.
Ia melirik jam di ponsel
Jam 5:30
Hening sejenak..
"..oke besok alarm gua bunuh aja" Ia perlahan bangkit dan duduk di tepi kasur, wajahnya kusut seperti kehilangan semangat untuk menjalani hidup. Tanpa pikir panjang ia berjalan keluar kamarnya, menuruni tangga dengan langkah malas—kedua matanya masih setengah terpejam.
"HEH! CIO MATA MASIH MEREM BEGITU MAU KEMANA!?"
"WOI—"
Bruk! Cio tersentak kaget dan langsung jatuh terduduk di anak tangga. Dibawah sana seorang perempuan berdiri dengan tangan menyilang, ia menatap tajam kearah nya.
"sudah berapa kali kakak bilang.. kalau masih ngantuk jangan kemana mana dulu kalau terjadi hal yang ngga di harapkan gimana? Ujung—ujung nya mamah yang repot lagi" Ia menaiki satu persatu anak tangga—perlahan mendekat ke arah cio
Ia mengulurkan tangannya "cepet bangun, langsung cuci muka ya! Awas kalau kakak liat sekali lagi kamu turun tapi masih merem" Cio menerima uluran tangannya—mereka berdua turun ke lantai satu, cio masuk ke kamar mandi sedangkan kakaknya membantu ibu menyiapkan sarapan di dapur.
"Kenapa lagi kak?" Tanya ibu sambil mengaduk kaldu di panci "biasa mah, si cio turun tapi masih setengah bangun udah dibilangin beberapa kali juga masih aja di lakuin" Gumamnya sambil memotong mentimun—ibu mengelus punggungnya "sabarin aja ya kak, kamu sama adik mu berbeda sifatnya,, kalau ngajarin adik mu harus sabar" Ibu memberikan pengertian pada-Nya.
Pintu kamar mandi terbuka—cio keluar dari dalamnya "pagi mah, masak apa itu?" Cio mengelap rambutnya yang masih basah sehabis mandi tadi "masak bubur dek, kamu doyan kan?" Cio berjalan mendekat "lah kamu mandi dek? Tumben" Kakaknya menoleh "gerah kak, AC di kamar rusak, belum di benerin"
______
Cio Lugnia adalah anak terakhir dari keluarga nya
Dia anak yang sangat ramah dan selalu penuh akan energi, tapi semenjak kejadian itu.. Sifatnya perlahan berubah menjadi pendiam dan tak terlalu ramah untuk orang baru, kecuali jika dia memang suka
Dalam bidang olahraga cio adalah dewa nya, berbagai mendali, sertifikat dan piala yang beragam terpampang dan tersimpan rapih dalam kamarnya—Namun dalam hal akademik cio kurang ahli, ia selalu ranking 20-15 dari 30 siswa.
Lomba demi lomba ia lewati—daerah, provinsi, hingga nasional semuanya pernah dilewati olehnya namun semua itu tak berlaku di rumah—Di sini ia lebih di anggap sebagai anak yang jahil yang tak bisa diam dan adik yang menyebalkan bagi kakaknya.
Cio terbilang cukup beruntung dari sebagian anak seumuran nya, bagaimana tidak? Selain memiliki ekonomi yang berkecukupan—dia juga memiliki orang tua yang sudah siap menjadi orang tua, mereka selalu mendukung hal positif yang diminati kedua anaknya.
Dan selain cio, kakaknya yang bernama Viona Lugnia juga tak kalah dari adik laki—laki nya itu sama seperti Cio, Viona di kenal sebagai siswi berprestasi—cantik, pintar dan selalu menjadi andalan sekolah untuk mengikuti berbagai lomba
Rumah itu bukan hanya bangunan bagus yang besar, namun disana tersimpan sebuah kenangan dan hubungan yang hangat sebuah keluarga kecil yang saling mendukung satu sama lain.
Rumah yang selalu bisa menjadi tempat pulang bagi penghuni nya. Walau ayah mereka sangat sibuk dengan pekerjaan nya—sampai ia jarang sekali tinggal di rumah lebih dari 3 hari dan lebih sering berada di kantor karna tuntutan pekerjaan nya.
______
"Dek, panggilin papah gih sarapannya sedikit lagi matang" Suruh ibu sembari ia menata piring "Oke" Cio menaruh ponsel nya di atas meja makan—Cio berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Sesampainya di depan salah satu pintu ia mengetuk 3× lalu membuka pintu tersebut "pah sarapan sudah mateng" Ayah sedang menulis sesuatu—ia menjeda kegiatan nya itu lalu bangun dari kursinya "iya ayo, mamah masak apa dek?" Tanya nya saat ia berjalan menuruni tangga bersama cio.
"Bubur pah" Cio membalas "bubur memang cocok sih buat sarapan, kamu gak bantu mamah mu tadi?" Tanya nya "tadi udah bantu doa" Ayahnya terkekeh "bisa aja kamu dek, udah yuk cepetan papa lapar" Mereka berdua mempercepat jalan masing-masing.
"Pagi sayang ku" Cio dan Viona saling bertatap tatapan—Cio menahan tawa nya yang sudah di ujung tanduk "papah apaan sih" Ibu tertawa geli saat ayah memeluk nya "ekhem.. ga sopan lho pacaran depan anak-anak nya yang jomblo loh..." Cio akhirnya bersuara juga, Viona menahan tawa nya.
"Bilang aja iri, piala doang banyak pacaran ga pernah" Ia menyindir cio "yah gaseru ah nyindir nya begitu huu! Udah ah cio laper jangan pacaran mulu dong!" Ayah melepas pelukannya lalu membantu menyiapkan bubur di mangkuk.
Cio pun membantu kakaknya menyiapkan toping untuk bubur yang akan mereka makan—sayuran, ayam, emping, kerupuk udang dan sambal sudah tertata di meja makan, mereka sudah duduk di bangku masing masing.
Suasana pagi itu tentram sekali, topik demi topik di bahas di sela suapan dan tak terasa piring piring sudah bersih dan yang tersisa hanya perut yang kenyang "sudah jam 7 kalian ga sekolah? 30 menit lagi gerbang di tutup loh" Ucap Ibu yang sedang menyuci piring.
"Ini mau berangkat mah, cio pamit ya mah" - "viona juga pamit ya mah" Mereka berdua salim pada ibu lalu ayah "hati hati, dek jangan ngebut ngebut bawa motornya kasian kakak mu" Ucap ibu khawatir "aman mah percaya cio, yaudah kami jalan dulu ya dadah" Viona melambai lambaikan tangannya sedangkan cio hanya menoleh sebentar lalu melakukan motornya keluar area perumahan.
YOU ARE READING
Kita Ini Apa??
Romance"Aku gapapa kok, kalau kamu memang belum selesai dengan masalalu mu aku pasti menunggu, dan tolong jangan sia siakan waktu yang ku buang demi mu"
