"Hai!" Suara itu terdengar dari sudut ruangan, mataku menyipit menelisik sudut itu lihatlah tangan siapa yang melambai disana. Dengan koper besar di tanganku dan beberapa kantong berukuran kecil berisi oleh-oleh. Melihat dia diantara kerumunan, dan lalu-lalang orang-orang yang datang untuk menjemput atau mungkin mengantar orang tersayangnya.
"Hai!" Berlari cepat menghampiri, memeluk erat tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Senyuman manis ini sudah lama aku tak lihat dari wajahnya. Alisnya yang tebal mengerut melihatku dari atas sampai bawah, penampilanku lusuh sekali hari ini. Tebak apa yang dipikirkannya sekarang? Jangan menebak-nebak.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Dia tertawa, lihat apa yang lucu sekarang. "Tidak tahu, aneh saja melihatmu sekarang. Tidak seperti dulu, sekarang kau lebih manis. Dengan senyum itu."
"Ayolah, Jeam itu terlalu basi untuk di ucapkan hari ini." Timpal ku dengan diiringi kekehan kecil diakhir kata yang terucap. Dia tertawa, menaikan alisnya sebelah sambil menatap kedua mataku. "Benarkah? lalu apa yang harus aku katakan hari ini?" Aku mendongak menatap tajam wajahnya dengan mimik wajah yang tegas. "Elle apa kamu merindukanku! Itu lebih baik." Dia menggeleng, bibirnya mengerucut sambil memegang bahuku. "Itu malah lebih basi."
"Sudahlah jangan terlalu memikirkan basa-basi ini semua, toh tidak membuatku membantu membuat koper ini jadi sedikit ringan?" Dia mengacungkan kedua jempolnya tepat dihadapan wajahku. Dengan cepat tangannya meraih koperku dan berjalan memimpin, dan sekarang apa yang dilakukannya. Berjalan cepat kayaknya dikejar musang meninggalkanku.
Langkahku dengan cepat mengekori nya dengan berjalan berjinjit-jinjit menelusuri batang hidungnya. Sadar tubuhku tidak setinggi itu untung melihatnya di kerumunan orang-orang. Nafasku terengah-engah mengikutinya berjalan. Tapi aku langsung tertawa melihat dia sudah duduk di atas Vespa merah tua kebanggaannya itu.
"Kenapa tertawa?" Tanyanya, siapa yang tidak akan tertawa motor itu sebaiknya dibawa kebengkel saja. Jika motor tua ini menjadi manusia, taruh saja umurnya 50 tahun. Lebih tua dari yang menungganginya, aku masih ingat betul sejarahnya. Katanya motor ini dipakai Om atau ayahnya Jeam saat dia masih lajang, dan ya sekarang Om sudah hampir 60 tahun. "Enggak, mana helm nya?" Dia memberikan helm dari jaman SMA dulu, bau apek ini masih sama.
"Kenapa diam dari tadi?" Pertanyaan itu membuatku tersadar dari lamunan. Suasana yang nyaman, banyak kenangan di setiap sudut kota membuatku tersenyum mengingat semuanya. "Kangen tahu!"
"Kangen aku maksudnya?" Aku tertawa lepas, percaya diri Jeam itu patut di acungi jempol. " Semuanya, kalau kangen Jeam ada lah ya sedikit." Ucapku sambil mencubit kecil pinggangnya, sampai dia meringis kesakitan. "Ah nyesel dong aku jemput Jeam."
"Ih kenapa?" Pernyataan itu membuat hatiku sedikit tertusuk, tidak itu terlalu sedikit mungkin rasanya lebih menusuk. " Elle kangennya cuma sedikit sama Jeam." Tanganku dengan spontan menepuk pundaknya, ternyata itu alasannya.
"Emangnya kamu mau sebesar apa kangen aku ke kamu Jeam?" Dia melambatkan laju motornya, mengadah sambil menekan dahinya dengan telunjuk. "Mungkin lebih besar dari pada sedikit?" Aku tertawa, tidak habis pikir dengan 1001 jawaban dan pertanyaannya. Absurd, yap itulah Jeam Renggana. "Jangan, nanti rasa kangennya habis di Jeam . Lalu rasa kangen ke kucingku gimana?"
"Secuil lagi deh, jadinya Elle kangen Jeamnya sedikit plus secuil." Lanjutku, dia hanya tertawa kecil.
YOU ARE READING
Kurasi
ChickLitSial ternyata menjadi dewasa itu tidaklah menyenangkan, tidak bisa membeli barang sepuasnya seperti kata mereka. Hidup itu hanya tentang bertahan hidup. Masalah itu seperti datang silih berganti, mungkin kita butuh cinta untuk hanya sekedar tertawa...
