Chapter 1: Bloom

3 0 0
                                        


Cinta itu nggak datang dari dua arah. Karena di cerita ini, aku yang lari-lari ngejar, mati-matian, sementara dia.. sibuk jadi dirinya sendiri yang pendiam, tenang, dan seolah nggak peduli sama sekali.

Aku masih ingat pertama kali kenal dia. Aku duluan yang nyapa, aku dulan yang cari topik, dan aku duluan yang bilang "eh, kapan-kapan kita jalan, yuk?". Dia? Cuma senyum tipis banget. Nggak masalah, tapi hal itu buat aku mikir 'Oke, gimanapun caranya, aku harus lihat senyum itu lagi'.

Semenjak itu, aku jadi tertantang untuk reach out dulua. Ajak ngobrol duluan, chat duluan, bahkan sering bikin alasan yang random bin aneh biar bisa muncul di kehidupannya. Entah kenapa meskipun dia lebih sering diam tapi aku tetap betah. Diamnya bukan diam yang bikin canggung, tapi bikin aku penasaran.

Dari momen itu aku sadar, cerita ini nggak bakal tercipta kalau aku nggak gerak duluan.

***

Waktu itu hari ke-empat aku menjadi mahasiswa baru. Di kelas yang masih kosong, aku memilih duduk di barisan tengah. Hanya ada beberapa mahasiswa yang datang setelahku. Wajahnya asing, jujur aku nggak terlalu peduli. Sampai mataku berhenti di satu sosok.

Dia berjalan pelan memasuki kelas, menunduk kearah ponselnya. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Tanpa sadar aku menatapnya terlalu lama. Auranya tenang tapi bikin penasaran.

Tanpa pikir panjang, aku angkat tas yang ada di kursi sebelahku. "Mau duduk di sini?" tanyaku sedikit canggung.

Dia sedikit kaget, mengalihkan pandangan dari ponselnya menuju ke arahku. Lalu menatap kursi kosong yang tepat ada di sebelah kiriku.

Rasanya pengen nepok jidat sendiri. Ngapain sih nawarin kursi segala? Kaya nggak ada kursi kosong lain aja. Jantungku rasanya seperti didobrak ribuan kuda, deg-degan parah. Bayangan dia nolak dan jalan cuek ke kursi lain bikin perutku mules.

Untuk menyembunyikan pipi yang mendadak panas, aku nunduk pura-pura sibuk ngeluarin buku. Dalam hati aku ngomong "Plis jangan ditolak, plis..pliss..plissssss".

Tanpa melontarkan jawaban apapun, dia langsung duduk. Di sebelahku.

"AAAAAAAAAA....." Rasanya kaya baru menang undian keliling Eropa 7 hari 7 malam. Yang tadinya jantungku kaya didobrak ribuan kuda, sekarang rasanya seperti digedor ribuan Thanos.

Aku harus nunduk pura-pura benerin sepatu untuk nutupin senyumku yang kebablasan lebar banget. Saat kembali duduk tegak, aku bisa mencium samar wangi vanila yang lembut. Nafasku tertahan sepersekian detik. Satu detik rasanya lama sekali.

Aku memberanikan diri untuk melirik sedikit ke arahnya. Dia menoleh dan tersenyum tipis.

"OH MY GOD.." batinku.

Aku membeku, sebeku-bekunya. Butuh beberapa detik untuk menyadarkan diri kalau kursi di sebelahku sudah terisi. Beberapa menit kemudian tubuhku mendadak ringan, seperti menari-nari di bulan. Perasaanku campur aduk antara senang, lega, dan nggak percaya.

Suasana kelas yang tadinya setengah kosong perlahan terisi oleh suara-suara yang riuh. Kursi demi kursi sudah ditempati. Percakapan kecil mengisi ruangan seiringin dengan gesekan kursi yang ditarik secara terburu-buru.

Aku berusaha fokus ke papan tulis, mencatat apapun yang dosen ucapkan. Padahal pikirku terus berkelana ke orang di sebelahku.

Selama kelas berlangsung, dia hanya duduk diam, gerakannya tenang. Sesekali aku melirik, pura-pura menoleh ke belakang untuk memastikan pendingin ruangannya masih menyala. Jarinya yang lentik mencatat dengan rapi, tulisannya terlihat begitu indah di mataku.

Sampai akhirnya dosen menutup perkuliahan hari itu dengan kalimat singkat. Suara kursi-kursi yang bergeser kembali memenuhi ruangan. Orang-orang berkemas, beberapa buru-buru keluar. Aku ikut menutup buku, tetapi langsung berhenti, seolah ada sesuatu yang terlupa.

Lalu aku sadar 'astaga, dari tadi aku belum tahu namanya'.

Bagaimana bisa aku duduk satu jam penuh di sebelahnya tapi lupa melakukan hal paling dasar 'kenalan'

Aku masih menggenggam tas, mengumpulkan nyali untuk berkenalan dengannya. Aku menoleh ke arahnya pelan, dia baru saja merapikan pulpen ke tempat pensil, sorot wajahnya tetap terlihat tenang.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangan untuk mendapatkan kekuatan. Dengan suara yang terbata-bata, aku membuka mulut. "Eh.. ki-kita belum kenalan ya?". Dia menoleh ke arahku secara perlahan.

Matanya bening, ekspresinya datar tapi tidak cuek. Ada jeda singkat sebelum akhirnya bibirnya bergerak. "Ella," katanya, singkat. Suaranya lembut, cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa hening. Hanya suaranya yang berputar-putar di kepalaku.

Aku mengulang namanya di dalam hati, Ella. Ella. Ella.

Senyumku muncul begitu saja. "Aku... Dira," kataku sambil mengulurkan tangan. "Salam kenal, ya".

Dia menatap tanganku sejenak. Aku sempat merasa konyol untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia menyambut uluran itu dengan genggaman yang hangat. Singkat, tapi cukup untuk buat detak jantungku tak beraturan dan lututku hampir meleleh.

Untuk menyudahi suasana yang garing ini, aku buka suara lagi, "Kamu ada kelas lagi setelah ini?" tanyaku pura-pura santai padahal aslinya deg-degan parah.

Ella menoleh, matanya menatapku sebentar lalu menjawab singkat, "Nggak ada. Kenapa?".

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan senyum yang sudah terlanjur muncul. "Oh kebetulan banget. Mau makan siang di Mall sebelah? Ada resto Jepang, kata orang-orang enak, sih".

Ella berpikir sebentar, lalu menjawab "Boleh."

"YESSSSS......." batinku. Aku langsung berdiri dengan semangat. "Yuk, biar nggak keburu rame."

Lagi-lagi dia menunjukkan senyum tipisnya yang indah itu.

***

Selesai makan, kamu berdua keluar dari resto Jepang itu dengan perut kenyang dan hati yang senang. Ella berjalan di sampingku, lalu tiba-tiba berhenti.

"Aku minta nomormu, dong," katanya pelan tapi jelas.

Aku ikut berhenti dan menoleh, agak kaget. "Hah?" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut bodohku ini.

Ella merogoh totebag-nya dan mengeluarkan HP, lalu menyodorkannya padaku. Layarnya sudah terbuka di aplikasi kontak, kolom yang kosong menunggu untuk di isi. "Biar aku bisa ganti uang makan yang tadi" katanya.

Aku tersenyum kecil, menatap HP yang sudah ada di genggamanku. "Nggak usah, Ella. Anggap aja traktiran buat teman baru".

Ella menatapku datar, lalu mengangkat alis, seolah tidak menerima alasan itu.

Akhirnya aku menyerah jempolku mengetik cepat di layar HP-nya, menuliskan nama dan nomor teleponku. Begitu selesai, aku kembalikan HP itu. Jemari kami sempat bersentuhan sebentar, tubuhku seolah tersengat aliran listrik yang halus. Sensasinya menjalar cepat dari ujung jari sampai ke dada. Membuat napasku agak tertahan.

"Udah ya," kataku.

Ella menatap layar sebentar, lalu mengangguk. "Oke."

AmarellaWhere stories live. Discover now