Sora adalah seorang gadis berusia 18 tahun. Baru saja lulus SMA ketika orang tuanya menikahkannya dengan tetangga tak jauh dari rumah mereka. Bukan tanpa alasan, kedua orang tua Sora khawatir dengan pergaulan anak zaman sekarang yang mereka anggap semakin liar. Maklum saja, mereka hanyalah orang desa dengan pemikiran yang masih sederhana dan cenderung kuno. Alih-alih memberikan pemahaman dan pendidikan yang cukup agar anaknya tidak salah langkah, mereka memilih jalan pintas: menikahkan putri sulung mereka.
Restu, pria berusia 28 tahun, adalah seorang pedagang sayur hasil panen dari kebun dan sawahnya sendiri. Ia tinggal seorang diri sejak ibunya meninggal lima tahun lalu dan di susul sang ayah satu tahun terakhir. Anak tunggal dari keluarga itu, kini ia meneruskan seluruh urusan sawah dan kebun.
Hari ini genap empat bulan usia pernikahan Sora dan Restu. Perlahan mereka mulai saling mengenal dan beradaptasi. Meski begitu, bagi Sora, masih ada rasa canggung setiap kali berada di dekat suaminya.
"Mbak, mau tomat hijaunya satu kilo saja," ucap seorang ibu pembeli ketika memasuki ruko tempat Restu menjual aneka sayur dan bahan masakan.
Kebetulan, hari ini Sora ikut membantu menjaga ruko bersama sang suami.
"Berapa?" tanya ibu itu.
"Enam belas ribu lima ratus, Bu," jawab Restu.
"Tumben ikut ke sini, Mbak? Biasanya cuma Mas Restu sama Yuli yang jaga," ujar si ibu. Yuli adalah karyawan Restu yang biasanya menjaga ruko.
"Iya, Bu. Yuli lagi izin sakit. Jadi saya bantu-bantu dulu," jawab Sora sopan.
"Ya iya, bener itu. Daripada di rumah cuma nganggur, mending bantu suami di sini. Jadi lebih bermanfaat," komentar ibu-ibu itu, membuat hati Sora agak tersinggung.
Sora hanya terdiam dan tersenyum tipis.
Ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan ucapan ibu tadi. Dengan sabar, ia tetap menebarkan senyum sambil merapikan rak sayur yang terlihat berantakan.
Tak lama, Restu kembali dari rumah setelah mengambil charger ponselnya. Pandangannya sempat jatuh pada Sora.
"Kamu boleh pulang kalau capek, Dek. Ayo, Mas antar," ucapnya singkat.
Sora menggeleng pelan. "Mmm... nggak usah, Mas. Nanti saja."
Restu hanya mengangguk lalu berjalan ke arah meja kasir.
Ya, empat bulan yang dingin.
Sora masih tidak tahu, apakah memang tabiat Restu yang dingin dan pendiam seperti ini, ataukah hanya terhadap dirinya saja suaminya bersikap begitu. Jujur, ia bahkan tidak terlalu mengenal Restu sebelum menikah. Hanya tahu wajah tanpa tahu nama.
Nyatanya, selama empat bulan pernikahan, rumah tangga mereka terasa hambar. Mereka memang menjalankan kewajiban masing-masing, bahkan berhubungan di ranjang selayaknya suami-istri lainnya, tapi semua hanya berjalan datar—tanpa kehangatan.
Menjelang pukul sebelas siang, Sora berniat pulang lebih dulu karena belum menyiapkan makan siang.
"Mas, Sora pamit pulang dulu. Mau masak buat makan siang," ucapnya pelan.
Restu hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan buku rekap di hadapannya. "Bawa saja motornya."
"Nanti Mas gimana? Aku naik ojek saja," jawab Sora.
"Ya sudah," sahut Restu singkat.
Sudah? Tidak ada niat membujuk sama sekali?
Sora hanya tersenyum tipis, lalu berjalan keluar ruko setelah menyalami tangan suaminya.
Dengan kresek berisi sayur di tangan, ia melangkah ke arah pangkalan ojek. Salah satu bapak ojek yang mengenalnya segera menyapa.
"Kok nggak diantar Mas Restu, Mbak Sora?" tanyanya ramah.
Sora terkekeh kecil, menutupi rasa perih di dadanya. "Hehe, iya Pak... lagi ada pembeli tadi." Hanya itu yang mampu ia katakan.
"Makasi ya, Pak," ucap Sora setelah motor berhenti di depan rumah. Ia menyerahkan uang lima belas ribu, lalu turun dari motor bebek itu.
"Sama-sama. Mari, Mbak Sora."
Sora hanya mengangguk, kemudian melangkah masuk ke rumah dengan perasaan yang sulit ia uraikan.
***
Sebuah sengatan halus menjalar ketika tangan Restu meremas dada Sora dari balik kaos tipis yang ia kenakan. Tubuhnya refleks menegang, apalagi ketika cubitan kecil kembali mendarat di sana. Sora tahu, kalau sudah begini, malam mereka tidak akan berakhir sebentar.
"Mmhh..." desahnya lolos, tak mampu ia tahan saat sentuhan itu kembali menguasai dirinya.
Tanpa banyak kata, Restu menarik lepas kaos dan bra yang Sora kenakan. Satu sisi tubuhnya digenggam, sementara sisi lain mendapat belaian hangat dari bibir suaminya.
"Mas mau kamu," ucap Restu dengan suara serak, membuat bulu kuduk Sora meremang.
Sora hanya bisa mengangguk. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Sejak awal ia didoktrin bahwa menolak suami adalah dosa. Padahal, ada kalanya ia ingin malamnya tenang tanpa intervensi siapa pun.
Restu menyingkirkan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya. Tubuh laki-laki itu kini tampak jelas di hadapannya. Sora masih saja merasa asing, meski ini bukan pertama kalinya.
Bibir Restu menyapu bibirnya, lalu keintiman itu berlanjut semakin dalam. Tubuh mereka menyatu, dan Sora tak kuasa menahan lenguhan yang pecah di antara rasa sakit dan nikmat yang berbaur jadi satu.
"Pelanhh, Masshh..." suaranya bergetar, setengah antara memohon dan pasrah.
ESTÁS LEYENDO
Tied By Desire
RomanceLapak ini merupakan kumpulan short story. Main topics: • Pregnant • Marriage life • Affair • And mature contains ⚠️Cerita ini mengandung adegan dewasa 21++ Jadi, para bocil dilarang keras mendekat. Dan buat kalian yang kurang nyaman bisa SKIP cerit...
