PROLOG

19 0 0
                                        

Dibalik lensa kameranya, Sakha berdiri dengan tegak, matanya menatap tajam ke arah pemandangan indah di hadapannya. Matahari mulai tenggelam, memantulkan semburat jingga yang indah di permukaan danau. Ia tersenyum, menyesuaikan fokus di kameranya, dan dalam hitungan detik saja momen luar biasa itu terabadikan.

Kali ini senyumnya terlihat lebih lebar, ia merasa puas dengan hasil fotonya yang sempurna. Ini adalah salah satu hasil fotonya diantara ribuan hasil foto lainnya yang menakjubkan. Banyak orang-orang yang melihat hasil potretnya merasa kagum dan beberapa memintanya untuk menjadi fotografer dalam acara tertentu, tetapi sampai saat ini belum ada yang bisa membujuk Sakha untuk menerima tawaran tersebut.

Kecuali satu wanita yang ia temui pada kegiatan kemah anak-anak penghafal quran beberapa bulan lalu. Saat banyak tawaran yang ia tolak untuk menjadi fotgrafer pada momen potrait fotoshot, Sakha justru menawarkan dirinya pada wanita itu. Namun, dengan sangat tegas, wanita itulah yang justru menolak tawarannya.

"Saya tidak pernah mengizinkan siapapun untuk memotret diri saya, termasuk kamu! Lalu kamu malah meminta saya untuk menjadi model, sedang kita tidak saling mengenal?" kedua alis wanita itu tampak saling bertautan dan matanya menatap Sakha dengan tajam.

Sakha terdiam mendengar penuturan yang penuh dengan ketegasan itu. Rasanya cukup sulit untuk sekadar menelan salivanya.

"Jujur pada saya, sudah berapa banyak anda memotret saya di dalam kamera itu?" tanya wanita itu sambil mengembuskan nafas kasarnya.

Tak mau ketahuan, Sakha memasang wajah menantang sambil tersenyum sinis. "Haha, sepertinya kamu jangan terlalu kepedean deh. Mana mungkin saya memotret kamu!"

Wanita itu mendelikkan matanya malas. "Saya tidak butuh jawaban seperti itu dan saya tidak punya banyak waktu untuk berbicara dengan kamu. Silakan kamu hapus semua foto saya di dalam kamera itu, karena saya tidak mengizinkan kamu menyimpannya!" ucapnya sambil pergi meninggalkan Sakha seorang diri.

Sakha menatap kepergian wanita yang tidak dikenalinya itu semakin menjauh dan dirinya membeku untuk beberapa saat.

Ini adalah kali pertama ia ditolak, saat banyak orang yang menawarkan diri untuk menjadi modelnya.

"Emang udah paling bener yang jadi objek foto itu adalah alam, hewan, benda, dan hal apapun selain manusia. Manusia terlalu banyak berkomentar dan menolak dengan seenaknya tanpa mau mempertimbangan dulu," gumam Sakha sambil meninggalkan tempat itu.

Tempat itu, yang menjadi saksi pertemuannya dengan wanita tadi. Jujur saja, pertama kali lensa kameranya menangkap sosok wanita berjilbab hitam itu, matanya berkomunikasi pada hatinya untuk melihat lebih dalam betapa menariknya wanita itu.

Dan sampai saat ini, Sakha masih saja memikirkan wanita yang ia temui beberapa bulan lalu. Meski jutek dan terlihat galak, wanita itu tetap menarik menurutnya. Tak lama setelah itu, seseorang tiba-tiba menghampiri dan menepuk pundaknya.

"Kita pulang, Sakha. Ibu sudah menunggu di rumah untuk makan malam. Jangan sampai hobi kita ini membuat ibu marah lagi, " ucap seorang lelaki paruh baya yang sama-sama mengalungkan kameranya di leher seperti Sakha.

Sakha terkekeh pelan, "Haha, ibu sudah pasti marah, Ayah."

Sambil merangkul putranya yang semakin bertambah dewasa itu, sang ayah berbisik, "Setidaknya ayah tidak dimarahi sendirian, tapi berdua sama kamu."

Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke rumahnya sambil tertawa.

Sesampainya di rumah, Sakha justru malah melamun. Tadi, saat ia pergi ke danau, seolah-olah ia sedang bersama sang ayah; mereka tertawa bersama, saling memotret satu sama lain, belajar tentang hasil foto yang baik, dan dimarahi ibu bersama-sama. Namun, kali ini hanya ia yang dimarahi oleh sang ibu. Padahal, tawanya bersama sang ayah itu terasa begitu nyata, meskipun hanya halusinasi. Ia hanya sedang rindu pada sang ayah yang telah tiada satu tahun lalu.

"Ibu sudah bilang, jangan pulang terlalu malam, Nak," ucap sang ibu sambil datang membawa wadah berisi potongan buah pepaya, melon dan semangka untuk Sakha.

Sakha hanya bergeming, tak menanggapi sedikitpun perkataan ibunya. Tak lama setelah itu, ia menatap sang ibu sambil tersenyum dengan sangat hangat. "Sakha hanya kangen dimarahi ibu bareng ayah."

"Ibu hanya khawatir sama kamu, apalagi kamu nggak ngasih kabar pergi kemananya."

"Apa yang membuat ibu selalu mendukung ayah dengan kameranya? Padahal, keliatannya ayah sering sibuk mengedit hasil foto-fotonya dan mengabaikan ibu, mungkin," tanya Sakha tiba-tiba.

Ibunya tampak berpikir sejenak, kemudian berkata, "Dia tidak hanya sedang sibuk dengan semua hasil foto-fotonya. Dia sedang menghidupkan foto-foto itu dengan mengatur warna dan cahayanya, sehingga siapapun yang melihatnya akan tersentuh emosinya. Sebab di dalamnya ada kisah yang abadi, meski tidak akan pernah terulang kembali."

Kata-kata ibunya sama persis seperti apa yang ayahnya katakan dulu. Dan itulah yang membuatnya selalu bersemangat untuk memotret momen apapun yang pantas untuk diabadikan menurutnya, termasuk mengabadikan wanita itu. Wanita yang dengan tegas meminta Sakha untuk menghapus semua foto-fotonya. Tentu saja Sakha tidak akan pernah menghapusnya.

"Sebab dengan foto ini, aku akan mencarimu, memperjuangkanmu, dan menciptakan lebih banyak kisah yang abadi bersama."

Biarlah Sakha tak tahu nama wanita itu, sebab ia sudah mengabadikannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kata  dan PotretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang