Siapa Tahu [ORINE]

838 29 19
                                        

Menceritakan lagu 'Siapa Tahu' dari 'Juicy Luicy'

🎼

Di sebuah warung kopi sederhana langganan kami. Lampunya temaram, kuning redup, menyorot meja kayu yang sudah dipenuh coretan nama-nama orang. Bau kopi robusta bercampur asap rokok, dan semua itu biasanya terasa hangat. Tapi malam itu, suasananya seperti penjara.

Erine duduk di hadapanku. Tangannya meremas ujung jaket jeansnya, seakan ada sesuatu yang ia tahan di dalam dada. Matanya tidak berani menatapku.

"Aku dapat tawaran kerja di luar kota," katanya pelan.

Suaranya nyaris tenggelam oleh denting sendok di meja sebelah.

Aku menegakkan badan. "Terus? Kita gimana?" tanyaku, mencoba menahan getar suara.

Erine menarik napas panjang, lalu menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Lion... aku rasa kita harus berhenti di sini. Aku nggak bisa janji sama kamu. Aku nggak mau bikin kamu nunggu tanpa kepastian."

Kata-katanya seperti pisau jatuh yang langsung menusuk diriku. Tumpukan suara-musik jazz pelan, obrolan orang lain, bunyi motor di jalan-mendadak lenyap. Yang ada hanya aku dan kalimat itu.

Aku tertawa hambar, meski rasanya dada dipukul dari dalam. "Berhenti di sini? Jadi... semua ini cuma sampai sini aja, Rin?"

Air matanya jatuh. Ia menggigit bibir, seolah ingin menahan tangis. "Maaf, Lion. Kamu orang paling baik yang pernah aku temui. Tapi justru karena itu... aku nggak tega bikin kamu terikat sama aku yang nggak pasti."

Aku menunduk. Kopi di depanku sudah dingin, pahit tanpa sempat kuminum. Tanganku mengepal di bawah meja. Aku hanya bisa berkata lirih, "Kamu yang bikin aku kayak gini, Rin. Kamu yang bikin aku nggak bisa lagi lihat hidup tanpa kamu."

Erine bangkit dengan tubuh gemetar. Sebelum benar-benar pergi, dia berbisik, "Kamu akan baik-baik aja, Lion. Aku yakin kamu kuat."

Aku tidak membalas bisikan itu. Aku hanya menatap langkahnya menjauh, hingga pintu kayu yang dibuka olehnya tertutup kembali. Dan sekarang yang tersisa hanyalah kopi dingin, kursi kosong, dan hatiku yang ikut ditinggalkan di sana.

"WOY!" Regi menyikut tubuhku tiba-tiba yang membuatku tersadar dari lamunanku.

"Apa sih, Gi?" ucapku kesal.

"Ngelamun mulu lu tiap ngopi? Mikirin apaan sih?" tanya Regi penasaran.

"Kepo lo!"

Regi menatapku lama, "Gue tahu lo lagi mikirin dia, kan?"

Aku terdiam, enggan menjawab. Daripada memperpanjang, aku akhirnya berdiri. "Udah malem, gue pulang duluan."

Baru dua langkah, Regi menahan lenganku. Dengan muka melas yang bikin risih, dia berkata, "Boleh nggak gue nginep di apart lo? Males balik kosan."

Aku melotot. "Ngapain? Tiba-tiba banget. Ngga ah, ribet."

"Tolonglah, Lion. Sekali ini aja. Gue nggak bawa motor, nebeng lo sekalian."

Aku menghela napas. Seperti biasa, Regi kalau sudah memaksa susah untuk ditolak. "Yaudah, tapi jangan rusuh sama jangan bikin berantakan."

Regi langsung nyengir puas. "Siap, bos."

Kami berdua pulang naik motorku. Angin malam menampar wajah, tapi pikiranku masih tertinggal di warung kopi tadi.

Sampai di apartemen, Regi langsung masuk tanpa basa-basi, duduk di kursi gaming kesayanganku. Dia meregangkan tubuh, menatap sekeliling.

Biarkan Lagu Bercerita | OS JKT48Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang