Selasa, 13 Agustus 2024
Ceyser berjalan dengan langkah tenang tanpa suara menyusuri lorong koridor yang sepi, tak ada siapapun yang sekedar berlalu-lalang dengan obrolannya. Tujuannya kini pergi ke ruang guru untuk mengambil buku suruhan Bu Rina yang kini sedang mengajar di kelasnya.
“Assalamualaikum,” ucap salam Ceyser dengan satu langkah memasuki pintu ruang guru. Di dalam terlihat banyak sekali Guru-guru yang tengah duduk dengan menghadap ke arah komputer yang berada di depannya. “Saya di suruh Bu Rina untuk mengambil buku yang tertinggal.”
Salah satu Guru yang duduk di paling ujung melihat ke arah Ceyser dengan senyuman manis. “Ambil saja, sudah tahu kan meja Bu Rina di mana.”
Ceyser menganggukkan kepalanya, dengan sopan ia membungkukkan setengah badannya berjalan melewati Guru-guru yang mungkin tidak peduli dengan kehadiran Ceyser.
Ia mengambil buku yang dibutuhkan lalu berjalan cepat untuk meninggalkan ruang Guru. Namun langkah cepat itu malah membawa kesialan baginya. “Aduh!” Seru Ceyser yang sudah terduduk di tanah kotor dengan buku yang sudah terjatuh.
“Eh maaf Gue gak sengaja.”
Ceyser mengangkat pelan kepalanya untuk melihat wajah orang yang sudah menabraknya atau lebih tepat dirinya sendiri yang menabrak orang itu. Namun betapa sempurna ketidaksengajaan ini menjadi malah menjadi sebuah kebahagiaan bagi Ceyser.
Senyuman terbit di bibirnya dengan indah. Jantungnya berdetak tak karuan dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya. Wajah Laki-laki dengan goresan sempurna, hidung mancung yang tajam, kulit putih yang cerah, dan rambut hitam yang berkilau membuat Laki-laki itu terlihat sangat sempurna dan memukau.
Uluran tangan berada tepat di wajahnya.
Tak ada respon apa pun yang di berikan Ceyser, ia hanya menatap lekat tangan di depannya sesekali bergilir pada wajah yang berada tepat di depannya.
“C … Ceyser,” panggil Laki-laki itu dengan suara serak dan bergema mampu membuat Ceyser tersadar dari lamunannya.
“Lo tau nama Gue?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, jari telunjuknya menunjuk name tag yang berada di sisi kiri baju seragamnya. “Gue liat dari name tag Lo.”
Senyuman manis yang terbit di bibirnya seketika memudar. Ia kira Laki-laki itu kenal dan sering memperhatikan nya, namun dugaannya salah.
Ceyser segera mengambil buku yang tergeletak di bawah dan langsung berdiri dari duduknya. Ia menepuk pelan rok yang terkena kotoran tanah yang baru saja ia duduki.
“Maaf tadi Gue gak liat ada Lo di depan,” ucap Ceyser yang mengaku salah atas perbuatannya. Namun dahi Ceyser mengerut penuh kebingungan.
Ia menatap Laki-laki di depannya dari atas hingga bawah mencoba mengenali apakah dirinya pernah melihat Laki-laki ini di sekolah.
“Lo murid pindahan ya?” Tanya Ceyser yang langsung diberi tawa kecil dari Laki-laki di depannya.
Laki-laki itu menepuk pucuk kepalanya dengan gemas. “Ternyata Lo kira Gue murid pindahan ya,” ucap Laki-laki yang malah membuat Ceyser semakin dilanda kebingungan.
Ia mencoba mengingat-ingat lagi wajah Laki-laki di depannya namun hasilnya nihil, ia memang tidak pernah bertemu dengan Laki-laki di depannya.
Melihat kebingungan di wajah Ceyser membuat Laki-laki itu tersenyum kecil dengan uluran tangan. “Sahril, anak PKL.”
Mendengar itu mata Ceyser membola seketika. Laki-laki itu baru saja bilang kalo dia anak PKL dan berarti umurnya jauh daripada dirinya. Segala umpatan ia berikan pada dirinya sendiri yang dengan lancang memakai kata ‘Lo’ dan ‘Gue’.
Ceyser tersenyum kecil mencoba menutupi rasa canggung dalam dirinya. Ia membalas uluran tangan Sahril. “Maaf Kak, udah lancang pake sebutan ‘Lo’ dan ‘Gue’ Sumpah demi apapun Aku gak tau Kakak itu Kakak PKL.”
Ceyser menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia melihat ke bawah mencoba untuk tidak menatap mata Syahril yang sejak tadi menatap dirinya. “A … Aku duluan ya Kak udah ditungguin di kelas,” ucapnya melepaskan genggaman tangan yang belum terlepas.
Kakinya berlari meninggalkannya Syahril yang menatap dirinya sambil tertawa kecil. “Aneh,” gumam pelan dengan senyuman kecil.
Sedangkan di lain tempat Ceyser berhenti tepat di depan pintu kelas yang tertutup, nafasnya tersengal-sengal tak karuan. “Capek gusti!” seru Ceyser sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
Sudut bibirnya terangkat menggambar senyuman kecil yang indah, ingatannya kembali pada wajah Laki-laki yang baru saja ia kenal.
Sahril, nama itu terus berputar di kepalanya membuat tarian yang terus menari-nari tanpa henti membuat dirinya sulit untuk melupakan wajah sempurna dan memukau Laki-laki itu. “Nama sama wajahnya sama-sama ganteng, kenapa dari dulu gak ada yang setampan Kak Sahril. Mungkin kalo ada—
“Karena kalo ada, Lo gak mungkin fokus nyelesain tanggung jawab Lo,” lanjut seseorang yang berada di ambang pintu dengan melanjutkan ucapan Ceyser yang belum selesai diucapkan. “Lo ditungguin Bu Rina gak muncul-muncul.”
Ceyser sontak mengalihkan pandangannya pada teman kelasnya. “Maaf ada kendala tadi sumpah,” ucap Ceyser dengan gugup.
Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan kembali, rasa gugup menggerogoti jantungnya.
“Sudah … Cepat masuk!” ucap tegas temannya.
Keduanya lalu berjalan memasuki kelas bersamaan. Suara riuh terdengar kencang menyoraki kedatangan dirinya.
Bu Rina duduk di mejanya dengan tatapan menatap Ceyser. “Darimana aja Kamu Ser, ini udah kepotong berapa menit buat nungguin kamu,” ucap Bu Rina dengan tegas, ia tidak suka dengan murid yang suka menyia-nyiakan waktu dan murid yang kurang bertanggung jawab seperti Ceyser.
Gadis itu hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar semua ocehan yang diberikan Bu Rina dengan Ikhlas. Namun kepalanya tidak benar-benar tertuju pada ocehan tetapi pada wajah yang kini akan selalu memenuhi kepalanya.
YOU ARE READING
Kakak PKL
Fanfiction"Kak mau jadi pacar aku gak?" ----- Ceyser Herlina, Gadis yang tak pernah mengenal cinta bahkan untuk merasakan sedikit cinta dari Laki-laki lain pun ia tidak pernah. Namun, kini kedatangan sang Kakak PKL membuat dirinya sedikit merasakan rasanya ci...
